Oleh: J.E., CEO of Tabooo Network Indonesia
Tabooo.id: From the Desk of the CEO – Unseen, Unannounced. Bukan karena tidak ada yang melihat, tapi karena kita memilih untuk tidak benar-benar melihat.
Kita hidup di ruang yang penuh hal yang kita anggap “normal”. Sampah menumpuk? Biasa. Potensi mati? Biasa. Masalah berulang? Juga biasa.
Namun justru di tengah semua itu, hanya satu hal yang terasa tidak biasa, yaitu kejujuran. Akibatnya, seringkali kejujuran terasa tidak nyaman.
Unseen: Bukan Tidak Terlihat, Tapi Tidak Mau Dilihat
Banyak orang bilang masalah di lingkungan itu “tidak terlihat”. Padahal bukan tidak terlihat. Kita lihat. Setiap hari.
Tapi kita memilih untuk tidak benar-benar melihat. Kita lewat, diam, dan melanjutkan hidup.
Dan perlahan, kita sepakat untuk menganggap semuanya normal. Di titik itu, “tidak terlihat” bukan kondisi. Itu keputusan.
Unannounced: Semua Tahu, Tapi Tidak Ada yang Mau Bicara
Masalahnya bukan pada data, tapi pada keberanian.
Semua orang sebenarnya sudah tahu. Mereka tahu soal sampah, tentang potensi yang tidak bergerak. Mereka juga tahu pola yang terus berulang.
Namun, tetap saja tidak ada yang benar-benar berani mengatakannya. Karena itu, begitu seseorang bicara, konsekuensinya langsung datang.
Akibatnya, pada akhirnya banyak orang memilih aman daripada jujur.
Film Ini Bukan Hiburan. Ini Cermin yang Tidak Nyaman
“Unseen, Unannounced: Story of Winongo” bukan film untuk ditonton santai.
Ini cermin.
Dan seperti semua cermin yang jujur, ia tidak selalu menyenangkan.
Film ini tidak membawa cerita jauh. Ia justru terlalu dekat. Terlalu dekat sampai kita sulit menghindar.
Dan di situ letak masalahnya.
Kita tidak takut pada masalah besar, yang kita takutkan adalah masalah yang terlalu dekat dengan diri sendiri.
Masalahnya Bukan Di Luar. Tapi Di Cara Kita Melihat
Selama ini, kita justru sibuk mengejar solusi besar. Program. Agenda. Kebijakan.
Namun di saat yang sama, kita melewatkan hal yang paling dekat.
Masalahnya sering jauh lebih sederhana. Kita tidak melihat atau lebih tepatnya, kita tidak mau melihat.
Karena itu, begitu kita mulai melihat dengan jujur, kita tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu.
Rukun Itu Nyaman. Tapi Jujur Itu Mengubah
Kita bangga dengan kata “rukun”. Tapi sering lupa satu hal, bahwa rukun bisa berarti kita sepakat untuk tidak mengganggu satu sama lain.
Termasuk tidak mengganggu kebohongan yang kita tahu bersama.
Di titik itu, rukun bukan kekuatan. Ia hanya sebuah cara halus untuk mempertahankan keadaan.
Ini Bukan Tentang Winongo
Jangan salah. Ini bukan cerita tentang satu tempat.
Ini pola.
Winongo hanya contoh kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Lingkungan terlihat baik-baik saja. Namun di balik itu, warga menyimpan masalah yang tidak pernah benar-benar mereka buka.
Dan selama pola ini terus berulang, perubahan tidak akan pernah benar-benar terjadi.
Pertanyaannya Sederhana (Tapi Tidak Nyaman)
Kalau kita sudah tahu… Kenapa kita diam?
Kalau kita sudah lihat… Kenapa kita pura-pura tidak tahu?
Dan kalau semua orang tahu… Kenapa tidak ada yang benar-benar mulai?
“Unseen, Unannounced” bukan tentang apa yang tersembunyi.
Ini tentang apa yang kita sembunyikan, dari diri sendiri.
Kita tidak kekurangan realitas. Kita hanya kekurangan keberanian untuk mengakuinya. @tabooo





