Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Zaman Survival Mode, Kelas Menengah Indonesia Masih Ada?

by Waras
Mei 20, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Dulu, kelas menengah identik dengan hidup yang “aman”. Punya kerja tetap. Bisa cicil rumah. Nongkrong sesekali tanpa harus cek saldo dulu. Liburan setahun sekali masih terasa realistis. Sekarang?

Tabooo.id: Sadar gak kalau generasi sekarang sedang hidup dalam fenomena yang disebut lipstick effect?

Fenomena ini muncul ketika orang tidak lagi mampu membeli kemewahan besar, lalu mulai mencari kebahagiaan kecil yang masih bisa dijangkau.

Karena di tengah hidup yang makin mahal, self reward kecil terasa seperti cara paling murah untuk menjaga kewarasan.

Dan generasi hari ini hidup di era yang aneh.

Beli rumah terasa mustahil.
Kerja stabil makin langka.
Tabungan sering kalah cepat dengan biaya hidup.

Ini Belum Selesai

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

Suap HGB Terbongkar, Sistem Pertanahan Jadi Sorotan

Akhirnya, banyak orang berhenti mengejar hidup ideal dan mulai fokus bertahan sampai akhir bulan.

Mereka tidak membeli lip tint karena merasa kaya.

Mereka membeli sesuatu kecil karena hidup terlalu sering terasa kosong.

Produktif di Luar, Kelelahan di Dalam

Hidup saat ini seperti survival mode berkedok produktif.

Gaji masuk, lalu langsung pecah jadi tagihan. Harga makan naik. Biaya hidup naik. Tapi anehnya, checkout skincare tetap jalan. Matcha tetap dibeli. Coffee shop tetap penuh.

Lalu muncul komentar klasik:
“Katanya susah, kok masih nongkrong?”

Masalahnya mungkin bukan masyarakat yang terlalu konsumtif.

Mungkin masyarakat memang sedang terlalu lelah.

Karena setelah hari panjang yang menguras tenaga dan pikiran, manusia tetap mencari cara untuk menghadiahi dirinya sendiri—walau cuma lewat kopi dingin dan paket diskon tengah malam.

Kelas Menengah atau Kelas Bertahan Hidup?

Ini pertanyaan yang mulai terasa relevan:

Apakah kelas menengah Indonesia masih benar-benar ada?

Karena banyak orang hari ini terlihat “baik-baik saja” di media sosial, tapi perlahan hidup mereka dari payday ke payday.

Mereka kerja full time.
Punya laptop.
Akses internet.
Punya lifestyle urban.

Tapi satu keadaan darurat saja bisa menghancurkan stabilitas finansial mereka.

Ironisnya, kelas menengah sekarang justru sering tidak cukup miskin untuk dibantu, tapi juga tidak cukup kaya untuk merasa aman.

Mereka hidup di zona abu-abu:
terlihat stabil, padahal rapuh.

Ketika Masa Depan Terasa Terlalu Mahal

Fenomena lain mulai muncul: doom spending.

Belanja impulsif karena masa depan terasa terlalu suram untuk direncanakan.

Kalimat seperti:
“Rumah aja nggak kebeli, yaudah nikmatin kopi dulu.”
atau
“Hidup udah capek, masa nggak boleh checkout satu barang?”

pelan-pelan berubah jadi budaya.

Bukan karena generasi sekarang malas menabung.

Tapi karena banyak yang mulai kehilangan hubungan emosional dengan masa depan.

Kalau kerja keras saja belum tentu cukup untuk hidup aman, orang akhirnya mencari bahagia dalam bentuk paling kecil dan paling cepat.

Mungkin Kita Tidak Boros. Kita Cuma Capek

Masyarakat sering menyalahkan generasi muda karena dianggap terlalu konsumtif.

Padahal realitanya lebih kompleks.

Orang membeli hal kecil bukan selalu karena ingin pamer.

Kadang mereka cuma ingin merasa hidupnya masih punya sedikit rasa senang di tengah tekanan yang tidak berhenti datang.

Dan mungkin, satire paling menyakitkan hari ini adalah:

Generasi sekarang tidak lagi belanja untuk terlihat kaya.

Mereka belanja supaya tidak merasa hidupnya sepenuhnya hancur.

Lalu menurutmu, kelas menengah Indonesia masih benar-benar ada?
Atau sekarang semuanya cuma sedang berusaha terlihat baik-baik saja? @waras

Tags: budaya konsumtifdoom spendingkesehatan mental gen zlipstick effectTekanan Ekonomi

Kamu Melewatkan Ini

Otak: “Gue Capek.” Kita: “Scroll Lagi Aja.”

Otak: “Gue Capek.” Kita: “Scroll Lagi Aja.”

by Waras
Agustus 14, 2026

Kita kerap mengira sedang memberi otak waktu untuk berhenti dari hiruk-pikuk kesibukan harian. Padahal, sepanjang hari perhatian terus berpindah dari...

Rolling Door PGS Turun, Pekerjaan Ratusan Orang Ikut Hilang

Rolling Door PGS Turun, Pekerjaan Ratusan Orang Ikut Hilang

by Waras
Agustus 11, 2026

Manekin masuk kardus. Etalase dibongkar. Rolling door turun satu per satu. Namun, yang paling sulit dikemas bukan barang dagangan. Pekerjaan...

Sewa Kios Mencekik, Pedagang PGS Angkat Kaki

Sewa Kios Mencekik, Pedagang PGS Angkat Kaki

by Waras
Agustus 10, 2026

Kenaikan sewa kios membuat pedagang PGS Solo kembali menghitung untung-rugi. Saat omzet tak mampu mengejar biaya ruang, memilih pergi menjadi...

Next Post
Pembubaran Nobar Pesta Babi: Pola Lama Membungkam Kritik?

Pembubaran Nobar Pesta Babi: Pola Lama Membungkam Kritik?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id