Minggu, Juli 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Malioboro Tak Pernah Tidur, Siapa yang Masih Harus Bertahan Hidup?

by teguh
Mei 21, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Kalimat dari intelektual Indonesia, Soedjatmoko, terasa seperti gema yang pelan-pelan hidup di trotoar Malioboro ketika malam mulai menggulung keramaian. Sebab di kota yang dipoles sebagai simbol budaya dan romantisme itu, ada orang-orang yang tetap berjalan saat sebagian besar dunia memilih pulang.

Tabooo.id: – Malioboro memang tak pernah benar-benar tidur. Tetapi pertanyaannya siapa yang masih harus tetap terjaga agar bisa bertahan hidup?

Di bawah cahaya lampu jalan yang artistik, di antara deretan toko yang mulai meredup dan bangku-bangku besi yang menjadi tempat singgah sementara, Malioboro malam terlihat tenang. Wisatawan mulai berkurang. Suara kendaraan menurun. Kota tampak seperti sedang menarik napas panjang.

Namun justru setelah keramaian surut, wajah paling jujur sebuah kota perlahan muncul.

Seorang lelaki berjalan memanggul karung besar di punggungnya. Langkahnya pelan. Nyaris tanpa suara. Nyaris tanpa perhatian.

Di saat sebagian orang datang ke Malioboro untuk menghabiskan uang, sebagian lain datang untuk mengumpulkan sisa-sisa ekonomi kota.

Ini Belum Selesai

Senjata atau Perut Rakyat? Dilema Negara Anggaran Pertahanan Masuk Meja Efisiensi

Kabinet Bayangan: Saat Rakyat Mengawasi Kekuasaan

Bukan untuk menikmati malam. Tapi untuk menyambung hidup besok pagi.

Malioboro: Simbol Romantisme atau Kontras Sosial?

Pemerintah Kota Yogyakarta selama beberapa tahun terakhir terus mempercantik kawasan Malioboro. Jalur pedestrian dibangun lebih nyaman, kursi-kursi publik dipasang, tata lampu diperindah, dan wajah kawasan wisata diperkuat untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Langkah itu memang berhasil menciptakan ruang kota yang lebih estetik dan ramah wisata. Tetapi di balik visual yang semakin Instagramable, ada pertanyaan yang diam-diam menggantung:

Apakah pembangunan ikut menyentuh orang-orang yang hidup di bawah bayangan industri wisata itu sendiri?

Sebab kota wisata sering kali punya paradoks yang tidak nyaman untuk dibicarakan. Ia tampak kaya Tetapi tidak semua warganya ikut merasa kaya.

Ia tampak hidup Tetapi sebagian orang hanya bertahan di pinggir kehidupannya.

Malioboro adalah etalase ekonomi Yogyakarta. Tempat uang bergerak cepat, wisata tumbuh, dan budaya dijual sebagai pengalaman. Tetapi seperti banyak kota wisata lain, ruang yang indah tidak otomatis menciptakan hidup yang setara.

Gemerlap kota kadang hanya bekerja baik untuk yang mampu membeli pengalaman. Bukan bagi mereka yang hidup dari sisa pengalaman orang lain.

Ketimpangan yang Berdiri Sangat Dekat

Ironisnya, ketimpangan di Malioboro tidak berada jauh di balik tembok elite atau kompleks mewah Ia berdiri sangat dekat Bahkan terlalu dekat.

Di bangku trotoar, seseorang sibuk menatap layar ponsel. Tak jauh dari sana, seorang pemulung berjalan sambil membawa karung besar yang mungkin lebih berat dari yang terlihat.

Mereka menghirup udara yang sama. Berjalan di trotoar yang sama Berada di kota yang sama. Tetapi hidup dalam semesta ekonomi yang nyaris tidak saling bersentuhan.

Ekonom peraih Nobel, Amartya Sen, pernah menjelaskan bahwa kemiskinan tidak semata soal pendapatan rendah, melainkan hilangnya kemampuan manusia untuk hidup layak dan bermartabat.

Jika memakai kacamata itu, maka pertanyaan besarnya bukan lagi sekadar “berapa penghasilan mereka?”

Tetapi:

“Apakah sistem kota memberi ruang agar mereka bisa hidup lebih baik?”

Karena pembangunan kadang terlalu sibuk memperbaiki wajah kota, tetapi lupa menyentuh denyut manusianya.

Trotoar diperlebar, Lampu dipercantik, Sudut kota dipoles. Tetapi nasib pekerja informal sering tetap berjalan di tempat.

Orang-Orang yang Tidak Masuk Narasi Pembangunan

Di banyak pidato pembangunan, pemerintah sering berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, peningkatan wisata, dan geliat investasi daerah.

Namun sangat sedikit ruang untuk membahas manusia-manusia yang menopang ekonomi informal malam.

Pemulung Pedagang kecil, Pengamen, Tukang becak, Pekerja serabutan Padahal mereka bukan gangguan kota Mereka bagian dari cara kota bertahan.

Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah mengingatkan bahwa kota modern sering berhasil membangun infrastruktur, tetapi gagal membangun kepekaan sosial antarmanusia.

Dan mungkin di situlah ironi Malioboro malam bekerja dengan sangat sunyi. Kota ini tampak semakin cantik Tetapi apakah ia juga semakin peduli?

Atau jangan-jangan kita hanya sedang membangun kota yang nyaman dilihat, tetapi gagal nyaman untuk ditinggali sebagian warganya?

Ini Bukan Sekadar Foto Malam, Ini Cara Kota Memilih Siapa yang Terlihat

Masalahnya bukan pada wisata. Bukan juga pada pembangunan. Keduanya penting.

Tetapi pembangunan yang terlalu berorientasi visual berisiko menciptakan ilusi kesejahteraan. Kota terlihat hidup di media sosial.

Padahal sebagian orang di dalamnya sedang kehabisan tenaga untuk bertahan hidup. Dan di sinilah lapisan tersembunyi Malioboro muncul.

Ini bukan sekadar potret seorang lelaki dengan karung di malam hari. Ini tentang bagaimana kota memilih siapa yang layak terlihat dan siapa yang perlahan dibuat transparan.

Kita terbiasa melihat ketimpangan sampai akhirnya menganggapnya biasa. Orang lewat, Wisata berjalan, Lampu tetap menyala.

Sementara seseorang terus memanggul hidupnya sendirian. Tanpa ada yang benar-benar berhenti.

Kota yang Indah, Tapi Untuk Siapa?

Malioboro akan tetap ramai, Wisatawan akan terus datang dan Lampu kota akan terus menyala.

Tetapi mungkin pertanyaan paling jujur justru muncul ketika malam semakin sepi Jika kota dibangun atas nama kesejahteraan, mengapa masih ada orang yang harus mencari hidup dari sisa-sisa kota itu sendiri?

Karena kadang ketimpangan tidak hadir sebagai kemiskinan ekstrem. Kadang ia datang lebih sunyi: Dalam bentuk ketidakpedulian. Dan malam di Malioboro, diam-diam, sedang menceritakan semuanya. @teguh

Tags: Ekonomi RakyatHuman InterestKemiskinanketimpangan sosialKota Wisatakritik sosialMalioboroPemulungUrban StoryWisatawanYogyakarta

Kamu Melewatkan Ini

Senjata atau Perut Rakyat? Dilema Negara Anggaran Pertahanan Masuk Meja Efisiensi

Senjata atau Perut Rakyat? Dilema Negara Anggaran Pertahanan Masuk Meja Efisiensi

by teguh
Juli 18, 2026

Ketika Presiden RI Prabowo Subianto membuka opsi mengurangi anggaran pertahanan demi memberantas kemiskinan, negara menghadapi pertanyaan besar keamanan itu soal...

Prabowo Bidik Efisiensi Pertahanan: Kesiapan TNI Dipertaruhkan?

Prabowo Bidik Efisiensi Pertahanan: Kesiapan TNI Dipertaruhkan?

by teguh
Juli 18, 2026

Presiden Prabowo membuka kemungkinan mengurangi anggaran pertahanan dan kepolisian demi melawan kemiskinan. Komisi I DPR mendukung efisiensi, tetapi mengingatkan negara...

Gotong Royong Naik Kelas: Warga Menambal Jalan, Negara Menambal Alasan

Gotong Royong Naik Kelas: Warga Menambal Jalan, Negara Menambal Alasan

by dimas
Juli 18, 2026

Gotong royong tak lagi sekadar budaya, tetapi menjadi kritik ketika warga memperbaiki jalan yang diabaikan negara. Benarkah modal sosial kini...

Next Post
Filsafat Plato: Dunia yang Kita Lihat Bisa Jadi Cuma Ilusi

Filsafat Plato: Dunia yang Kita Lihat Bisa Jadi Cuma Ilusi

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id