Screening film “Unseen, Unannounced: Story of Winongo” memunculkan satu pertanyaan mendasar: apakah masyarakat benar-benar hidup dalam kejujuran, atau hanya menjaga harmoni yang tampak rapi di permukaan? Ketika orang merayakan kebersamaan lewat seremoni, sejauh mana mereka berani mengakui realitas yang tidak nyaman?
Tabooo.id: Regional – Tabooo Pictures di bawah naungan PT Tabooo Network Indonesia menggelar pemutaran film di Kelurahan Winongo, Kota Madiun, Rabu (22/4/2026). Namun kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan tontonan seperti agenda budaya pada umumnya.
Sejak awal, acara dirancang sebagai ruang pertemuan lintas pihak. Warga, komunitas, dan pemerintah duduk dalam satu forum yang sama. Mereka tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga untuk membuka percakapan yang jarang terjadi dalam keseharian.
Acara ini dihadiri oleh Komisaris PT Tabooo Network Indonesia Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Hari Andri Winarso Wartonagoro, dan CEO PT Tabooo Network Indonesia, Jeje. Selain itu, hadir pula perwakilan Pemerintah Kota Madiun, di antaranya Kepala Bidang Pariwisata Disbudparpora Kota Madiun Yoga Pratama, Camat Manguharjo Lita Febriana Hapsari, serta Plt. Lurah Winongo Dian Puspita.
Tidak hanya itu, sejumlah komunitas sejarah, komunitas budaya, dan pariwisata, serta warga Winongo turut memenuhi ruang acara. Kehadiran berbagai pihak ini membuat forum terasa lebih hidup, karena setiap sudut pandang ikut terlibat dalam diskusi.
Silaturahmi yang Mulai Dipertanyakan
CEO PT Tabooo Network Indonesia, Jeje, langsung membuka forum dengan pendekatan yang berbeda. Ia tidak memakai pola sambutan formal yang biasanya muncul di acara serupa.
“Saya tidak datang ke sini untuk sekadar mengucapkan ‘mohon maaf lahir dan batin’,” ujarnya dalam sambutan.
Kalimat itu langsung mengubah suasana. Peserta mulai fokus, bukan sekadar mendengar, tapi mencoba memahami arah pembicaraan.
Jeje mengajak peserta untuk mempertanyakan ulang makna silaturahmi yang selama ini mereka jalani. Ia menilai banyak pertemuan sosial hanya berhenti di permukaan.
Orang-orang menjaga suasana tetap nyaman. Namun di saat yang sama, mereka justru menghindari percakapan yang lebih jujur.
“Banyak lingkungan terlihat rukun, tapi sebenarnya hanya menghindari kejujuran,” lanjutnya.
Melalui pernyataan itu, Jeje menegaskan satu hal penting. Kesopanan memang penting, tetapi belum cukup untuk membangun harmoni yang kuat.
Sebuah komunitas hanya bisa berkembang ketika warganya berani melihat realitas secara jujur.
Film yang Mengajak Melihat Ulang
Film “Unseen, Unannounced: Story of Winongo” langsung menjadi pusat perhatian dalam kegiatan ini. Namun sejak awal, tim Tabooo tidak merancang film ini sebagai hiburan semata.
Jeje menjelaskan bahwa mereka menggunakan film sebagai alat untuk membaca kondisi sosial yang sering luput dari perhatian.
“Melalui karya ini, kami membaca realitas yang tidak diumumkan, tapi selalu ada,” jelas Jeje.
Film ini mengangkat isu yang sangat dekat dengan kehidupan warga. Mulai dari persoalan sampah, potensi lingkungan, hingga cara masyarakat memandang ruang hidup mereka sendiri.
Tim produksi memilih pendekatan visual yang sederhana. Namun justru kesederhanaan itu membuat pesan terasa lebih dekat dan lebih kena.
Penonton tidak hanya menyaksikan cerita. Mereka mulai menyadari bahwa hal-hal yang terlihat biasa ternyata menyimpan persoalan.
Dari Menonton ke Memahami
Setelah pemutaran film, diskusi terbuka menjadi bagian penting dari acara. Warga tidak hanya menyampaikan pendapat, tetapi mulai mengaitkan isi film dengan pengalaman mereka sehari-hari.
Percakapan berkembang secara natural. Beberapa peserta mulai membuka hal-hal yang selama ini jarang mereka bicarakan.
Jeje menegaskan bahwa tujuan kegiatan ini tidak berhenti pada pengalaman menonton.
“Yang kita bangun bukan sekadar acara. Kita membentuk cara berpikir bersama,” tegasnya.
Ia juga mengajak peserta untuk merenungkan satu pertanyaan sederhana.
“Apakah kita berubah, atau hanya mengulang pola lama?” tandasnya.
Pertanyaan ini membuat diskusi bergerak lebih dalam dan reflektif.
Potensi Besar, Tantangan Cara Pandang
Dari diskusi yang berlangsung, satu hal menjadi jelas, Winongo memiliki potensi yang besar. Baik dari sisi lingkungan, masyarakat, maupun peluang pengembangan ke depan.
Namun potensi tersebut belum sepenuhnya berkembang. Salah satu faktor yang muncul adalah cara pandang masyarakat terhadap kondisi yang ada.
Saat masyarakat terbiasa dengan kondisi yang ada, mereka berhenti mempertanyakannya. Padahal, perubahan hanya muncul ketika seseorang berani melihat realitas secara jujur.
Forum ini mendorong warga untuk mulai membuka cara pandang itu.
Dukungan dari Pemerintah
Plt. Lurah Winongo Dian Puspita menyambut kegiatan ini dengan optimistis. Ia melihat film sebagai cara yang lebih efektif untuk membangun kesadaran warga.
Sementara itu, Kabid Pariwisata Kota Madiun Yoga Pratama menilai kegiatan ini memiliki potensi untuk mendorong ekonomi kreatif di tingkat lokal.
“Ini menjadi pemacu bagi kita untuk mengembangkan ekonomi kreatif,” ujar Yoga.
Menurutnya, karya berbasis lokal dapat membuka peluang baru, baik dari sisi budaya maupun ekonomi daerah.
Lebih dari Sekadar Acara
Acara ditutup dengan suasana kebersamaan antarwarga. Namun proses yang terjadi selama kegiatan tidak berhenti di situ.
Banyak peserta mulai menyadari bahwa cerita dalam film bukan sekadar narasi di layar. Cerita tersebut mencerminkan realitas yang mereka hadapi sehari-hari.
Dari situ, peserta mulai sadar: perubahan tidak selalu butuh program besar. Perubahan justru dimulai dari cara melihat realitas.
Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran kolektif. Bahwa memahami realitas adalah bagian penting dari proses menuju perubahan. @dimas





