Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Rp 3 Triliun untuk Sampah: Solusi Energi Masa Depan atau Proyek Ambisius Baru?

by teguh
Juni 2, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter
Gunungan sampah yang terus membesar akhirnya mendorong pemerintah mengambil langkah besar. Pemerintah pusat kini menyiapkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) regional Semarang-Kendal dengan nilai investasi mencapai Rp 3 triliun. Targetnya tidak kecil. Proyek ini menargetkan pengolahan hingga 2.000 ton sampah setiap hari dan mengubahnya menjadi energi listrik.

Tabooo.id: Pertanyaannya, mampukah proyek raksasa dengan nilai investasi mencapai Rp 3 triliun ini benar-benar menyelesaikan masalah sampah yang selama ini membebani Semarang dan Kendal?

Delapan Puluh Investor Mulai Mengantre

Pemerintah membawa proyek PSEL Semarang-Kendal ke tahap yang semakin serius. Saat ini Danantara bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyelesaikan dokumen lelang, menyempurnakan kajian, dan menjadwalkan kunjungan lapangan bagi calon investor.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Glory Nasarni, memastikan proses tersebut terus berjalan.

“Masih proses di Danantara untuk persiapan dokumen-dokumen lelang, finalisasi kajian, dan persiapan site visit dari para peminat,” kata Glory di Bulusan Edu Park Semarang, Selasa (2/6/2026).

Minat investor terhadap proyek ini juga terus meningkat. Hasil market sounding tahap kedua mencatat sekitar 80 investor domestik dan internasional menyampaikan ketertarikan mereka.

“Dari market sounding sudah ada sekitar 80 investor yang berminat. Dalam waktu dekat juga ada agenda site visit,” ujarnya.

Angka itu menunjukkan bahwa sektor pengelolaan sampah kini menarik perhatian pelaku investasi. Investor tidak lagi melihat sampah sebagai beban lingkungan semata. Mereka mulai melihatnya sebagai sumber energi dan peluang bisnis jangka panjang.

Ini Belum Selesai

Modus Miras Gelasan Terbongkar di Solo

OTT KPK: Bupati Lombok Barat Terseret Korupsi Rp9,06 Miliar

Pemerintah Ingin Mengubah Sampah Menjadi Listrik

PSEL Semarang Raya akan melayani dua wilayah sekaligus, yakni Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. Pemerintah masih menyelesaikan kajian teknologi yang paling sesuai untuk fasilitas tersebut.

Namun, Glory mengakui bahwa teknologi termal saat ini menjadi pilihan paling realistis karena mampu mengurangi volume sampah dalam waktu lebih cepat.

“Karena yang paling cepat menghabiskan sampah sementara ini teknologi termal. Bentuknya bisa insinerator, pirolisis, atau plasma. Itu nanti ditentukan berdasarkan kajian,” jelasnya.

Melalui teknologi tersebut, pemerintah ingin mengurangi ketergantungan pada metode penumpukan sampah konvensional yang selama ini mendominasi banyak tempat pembuangan akhir.

Mengejar Akhir Praktik Open Dumping

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah pusat juga mendorong proyek ini untuk mengakhiri praktik open dumping atau pembuangan sampah terbuka.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, Widi Hartanto, menjelaskan bahwa pemerintah telah menyepakati kerja sama pengolahan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan bersama Kota Semarang dan Kabupaten Kendal.

“Sudah ada SK Menteri Lingkungan Hidup terkait penetapan PSEL Semarang Raya yang meliputi Kota Semarang dan Kabupaten Kendal,” ujar Widi.

Menurut Widi, Kota Semarang akan memasok sekitar 1.000 ton sampah setiap hari. Sementara Kabupaten Kendal akan menyuplai sekitar 100 ton sampah per hari ke fasilitas PSEL yang berada di kawasan TPA Jatibarang.

Pasokan tersebut akan menjadi bahan baku utama pembangkit energi dari sampah.

Proyek Besar, Harapan Besar

Akademisi lingkungan Universitas Diponegoro, Prof. Sudharto P. Hadi, menilai proyek waste to energy dapat membantu kota-kota besar menghadapi krisis lahan TPA. Namun ia mengingatkan bahwa teknologi hanya menjadi salah satu bagian dari solusi.

“Teknologi bisa dibeli, tetapi tata kelola dan pengawasan yang menentukan keberhasilan. Banyak proyek pengolahan sampah gagal karena aspek operasional dan transparansi tidak berjalan baik.”

Pandangan serupa datang dari sosiolog dan pengamat kebijakan publik Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito.

“Publik perlu mengetahui manfaat nyata yang diterima masyarakat, bukan hanya angka investasi yang besar.”

Menurutnya, pemerintah harus membuktikan bahwa proyek ini benar-benar memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat, bukan sekadar menghasilkan angka investasi yang mengesankan.

Yang Ditunggu Warga Bukan Angka, Tapi Hasil

Bagi warga Semarang dan Kendal, ukuran keberhasilan proyek ini sebenarnya sederhana. Mereka ingin pemerintah mengurangi gunungan sampah, menghilangkan bau yang mengganggu permukiman, dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

Jika pemerintah mampu mewujudkan target tersebut, PSEL Semarang Raya dapat menjadi model pengelolaan sampah modern di Indonesia. Namun jika pemerintah gagal mengelolanya secara efektif, proyek bernilai Rp3 triliun ini berisiko menambah daftar panjang ambisi besar yang tidak pernah mencapai tujuan.

Ini bukan sekadar proyek pengolahan sampah tapi Ini adalah ujian apakah Indonesia benar-benar mampu mengubah sampah menjadi energi, sekaligus mengubah krisis lingkungan menjadi peluang masa depan. @teguh

Tags: DanantaraEnergi AlternatifInfrastrukturInvestasi HijauJatibarangJawaTengahKendalLingkunganPengelolaan SampahSampah Jadi ListrikSELSemarangWaste ToEnergy

Kamu Melewatkan Ini

30 Pendata Mundur, yang Gagal Bukan Sensusnya Tapi Komunikasinya

30 Pendata Mundur, yang Gagal Bukan Sensusnya Tapi Komunikasinya

by teguh
Juli 19, 2026

Tiga puluh petugas Sensus Ekonomi 2026 di Kota Semarang memilih mundur di tengah proses pendataan yang masih berlangsung. Angka itu...

30 Petugas Sensus Ekonomi Mundur, BPS Semarang Bantah Honor Macet

30 Petugas Sensus Ekonomi Mundur, BPS Semarang Bantah Honor Macet

by teguh
Juli 19, 2026

Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Kota Semarang menghadapi sorotan setelah 30 petugas sensus mengundurkan diri. Di saat yang sama, muncul...

Gotong Royong Naik Kelas: Warga Menambal Jalan, Negara Menambal Alasan

Gotong Royong Naik Kelas: Warga Menambal Jalan, Negara Menambal Alasan

by dimas
Juli 18, 2026

Gotong royong tak lagi sekadar budaya, tetapi menjadi kritik ketika warga memperbaiki jalan yang diabaikan negara. Benarkah modal sosial kini...

Next Post
Indonesia Darurat Sampah: Kenapa Kita Masih Buang dan Lupa?

Indonesia Darurat Sampah: Kenapa Kita Masih Buang dan Lupa?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id