Melampaui Ketabuan, mengapa negeri ini makin takut pada kejujuran, kritik, dan suara berbeda di tengah demokrasi yang terus diuji?
Tabooo.id – Mei selalu datang membawa suasana ganjil. Bangsa ini ramai berbicara tentang kebangkitan nasional, demokrasi, dan masa depan Indonesia Emas. Namun pada saat yang sama, ruang publik justru terasa makin sempit. Banyak orang mulai berhitung sebelum bicara. Akademisi memilih aman. Birokrat menahan kritik. Warga perlahan menyensor pikirannya sendiri.
Ironisnya, banyak pihak memakai alasan stabilitas untuk membungkus keadaan itu.
Padahal sejarah Indonesia lahir dari keberanian melawan ketakutan. Reformasi tumbuh dari suara yang menolak bungkam. Demokrasi hidup karena warga berani mengoreksi kekuasaan. Kemerdekaan pun hadir lewat perlawanan, bukan budaya diam.
Kini situasinya terasa berbeda. Banyak orang menganggap kritik sebagai ancaman. Sebagian pihak melihat pertanyaan sebagai gangguan. Penguasa bahkan kerap menafsirkan perbedaan pendapat sebagai tindakan melawan negara.
Di titik itulah masalah besar mulai tumbuh.
Ketika Kritik Mulai Dianggap Berbahaya
Majalah internasional The Economist sempat menulis bahwa kepemimpinan nasional sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi Indonesia. Publik langsung gaduh. Banyak orang tersinggung. Sebagian lainnya memilih diam.
Namun kegaduhan itu sebenarnya bukan soal kritik asing semata. Publik terkejut karena ada pihak yang berani mengucapkan sesuatu yang selama ini orang hindari.
Semua orang sebenarnya mengetahui ketimpangan sosial terus melebar. Kemiskinan berulang dari masa ke masa. Reformasi birokrasi berjalan panjang, tetapi pelayanan publik tetap lamban. Pemerintah terus meluncurkan program besar, sementara evaluasi jujur jarang muncul ke permukaan.
Pemerintah memang terlihat sibuk bergerak. Akan tetapi, banyak kebijakan hanya menyentuh permukaan masalah.
Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, hingga Sekolah Rakyat memang terdengar ambisius. Sayangnya, banyak program belum menyentuh akar persoalan. Tata kelola lemah, evaluasi tidak berjalan maksimal, dan konflik kepentingan terus muncul di belakang kebijakan.
Akibatnya, negara lebih sering menciptakan penyelesaian sementara daripada solusi jangka panjang.
Demokrasi Kehilangan Ruang Bernapas
Masalah terbesar sebenarnya bukan terletak pada satu program atau satu pemerintahan. Persoalan utama muncul ketika banyak pihak mulai memusuhi kritik.
Ruang diskusi publik perlahan berubah. Banyak orang mencurigai warga yang bertanya. Sebagian kelompok menuduh suara berbeda sebagai ancaman stabilitas. Penguasa juga kerap memperlakukan kritik seperti serangan pribadi.
Situasi seperti itu membuat demokrasi kehilangan napasnya.
Demokrasi tidak hidup hanya lewat pemilu lima tahunan. Demokrasi membutuhkan ruang debat, keberanian berpikir, dan kebebasan menyampaikan pendapat. Ketika masyarakat takut bicara, negara kehilangan kemampuan belajar dari kesalahan.
Dampaknya jauh lebih serius daripada sekadar kegaduhan politik.
Bangsa yang menolak kritik biasanya terjebak mengulang kesalahan yang sama. Program terus berganti nama, tetapi masalah tetap bertahan. Pemerintah terlihat aktif bekerja, namun sistem tidak benar-benar berubah.
Pada akhirnya, masyarakat mulai terbiasa hidup dalam kepura-puraan kolektif. Semua tampak baik-baik saja selama publik tidak membahas masalah secara terbuka.
Budaya Diam yang Pelan-Pelan Membesar
Ketabuan kini tidak hanya muncul di dunia politik. Banyak orang takut membahas agama secara jujur. Sebagian warga enggan membicarakan identitas dan seksualitas. Kritik terhadap aparat sering memunculkan kecemasan. Bahkan diskusi tentang kemiskinan kadang berhenti pada angka statistik tanpa melihat manusia di baliknya.
Akibatnya, publik hidup dalam situasi paradoks. Media sosial terasa ramai setiap hari, tetapi kejujuran justru makin sulit muncul.
Banyak orang bebas berbicara tentang hal ringan, tetapi takut menyentuh persoalan yang benar-benar penting.
Padahal negara yang sehat membutuhkan warga yang berani berpikir mandiri. Pemerintah yang kuat juga tidak lahir dari pujian tanpa kritik. Negara berkembang ketika pemimpinnya mau mendengar kenyataan, termasuk kenyataan pahit.
Karena itu, melampaui ketabuan bukan tindakan radikal. Langkah itu justru menjadi syarat agar bangsa ini tetap waras.
Keberanian untuk Jujur
Indonesia sering berbicara tentang visi besar menuju 2045. Namun visi tidak akan berarti banyak jika bangsa ini terus takut menghadapi kenyataan.
Negara yang matang bukan negara tanpa kesalahan. Negara yang matang berani mengakui kekurangan lalu memperbaikinya secara terbuka.
Hal yang sama berlaku bagi masyarakat. Publik yang sehat bukan publik yang selalu setuju dengan penguasa. Masyarakat yang sehat tetap mampu bertanya, mengkritik, dan menjaga nurani bersama.
Sejarah menunjukkan satu kenyataan penting bangsa tidak selalu runtuh karena ancaman dari luar. Kadang sebuah negara melemah karena terlalu lama memelihara ketakutan di dalam dirinya sendiri.
Dan ketika semua orang memilih diam, ketabuan akhirnya berubah menjadi penguasa paling berbahaya.
“Negara yang takut pada kritik biasanya mulai kehilangan kemampuan membedakan loyalitas dan kejujuran.” @dimas





