Dulu, kelas menengah identik dengan hidup yang “aman”. Punya kerja tetap. Bisa cicil rumah. Nongkrong sesekali tanpa harus cek saldo dulu. Liburan setahun sekali masih terasa realistis. Sekarang?
Tabooo.id: Sadar gak kalau generasi sekarang sedang hidup dalam fenomena yang disebut lipstick effect?
Fenomena ini muncul ketika orang tidak lagi mampu membeli kemewahan besar, lalu mulai mencari kebahagiaan kecil yang masih bisa dijangkau.
Karena di tengah hidup yang makin mahal, self reward kecil terasa seperti cara paling murah untuk menjaga kewarasan.
Dan generasi hari ini hidup di era yang aneh.
Beli rumah terasa mustahil.
Kerja stabil makin langka.
Tabungan sering kalah cepat dengan biaya hidup.
Akhirnya, banyak orang berhenti mengejar hidup ideal dan mulai fokus bertahan sampai akhir bulan.
Mereka tidak membeli lip tint karena merasa kaya.
Mereka membeli sesuatu kecil karena hidup terlalu sering terasa kosong.
Produktif di Luar, Kelelahan di Dalam
Hidup saat ini seperti survival mode berkedok produktif.
Gaji masuk, lalu langsung pecah jadi tagihan. Harga makan naik. Biaya hidup naik. Tapi anehnya, checkout skincare tetap jalan. Matcha tetap dibeli. Coffee shop tetap penuh.
Lalu muncul komentar klasik:
“Katanya susah, kok masih nongkrong?”
Masalahnya mungkin bukan masyarakat yang terlalu konsumtif.
Mungkin masyarakat memang sedang terlalu lelah.
Kelas Menengah atau Kelas Bertahan Hidup?
Ini pertanyaan yang mulai terasa relevan:
Apakah kelas menengah Indonesia masih benar-benar ada?
Karena banyak orang hari ini terlihat “baik-baik saja” di media sosial, tapi perlahan hidup mereka dari payday ke payday.
Mereka kerja full time.
Punya laptop.
Akses internet.
Punya lifestyle urban.
Tapi satu keadaan darurat saja bisa menghancurkan stabilitas finansial mereka.
Ironisnya, kelas menengah sekarang justru sering tidak cukup miskin untuk dibantu, tapi juga tidak cukup kaya untuk merasa aman.
Mereka hidup di zona abu-abu:
terlihat stabil, padahal rapuh.
Ketika Masa Depan Terasa Terlalu Mahal
Fenomena lain mulai muncul: doom spending.
Belanja impulsif karena masa depan terasa terlalu suram untuk direncanakan.
Kalimat seperti:
“Rumah aja nggak kebeli, yaudah nikmatin kopi dulu.”
atau
“Hidup udah capek, masa nggak boleh checkout satu barang?”
pelan-pelan berubah jadi budaya.
Bukan karena generasi sekarang malas menabung.
Tapi karena banyak yang mulai kehilangan hubungan emosional dengan masa depan.
Kalau kerja keras saja belum tentu cukup untuk hidup aman, orang akhirnya mencari bahagia dalam bentuk paling kecil dan paling cepat.
Mungkin Kita Tidak Boros. Kita Cuma Capek
Masyarakat sering menyalahkan generasi muda karena dianggap terlalu konsumtif.
Padahal realitanya lebih kompleks.
Orang membeli hal kecil bukan selalu karena ingin pamer.
Kadang mereka cuma ingin merasa hidupnya masih punya sedikit rasa senang di tengah tekanan yang tidak berhenti datang.
Dan mungkin, satire paling menyakitkan hari ini adalah:
Generasi sekarang tidak lagi belanja untuk terlihat kaya.
Mereka belanja supaya tidak merasa hidupnya sepenuhnya hancur.
Lalu menurutmu, kelas menengah Indonesia masih benar-benar ada?
Atau sekarang semuanya cuma sedang berusaha terlihat baik-baik saja? @waras





