Saputra Kori membuktikan dirinya bukan sekadar kreator TikTok. Dari video parodi hingga memerankan Tria dalam film Jangan Buang Ibu, ia tumbuh menjadi figur generasi digital yang berpengaruh.
Tabooo.id – Bukan semua orang yang viral bisa bertahan. Namun, Saputra Kori membuktikan bahwa ketenaran dapat berubah menjadi perjalanan yang jauh lebih besar daripada sekadar angka pengikut.
Di era ketika perhatian publik bisa menghilang dalam hitungan detik, Saputra Kori justru memilih jalur yang berbeda. Alih-alih hanya mengejar penonton, ia membangun kedekatan dengan jutaan orang yang melihat dirinya sebagai representasi anak muda biasa yang berani bermimpi besar.
Lahir di Singaraja, Bali, pada 13 Agustus 2002, Kori tumbuh jauh dari hiruk-pikuk industri hiburan Jakarta. Ia tidak berasal dari keluarga artis dan tidak memiliki jalur instan menuju dunia hiburan. Sebaliknya, ia mengandalkan kreativitas, konsistensi, dan keberanian untuk tampil apa adanya.
Perjalanan itu bermula dari video-video parodi sederhana di TikTok.
Saat banyak kreator berlomba tampil sempurna, Kori justru hadir dengan karakter yang dekat dengan keseharian. Kontennya berisi parodi, story time, hingga berbagai tipe karakter yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Gayanya sederhana dan mudah dipahami. Justru karena kesederhanaan itulah banyak orang merasa dekat dengannya.
Di balik humor yang ia tampilkan, Kori memahami sesuatu yang sering luput dari banyak kreator digital. Penonton tidak selalu mencari kesempurnaan. Sebaliknya, mereka lebih menghargai kejujuran dan kedekatan emosional.
Popularitasnya pun tumbuh sangat cepat. Satu video menarik ribuan penonton, lalu berkembang menjadi jutaan tayangan. Seiring waktu, akun TikTok miliknya menjelma menjadi salah satu yang paling berpengaruh di Indonesia dengan puluhan juta pengikut yang setia mengikuti setiap karyanya.
Namun, satu pertanyaan terus muncul di tengah popularitas tersebut.
Apakah seorang kreator digital mampu bertahan ketika tren berubah?
Banyak kreator kesulitan menjawab tantangan itu. Meski demikian, Kori memilih jalan yang berbeda. Ia tidak berhenti pada popularitas media sosial semata.
Ketika Dunia Digital Tidak Lagi Cukup
Banyak orang menganggap media sosial sebagai puncak karier. Padahal, bagi Kori, dunia digital hanyalah gerbang pertama menuju peluang yang lebih besar.
Tahun 2024 menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Saat itu, ia mulai menjajaki dunia perfilman melalui film Bila Esok Ibu Tiada. Langkah tersebut menunjukkan bahwa ia tidak ingin terjebak dalam identitas sebagai kreator konten semata.
Sejak saat itu, Kori memasuki ruang yang berbeda. Dunia akting menuntut kemampuan baru, mulai dari penghayatan emosi hingga tanggung jawab terhadap karakter yang diperankan.
Kemudian, pada 2025, serial drama Sultan Squad semakin memperkuat posisinya di industri hiburan. Tidak hanya memperluas basis penggemar, serial tersebut juga mengubah cara publik memandang dirinya.
Kini, banyak orang tidak lagi melihat Kori hanya sebagai pembuat video lucu. Sebaliknya, ia mulai dikenal sebagai entertainer yang mampu membangun cerita dan menghadirkan karakter yang hidup.
Popularitas itu bahkan melahirkan ekosistem baru. Merchandise yang ia luncurkan laris di pasaran, sementara komunitas penggemarnya terus berkembang. Karena itu, pengaruhnya tidak lagi berhenti di layar ponsel, melainkan masuk ke budaya penggemar yang tumbuh di sekelilingnya.
Tria dan Pertemuan dengan Realitas yang Menyakitkan
Tahun 2026 menghadirkan tantangan yang jauh lebih emosional.
Melalui film Jangan Buang Ibu, Saputra Kori memerankan Tria, anak bungsu yang sangat mencintai ibunya. Film produksi Leo Pictures yang disutradarai Hadrah Daeng Ratu itu mengangkat kisah yang terasa dekat dengan banyak keluarga Indonesia.
Di tengah kesibukan, ambisi, dan tuntutan hidup modern, hubungan antara anak dan orang tua sering mengalami perubahan. Perubahan itu tidak selalu lahir dari kebencian. Terkadang jarak menjadi penyebabnya. Dalam situasi lain, ego mengambil peran. Bahkan, banyak orang merasa masih memiliki waktu yang panjang untuk membalas kasih sayang orang tua mereka.
Sayangnya, waktu sering bergerak lebih cepat daripada yang kita bayangkan.
Karakter Tria berdiri di tengah dilema tersebut. Ia sangat menyayangi sang ibu. Namun, pada saat yang sama, ia beberapa kali mengambil keputusan yang kurang bijak karena terlalu fokus memikirkan masa depannya sendiri.
Konflik itu terasa relevan bagi banyak anak muda. Mereka mencintai orang tuanya. Di sisi lain, mereka juga mengejar cita-cita dan mimpi pribadi. Banyak yang ingin membahagiakan keluarga, tetapi sering lupa menyediakan waktu untuk hadir bersama keluarga.
Karena itulah karakter Tria terasa begitu manusiawi. Ia bukan sosok sempurna yang selalu benar. Ia melakukan kesalahan, merasakan penyesalan, dan berusaha memahami konsekuensi dari setiap pilihannya. Akibatnya, penonton dapat melihat sebagian diri mereka sendiri dalam karakter tersebut.
Antara Citra dan Realita
Publik mengenal Saputra Kori sebagai sosok ceria yang sering membuat orang tertawa. Namun, dunia hiburan selalu menyimpan paradoks yang tidak terlihat di permukaan.
Orang yang paling sering menghibur belum tentu menjalani hidup yang ringan. Di balik konten yang mengundang tawa, terdapat tuntutan besar untuk terus relevan.
Karier digital menuntut konsistensi yang melelahkan. Algoritma tidak pernah berhenti bergerak. Ekspektasi penggemar terus meningkat. Sementara itu, persaingan semakin ketat setiap hari.
Meski menghadapi tekanan tersebut, Kori memilih untuk terus berkembang. Selain aktif di dunia hiburan, ia juga melanjutkan pendidikan di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) pada Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial.
Pilihan itu menunjukkan bahwa dunia digital bukan satu-satunya fondasi hidup yang ia bangun. Baginya, ada hal yang lebih penting daripada popularitas semata.
Kesadaran itulah yang membuatnya terus bertumbuh. Sebab, ketenaran bisa datang dan pergi kapan saja. Sebaliknya, kapasitas diri akan selalu menjadi bekal yang bertahan lebih lama.
Ini Bukan Sekadar Kisah Saputra Kori
Cerita Saputra Kori sebenarnya bukan hanya tentang seorang kreator yang berhasil meraih popularitas. Lebih dari itu, kisahnya mencerminkan perubahan besar yang sedang berlangsung di Indonesia.
Dahulu, televisi menjadi gerbang utama menuju ketenaran. Kini, siapa pun dapat membangun panggungnya sendiri melalui media digital.
Generasi baru tidak lagi menunggu kesempatan datang menghampiri. Sebaliknya, mereka menciptakan kesempatan itu sendiri.
Saputra Kori menjadi salah satu simbol perubahan tersebut. Dari sebuah kamar sederhana di Bali, ia berhasil membangun audiens nasional. Dari video parodi yang sederhana, ia melangkah ke layar bioskop. Bahkan, melalui karya-karyanya, ia mulai membawa pesan tentang keluarga, pengorbanan, dan hubungan antara anak dengan orang tua.
Pada akhirnya, perjalanan Kori mengingatkan kita pada satu hal penting. Kesuksesan bukan soal seberapa cepat seseorang menjadi viral. Kesuksesan justru terlihat dari kemampuan untuk bertahan setelah sorotan itu mereda.
Dan sejauh ini, Saputra Kori tampaknya sedang membuktikan bahwa ia mampu melakukan keduanya. @dimas







