Tabooo.id: Deep – Bali masih berdiri sebagai simbol wisata dunia. Namun, di balik citra itu, realitas yang muncul justru semakin sulit diabaikan.
Bau menyengat, tumpukan plastik, hingga selokan yang kehilangan fungsi kini hadir di berbagai titik wisata utama. Kondisi ini perlahan menggeser makna “Pulau Dewata” menjadi pertanyaan yang lebih serius.
Lalu, tanpa disadari, satu pertanyaan terus mengganggu kenapa kita membiarkan semua ini terjadi begitu lama?
Ruang Wisata yang Tidak Lagi Steril
Di Denpasar dan Badung, sampah sudah memasuki ruang publik yang setiap hari dilalui warga dan wisatawan. Tidak hanya muncul di satu titik, tetapi menyebar di banyak area sekaligus.
Kawasan Kuta hingga Canggu memperlihatkan pola yang sama. Sampah menumpuk di trotoar, mengisi lahan kosong, dan ikut mengalir ke sungai kecil. Di beberapa lokasi, selokan bahkan berubah fungsi menjadi jalur limbah.
Hujan yang turun kemudian memperburuk keadaan. Air tidak lagi mengalir lancar, melainkan meluap dan menciptakan genangan di sejumlah titik.
Warga Mulai Kehilangan Sensitivitas
Made (42), warga Denpasar, menggambarkan kondisi ini dengan nada lelah.
“Sekarang kami tidak lagi kaget. Kami hanya menjalani saja. Bau itu sudah jadi bagian dari rutinitas,” ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan perubahan yang lebih dalam. Bukan lagi sekadar masalah lingkungan, tetapi juga pergeseran cara masyarakat merespons masalah tersebut.
Tekanan 1.500 Ton Sampah Setiap Hari
Setiap hari, Denpasar menghasilkan sekitar 800 hingga 1.000 ton sampah. Di sisi lain, Badung menyumbang sekitar 430 hingga 500 ton tambahan.
Jika digabungkan, sistem harus menangani sekitar 1.500 ton sampah yang masuk ke TPA Suwung setiap hari.
Namun kapasitas TPA tersebut sudah tidak lagi seimbang dengan volume yang masuk. Situasi ini semakin berat setelah kebakaran akibat gas metan pada akhir 2023 yang memperburuk kondisi operasional di area seluas 32 hektare itu.
Regulasi Bergerak, Lapangan Berjalan Pelan
Pemerintah Provinsi Bali telah menerapkan Perda Nomor 5 Tahun 2011 dan Pergub Nomor 47 Tahun 2019 untuk mengatur pengelolaan sampah berbasis sumber.
Mulai 1 April 2026, pemerintah juga memperketat kebijakan dengan melarang pembuangan sampah organik ke TPA Suwung.
Di berbagai desa, pembangunan TPS3R dan TPST terus dilakukan untuk memperkuat pengolahan dari hulu.
Meski begitu, petugas di lapangan melihat tantangan yang berbeda.
Masalah utama muncul dari rumah tangga. Sampah masih datang dalam kondisi tercampur.
Ketika Sistem Tidak Menjawab Kebutuhan
Saat sistem tidak mampu mengimbangi beban, warga mengambil jalan sendiri.
Sebagian memilih membuang sampah ke sungai karena dianggap lebih cepat. Sebagian lain memilih membakarnya di sekitar rumah.
Akibatnya, asap mulai muncul di sejumlah permukiman. Bahkan, api dari pembakaran sampah sesekali merembet ke lahan kosong di sekitarnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah sudah melampaui isu kebersihan. Kini, ia berubah menjadi krisis lingkungan yang berlangsung setiap hari.
Ini Bukan Sekadar Sampah
Jika ditarik lebih jauh, masalah ini tidak hanya berkaitan dengan volume sampah.
Sumber utamanya justru terletak pada sistem yang tidak sepenuhnya hidup di level rumah tangga. Regulasi berjalan di atas, tetapi perubahan perilaku tidak bergerak dengan kecepatan yang sama di bawah.
Dengan kata lain, sistem formal bekerja, tetapi kebiasaan sosial tidak ikut menyesuaikan.
Dulu orang malu kalau lingkungannya kotor. Sekarang, rasa malu itu perlahan hilang.
Dampaknya ke Kamu
Dampak persoalan ini tidak berhenti di Bali. Ketika selokan tersumbat, banjir bisa terjadi di banyak wilayah tanpa memilih lokasi.
Selain itu, ketika sungai tercemar, kualitas udara dan lingkungan ikut menurun secara perlahan. Pada akhirnya, dampaknya menyentuh lebih banyak orang dari yang terlihat di permukaan.
Meski kamu tidak tinggal di Bali, kamu tetap berada dalam sistem lingkungan yang sama. Karena itu, efeknya tetap bisa kembali ke kehidupan sehari-hari.
Analisis Tabooo
Masalah sampah di Bali tidak berdiri sendiri. Sebaliknya, pola yang sama terus berulang di banyak tempat.
Regulasi terus diperkuat, sementara perilaku masyarakat bergerak lebih lambat. Ketika jarak ini tidak tertutup, sistem akhirnya kehilangan efektivitasnya.
Akibatnya, kebiasaan lama kembali muncul. Warga membuang, membakar, lalu menganggapnya selesai.
Yang sebenarnya perlu dipertanyakan bukan hanya sistemnya, tetapi juga normalisasi terhadap kondisi itu sendiri.
Penutup
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling relevan bukan lagi soal tumpukan sampah yang terus bertambah.
Melainkan sesuatu yang lebih sederhana, tetapi jauh lebih sulit dijawab, mengapa kita terus melihat masalah yang sama, tetapi memilih untuk tidak benar-benar mengubahnya? @dimas





