Gunungan sampah di Indonesia tidak muncul dalam semalam. Sebaliknya, ia lahir dari kebiasaan kecil yang terus dianggap sepele. Dari plastik kopi pagi, bungkus makanan cepat saji, hingga kantong belanja yang dipakai lima menit lalu dibuang selamanya.
Tabooo.id: Talk – Ironisnya, hampir semua orang mengaku peduli lingkungan. Namun ketika sampah mulai menggunung di TPA, sebagian besar justru merasa itu bukan salah mereka.
Inilah krisis paling absurd di Indonesia hari ini: semua menghasilkan sampah, tetapi hampir tidak ada yang merasa memiliki masalahnya.
Karena itu, fenomena ini bukan lagi sekadar isu kebersihan kota. Lebih jauh, ia sudah berubah menjadi potret kegagalan budaya, sistem, dan cara manusia modern memandang konsumsi.
Indonesia Sedang Duduk di Atas Bom Waktu Sampah
Berdasarkan data nasional, Indonesia memproduksi puluhan juta ton sampah setiap tahun. Rata-rata satu orang menyumbang sekitar 0,7 kilogram sampah per hari. Sementara itu, sebagian besar berasal dari sisa makanan dan plastik sekali pakai. Di sisi lain, banyak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di kota besar sudah berada di titik kritis dan mengalami overcapacity.
Masalahnya bukan karena manusia tidak tahu bahwa sampah berbahaya. Sebaliknya, masalah muncul karena manusia terlalu pandai memindahkan rasa bersalah.
Begitu kantong sampah diangkat petugas kebersihan, banyak orang langsung merasa urusannya selesai. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Sampah Tidak Pernah Hilang, Ia Hanya Pindah Tempat
Sampah tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah lokasi. Dari rumah menuju TPS. Dari TPS menuju TPA. Setelah itu, sebagian mengalir ke sungai, laut, udara, bahkan kembali ke tubuh manusia dalam bentuk mikroplastik.
Karena itulah, sampah modern bekerja seperti dosa sosial: tidak terlihat, tetapi efeknya terus hidup.
Dan mungkin, itu sebabnya krisis sampah terasa seperti film psikologis yang tidak pernah benar-benar selesai. Kita melihat ancamannya di depan mata, tetapi tetap hidup seolah ending buruk itu tidak akan datang kepada kita sendiri.
“Hanya Satu Plastik” Adalah Kalimat Paling Berbahaya
Selain itu, ada satu pola psikologis yang membuat krisis ini semakin parah, yaitu difusi tanggung jawab. Ketika jutaan orang melakukan kesalahan kecil secara bersamaan, setiap individu merasa kontribusinya terlalu kecil untuk dianggap penting.
“Hanya satu plastik, satu sedotan dan sekali buang sembarangan.”
Sekilas, kalimat itu terdengar ringan. Namun ketika dikalikan dengan ratusan juta manusia, dampaknya berubah menjadi bencana ekologis nasional.
Krisis Sampah dan Film yang Membiarkan Penonton Gelisah
Perasaan itu terasa mirip dengan atmosfer dalam Unseen, Unannounced. Film tersebut tidak sibuk menjelaskan semuanya kepada penonton. Sebaliknya, ia membiarkan rasa tidak nyaman tumbuh perlahan, lalu memaksa orang berpikir sendiri tentang apa yang sebenarnya sedang mereka lihat.
Tidak ada jawaban yang benar-benar tuntas.
Tidak ada ending yang memberi rasa aman.
Justru di situlah letak terornya.
Krisis sampah di Indonesia bekerja dengan pola yang sama. Kita tahu ada sesuatu yang salah, tetapi ancamannya terasa jauh dan abstrak. Akibatnya, gunungan sampah hanya terlihat seperti latar belakang kota. Padahal di baliknya ada gas metana, pencemaran air, mikroplastik, dan sistem yang perlahan runtuh.
Namun karena kehancurannya berjalan pelan, manusia akhirnya terbiasa melihatnya.
Sama seperti penonton film yang terus mencoba menebak makna di balik adegan-adegannya, masyarakat juga sedang hidup dalam situasi di mana mereka sadar ada krisis besar, tetapi tetap menunda kesadaran penuh terhadapnya.
Dan mungkin bagian paling menyeramkan adalah ini: kita belum tahu seperti apa ending dari krisis sampah jika pola hidup manusia tidak berubah.
Semua Saling Menyalahkan, Tapi Sampah Terus Menang
Di sisi lain, masyarakat juga dibentuk oleh sistem konsumsi yang memang dirancang menghasilkan sampah. Produk murah hadir dengan lapisan kemasan berlebihan. Industri menjual kepraktisan, lalu menyerahkan limbahnya kepada publik dan pemerintah.
Akibatnya, semua pihak mulai saling menyalahkan.
Konsumen menyalahkan produsen.
Produsen menyalahkan pasar.
Pemerintah menyalahkan keterbatasan infrastruktur.
Sementara itu, sampah terus bertambah setiap hari.
Kita Lebih Rajin Memilah Konten daripada Memilah Sampah
Padahal akar masalahnya jauh lebih dalam daripada sekadar kurangnya tempat sampah atau minimnya petugas kebersihan. Indonesia hidup dalam budaya “pakai lalu buang.” Kita diajarkan membeli, menggunakan, lalu melupakan.
Sayangnya, hampir tidak ada pendidikan serius tentang bagaimana sampah bekerja setelah meninggalkan tangan manusia.
Akibatnya, banyak orang merasa sudah cukup peduli lingkungan hanya karena membuang sampah pada tempatnya. Padahal mencampur sampah organik dan anorganik justru memperumit proses daur ulang dan mempercepat ledakan gas metana di TPA.
Hari ini, kita hidup di era ketika orang lebih rajin memilah konten media sosial daripada memilah sampah dapur sendiri.
Karena itu, gunungan sampah tumbuh lebih cepat daripada kesadaran publik.
Teknologi Tidak Akan Menyelamatkan Mentalitas yang Rusak
Sebenarnya, solusi masalah sampah tidak serumit yang dibayangkan. Indonesia sudah memiliki regulasi seperti UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Selain itu, konsep ekonomi sirkular juga terus didorong, termasuk skema Extended Producer Responsibility (EPR) yang mewajibkan produsen ikut bertanggung jawab terhadap kemasan produk mereka. Teknologi waste-to-energy pun mulai dipromosikan untuk mengurangi tekanan TPA.
Namun demikian, semua teknologi itu tidak akan cukup jika mentalitas manusianya tidak berubah.
Krisis Terbesar Kita Bukan Sampah, Tapi Cara Berpikir
Pada akhirnya, gunungan sampah bukan cuma tumpukan plastik dan sisa makanan. Lebih dari itu, ia adalah monumen dari gaya hidup yang merasa bumi bisa terus menelan semua konsekuensi manusia tanpa batas.
Dan mungkin, krisis terbesar kita bukan pada banyaknya sampah.
Melainkan pada banyaknya orang yang masih percaya bahwa sampahnya adalah urusan orang lain.@eko





