Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna DPR RI. Di tengah harga kebutuhan yang belum terasa ringan, ucapan itu langsung memantik satu pertanyaan: siapa sebenarnya yang hari ini paling tertekan?
Tabooo.id: Jakarta – Presiden Prabowo Subianto memberi pesan blak-blakan kepada buruh saat berbicara di Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta. Pesannya sederhana, tapi bisa memicu perdebatan panjang: buruh jangan terus menuntut pengusaha.
Di tengah ekonomi yang masih terasa berat, ucapan itu langsung memunculkan pertanyaan publik. Ketika biaya hidup makin sempit, siapa sebenarnya yang paling tertekan?
Prabowo: Pengusaha Juga Kerja Keras
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan pemerintah ingin menjaga keseimbangan antara perlindungan pekerja dan keberlangsungan dunia usaha. Menurutnya, negara sudah memberi berbagai perlindungan sosial agar beban pengusaha tidak semakin berat.
“Kita banyak memberi perlindungan sosial supaya beban pengusaha juga tidak terlalu berat,” kata Prabowo di Rapat Paripurna DPR RI, Jakarta.
Prabowo lalu mengingatkan buruh agar tidak hanya fokus pada tuntutan kepada pengusaha.
Ucapan itu muncul saat ekonomi belum benar-benar pulih. Harga kebutuhan masih tinggi. Banyak keluarga masih menekan pengeluaran, sementara pelaku usaha juga menghadapi biaya produksi yang naik dan ketidakpastian global.
“Jangan Pengusaha Diperas Terus!”
Bagian pidato paling keras muncul ketika Prabowo menyoroti birokrasi. Ia meminta aparat tidak mempersulit pengusaha lewat izin yang lambat dan prosedur berbelit.
“Jangan pengusaha diperas terus! Jangan pengusaha diganggu! Kalau Malaysia bisa bikin izin dalam 2 minggu, kenapa kita izinnya 2 tahun? Memalukan!” kata Prabowo.
Prabowo menilai sistem perizinan di Indonesia masih terlalu lambat. Banyak pengusaha selama ini mengeluhkan proses panjang, aturan yang berubah-ubah, hingga biaya yang tidak selalu jelas.
Masalahnya, kritik soal birokrasi sebenarnya bukan hal baru. Hampir setiap pemerintahan menjanjikan reformasi. Tapi publik terus mendengar keluhan yang sama.
Kalau semua sudah sadar masalahnya, kenapa hasilnya terasa jalan di tempat?
Sindiran untuk Birokrat Senior
Prabowo juga menyentil birokrat yang terlalu nyaman dengan sistem lama. Menurutnya, pejabat politik datang dan pergi, sementara birokrat tetap bertahan selama bertahun-tahun.
“Waspada kalau birokrat-birokrat itu, karena dia itu pengalamannya lama. Kau masuk keluar tiap 5 tahun,” ujar Prabowo.
Ia bahkan menggambarkan kebiasaan birokrasi dengan nada bercanda, tapi tetap terasa menyentil.
“Ciri khas birokrat, dia akan minta tanda tangan waktu jam 17.30 sore, kamu sudah capek,” katanya.
Pidato ini kembali membuka debat lama: bagaimana negara menjaga keseimbangan antara kepentingan buruh dan pengusaha?
Ketika pemerintah meminta buruh menahan tuntutan, publik juga punya pertanyaan lain. Apakah perlindungan upah, lapangan kerja, dan biaya hidup sudah benar-benar terasa?
Karena di negeri ini, buruh sering diminta sabar. Tapi harga kebutuhan jarang ikut sabar. @jeje





