Seorang ayah Langkahnya pelan ketika memasuki halaman rumah pemilik toko. Di sampingnya berdiri dua anak laki-laki yang terus menunduk. Tak ada pembelaan. Kemarahan juga tidak terlihat. Bahkan, pria itu tidak mencoba lari dari kesalahan yang sudah terjadi.
Tabooo.id – Yang ia bawa hanya rasa bersalah. Di tangannya tergenggam uang Rp200 ribu, sisa dari uang yang pernah ia ambil beberapa hari sebelumnya. Namanya EPB, seorang ayah berumur 35 tahun.
Secara hukum, ia memang mencuri. Namun kisah ini tidak sesederhana pasal-pasal pidana yang tertulis di atas kertas.
Di balik angka Rp352 ribu yang hilang dari sebuah toko kelontong di Mojokerto, tersimpan cerita tentang seorang ayah yang kehabisan jalan keluar, seorang anak yang hampir kehilangan hak mengikuti ujian, dan sebuah pengampunan yang menyelamatkan masa depan sebuah keluarga.
Banyak orang mungkin hanya melihat tindakan kriminalnya. Padahal, persoalan yang sebenarnya jauh lebih besar daripada uang yang hilang.
Ketika Harga Diri Bertabrakan dengan Kebutuhan Hidup
EPB hidup dalam tekanan ekonomi yang tidak ringan. Setelah perceraian, ia harus menanggung kebutuhan keluarga dalam kondisi yang semakin sulit. Pada saat yang sama, ibunya jatuh sakit dan membutuhkan perhatian.
Beban itu terus bertambah ketika sekolah meminta pelunasan biaya pendidikan anaknya.
Jika biaya tersebut tidak segera dibayar, anaknya terancam gagal mengikuti ujian semester.
EPB berusaha mencari pinjaman, Ia mendatangi beberapa orang. Harapan untuk mendapatkan bantuan terus ia kejar.
Namun tidak satu pun jalan yang berhasil ia temukan. Ketika semua pintu terasa tertutup, ia mengambil keputusan yang salah.
Ia mengambil uang Rp352 ribu dari toko milik Alfin Setyo Tunggal. Keputusan itu melanggar hukum. Tidak ada pembenaran untuk tindakan tersebut.
Namun ada satu hal yang membuat kasus ini berbeda dari banyak tindak kriminal lain yaitu, Hati nuraninya masih bekerja.
Tak lama setelah kejadian, EPB meninggalkan surat permintaan maaf yang ditulis dengan tangannya sendiri.

“Mohon maaf pak buk. Saya kepepet. Butuh uang, cari pinjaman tidak ada. Uang bapak Rp352.000 saya kembalikan saat gajian. Sekolah anak saya tidak bisa ditunda. Saya pertama kali mencuri. Saya tidak akan mengulangi lagi.”
Surat itu sederhana.
Tidak ada bahasa hukum, Tidak ada pembelaan diri yang berlebihan dan Yang muncul justru pengakuan jujur dari seseorang yang sadar bahwa dirinya telah melakukan kesalahan.
Kemiskinan yang Tidak Pernah Masuk Berita Utama
Kasus seperti ini memunculkan pertanyaan yang sering luput dari perhatian publik. Mengapa seseorang yang selama ini hidup biasa tiba-tiba melanggar hukum?
Sebagian orang mungkin akan menjawab karena kurang iman. Sebagian lainnya menyebut moralitas yang lemah sebagai penyebab utama.
Di sisi lain, banyak penelitian sosial menunjukkan bahwa tekanan ekonomi ekstrem sering mendorong seseorang mengambil keputusan yang tidak akan pernah ia ambil dalam kondisi normal.
Sosiolog dari Universitas Indonesia, Prof. Imam Prasodjo, dalam berbagai kajiannya mengenai kemiskinan menjelaskan bahwa banyak tindak kriminal kecil lahir bukan karena hilangnya moralitas, melainkan karena seseorang kehilangan pilihan.
Ketika kebutuhan hidup terus mendesak sementara akses bantuan tidak tersedia, batas antara benar dan salah menjadi semakin rapuh.
Inilah lapisan yang jarang muncul dalam pemberitaan sehari-hari. Publik sering melihat hasil akhirnya.
Sedikit yang mau menelusuri perjalanan panjang sebelum seseorang sampai pada titik putus asa.
Padahal kemiskinan tidak datang sebagai headline besar. Kadang kemiskinan datang melalui tagihan yang menumpuk.
Di waktu lain, persoalan itu muncul dalam bentuk biaya sekolah yang belum terbayar.
Tekanan yang sama kemudian membesar ketika kebutuhan hidup terus naik sementara pendapatan berjalan di tempat.
Anak yang Menjadi Korban Tak Terlihat
Dalam banyak kasus kemiskinan, anak sering menjadi korban pertama sekaligus korban yang paling jarang mendapat perhatian.
Publik biasanya fokus kepada pelaku dan korban langsung. Padahal ada anak yang harus menyaksikan ayahnya kehilangan harga diri di depan mereka.
Anak-anak lain tumbuh dengan rasa takut ketika orang tuanya berhadapan dengan hukum.
Tidak sedikit pula yang memikul trauma sosial tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya, Dr. Eko Prasetyo, menilai ancaman putus sekolah akibat persoalan ekonomi masih menjadi bentuk ketidakadilan yang sering terjadi di berbagai daerah.
“Pendidikan seharusnya menjadi jalan keluar dari kemiskinan, bukan justru memperdalamnya.”
Kasus EPB memperlihatkan ironi yang sulit diabaikan. Seorang anak hampir kehilangan kesempatan mengikuti ujian.
Di saat yang sama, ayahnya hampir kehilangan kebebasan. Semua itu bermula dari kebutuhan yang sebenarnya sangat mendasar: pendidikan.
Surat yang Mengubah Segalanya
Pada Selasa malam, 9 Juni 2026, EPB mulai mengembalikan uang yang ia ambil. Melalui pacarnya, ia menitipkan Rp120 ribu kepada pemilik toko.
Dua hari kemudian, Kamis sore, 11 Juni 2026, ia datang langsung membawa sisa uang yang berhasil ia kumpulkan.
Kali ini ia tidak datang sendirian dia bersama Dua anaknya ikut mendampingi.
Mungkin ia ingin mereka melihat bahwa setiap kesalahan harus dipertanggungjawabkan.
Atau mungkin ia ingin menunjukkan bahwa ayah mereka masih berusaha menjadi orang baik.
Apa pun alasannya, momen itu mengubah arah cerita. Alfin Setyo Tunggal memilih memaafkan.
Keputusan tersebut lahir dari pengalaman hidup yang hampir serupa.
“Karena saya juga pernah mengalami kesulitan ekonomi.”
Kalimat sederhana itu menghentikan lingkaran dendam. Pada saat yang sama, keputusan tersebut menyelamatkan seorang ayah dari jeruji penjara.
Lebih jauh lagi, dua anaknya terhindar dari trauma yang mungkin mereka bawa hingga dewasa.
Pengampunan yang Lebih Kuat dari Hukuman
Budayawan Jawa melihat peristiwa ini sebagai cermin nilai luhur yang mulai jarang terlihat dalam kehidupan modern.
Menurutnya, budaya meminta maaf dan budaya memaafkan merupakan fondasi penting yang menjaga hubungan sosial tetap sehat.
Masyarakat Jawa mengenalnya sebagai welas asih. Nilai itu tidak membenarkan kesalahan tapi Nilai itu juga tidak menghapus tanggung jawab.
Sebaliknya, prinsip tersebut memberi ruang bagi seseorang untuk memperbaiki dirinya.
Dalam konteks hukum, pendekatan restorative justice yang ditempuh dalam kasus ini menunjukkan bahwa keadilan tidak selalu harus berakhir dengan hukuman penjara.
Terkadang masyarakat membutuhkan pemulihan lebih daripada pembalasan.
Dalam situasi tertentu, sebuah pengampunan mampu menciptakan efek sosial yang jauh lebih besar daripada vonis.
Ini Bukan Sekadar Pencurian
Di sinilah pertanyaan yang lebih besar muncul. Apakah ini benar-benar hanya kisah pencurian?
Ataukah peristiwa ini menjadi alarm tentang banyaknya keluarga yang hidup di tepi jurang kemiskinan?
Kasus EPB memperlihatkan bahwa sistem perlindungan sosial masih menyisakan banyak celah. Seorang anak hampir gagal mengikuti ujian karena persoalan biaya.
Seorang ayah nekat mempertaruhkan kebebasannya demi pendidikan anaknya. Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalannya tidak berhenti pada tindakan individu. Sistem yang ada juga juga berpran dan perlu berbenah.
Karena jika biaya pendidikan masih mampu mendorong seseorang melakukan tindak kriminal, maka persoalan yang kita hadapi jauh lebih besar daripada pencurian Rp352 ribu.
Solusi Tidak Boleh Berhenti pada Rasa Haru
Peristiwa ini menyimpan beberapa pelajaran penting. Pemerintah daerah harus memastikan seluruh anak tetap mendapat akses pendidikan tanpa hambatan ekonomi.
Sekolah perlu membangun mekanisme perlindungan yang mampu mendeteksi keluarga rentan sebelum masalah berkembang menjadi krisis.
Selain itu, pemerintah dan masyarakat harus memperkuat jaringan bantuan sosial berbasis komunitas agar keluarga yang mengalami tekanan ekonomi memiliki tempat meminta pertolongan. Warga juga perlu menghidupkan kembali budaya saling peduli terhadap lingkungan sekitar.
Banyak orang mengambil keputusan buruk bukan karena mereka jahat. Sebaliknya, tekanan hidup yang berlangsung terlalu lama sering membuat seseorang kehilangan pilihan yang sehat.
Surat yang Menampar Kita Semua
Pada akhirnya, kisah dari Mojokerto meninggalkan pertanyaan yang sulit diabaikan. Pria itu menulis surat permintaan maaf.
Setelah itu, ia mengembalikan uang tersebut sedikit demi sedikit. Bahkan, EPB datang sendiri untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Lalu mengapa banyak pelaku kejahatan bernilai miliaran rupiah justru tampil percaya diri di depan kamera?
Mungkin persoalan terbesar bangsa ini bukan semata kemiskinan. Kita justru mulai kehilangan rasa malu.
Dan melalui surat sederhana itu, seorang ayah tanpa sadar mengingatkan kita tentang nilai kemanusiaan yang semakin jarang ditemukan.
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan keluarga ini bukan uang dan Bukan pula hukum.
Melainkan hati nurani yang masih hidup di tengah dunia yang semakin sibuk menghitung untung dan rugi.
Pertanyaannya sederhana berapa banyak EPB lain yang saat ini masih berusaha tetap jujur, tetapi perlahan kehabisan pilihan?. @teguh






