Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Layar ke Realita: Screning Film “Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

by dimas
Mei 18, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality Regional
Share on Facebook
Share on Twitter
Screening film “Unseen, Unannounced: Story of Winongo” memunculkan satu pertanyaan mendasar: apakah masyarakat benar-benar hidup dalam kejujuran, atau hanya menjaga harmoni yang tampak rapi di permukaan? Ketika orang merayakan kebersamaan lewat seremoni, sejauh mana mereka berani mengakui realitas yang tidak nyaman?

Tabooo.id: Regional – Tabooo Pictures di bawah naungan PT Tabooo Network Indonesia menggelar pemutaran film di Kelurahan Winongo, Kota Madiun, Rabu (22/4/2026). Namun kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan tontonan seperti agenda budaya pada umumnya.

Sejak awal, acara dirancang sebagai ruang pertemuan lintas pihak. Warga, komunitas, dan pemerintah duduk dalam satu forum yang sama. Mereka tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga untuk membuka percakapan yang jarang terjadi dalam keseharian.

Acara ini dihadiri oleh Komisaris PT Tabooo Network Indonesia, Wartonagoro, dan CEO PT Tabooo Network Indonesia, Jeje. Selain itu, hadir pula perwakilan Pemerintah Kota Madiun, di antaranya Kepala Bidang Pariwisata Disbudparpora Kota Madiun Yoga Pratama, Camat Manguharjo Lita Febriana Hapsari, serta Plt. Lurah Winongo Dian Puspita.

Tidak hanya itu, sejumlah komunitas sejarah, komunitas budaya, dan pariwisata, serta warga Winongo turut memenuhi ruang acara. Kehadiran berbagai pihak ini membuat forum terasa lebih hidup, karena setiap sudut pandang ikut terlibat dalam diskusi.

Silaturahmi yang Mulai Dipertanyakan

CEO PT Tabooo Network Indonesia, Jeje, langsung membuka forum dengan pendekatan yang berbeda. Ia tidak memakai pola sambutan formal yang biasanya muncul di acara serupa.

Ini Belum Selesai

Relawan Gugur Antar Bantuan Gempa NTT, Siapa Melindungi Mereka?

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

“Saya tidak datang ke sini untuk sekadar mengucapkan ‘mohon maaf lahir dan batin’,” ujarnya dalam sambutan.

Kalimat itu langsung mengubah suasana. Peserta mulai fokus, bukan sekadar mendengar, tapi mencoba memahami arah pembicaraan.

Jeje mengajak peserta untuk mempertanyakan ulang makna silaturahmi yang selama ini mereka jalani. Ia menilai banyak pertemuan sosial hanya berhenti di permukaan.

Orang-orang menjaga suasana tetap nyaman. Namun di saat yang sama, mereka justru menghindari percakapan yang lebih jujur.

“Banyak lingkungan terlihat rukun, tapi sebenarnya hanya menghindari kejujuran,” lanjutnya.

Melalui pernyataan itu, Jeje menegaskan satu hal penting. Kesopanan memang penting, tetapi belum cukup untuk membangun harmoni yang kuat.

Sebuah komunitas hanya bisa berkembang ketika warganya berani melihat realitas secara jujur.

Film yang Mengajak Melihat Ulang

Film “Unseen, Unannounced: Story of Winongo” langsung menjadi pusat perhatian dalam kegiatan ini. Namun sejak awal, tim Tabooo tidak merancang film ini sebagai hiburan semata.

Jeje menjelaskan bahwa mereka menggunakan film sebagai alat untuk membaca kondisi sosial yang sering luput dari perhatian.

“Melalui karya ini, kami membaca realitas yang tidak diumumkan, tapi selalu ada,” jelas Jeje.

Film ini mengangkat isu yang sangat dekat dengan kehidupan warga. Mulai dari persoalan sampah, potensi lingkungan, hingga cara masyarakat memandang ruang hidup mereka sendiri.

Tim produksi memilih pendekatan visual yang sederhana. Namun justru kesederhanaan itu membuat pesan terasa lebih dekat dan lebih kena.

Penonton tidak hanya menyaksikan cerita. Mereka mulai menyadari bahwa hal-hal yang terlihat biasa ternyata menyimpan persoalan.

Dari Menonton ke Memahami

Setelah pemutaran film, diskusi terbuka menjadi bagian penting dari acara. Warga tidak hanya menyampaikan pendapat, tetapi mulai mengaitkan isi film dengan pengalaman mereka sehari-hari.

Percakapan berkembang secara natural. Beberapa peserta mulai membuka hal-hal yang selama ini jarang mereka bicarakan.

Jeje menegaskan bahwa tujuan kegiatan ini tidak berhenti pada pengalaman menonton.

“Yang kita bangun bukan sekadar acara. Kita membentuk cara berpikir bersama,” tegasnya.

Ia juga mengajak peserta untuk merenungkan satu pertanyaan sederhana.

“Apakah kita berubah, atau hanya mengulang pola lama?” tandasnya.

Pertanyaan ini membuat diskusi bergerak lebih dalam dan reflektif.

Potensi Besar, Tantangan Cara Pandang

Dari diskusi yang berlangsung, satu hal menjadi jelas, Winongo memiliki potensi yang besar. Baik dari sisi lingkungan, masyarakat, maupun peluang pengembangan ke depan.

Namun potensi tersebut belum sepenuhnya berkembang. Salah satu faktor yang muncul adalah cara pandang masyarakat terhadap kondisi yang ada.

Saat masyarakat terbiasa dengan kondisi yang ada, mereka berhenti mempertanyakannya. Padahal, perubahan hanya muncul ketika seseorang berani melihat realitas secara jujur.

Forum ini mendorong warga untuk mulai membuka cara pandang itu.

Dukungan dari Pemerintah

Plt. Lurah Winongo Dian Puspita menyambut kegiatan ini dengan optimistis. Ia melihat film sebagai cara yang lebih efektif untuk membangun kesadaran warga.

Sementara itu, Kabid Pariwisata Kota Madiun Yoga Pratama menilai kegiatan ini memiliki potensi untuk mendorong ekonomi kreatif di tingkat lokal.

“Ini menjadi pemacu bagi kita untuk mengembangkan ekonomi kreatif,” ujar Yoga.

Menurutnya, karya berbasis lokal dapat membuka peluang baru, baik dari sisi budaya maupun ekonomi daerah.

Lebih dari Sekadar Acara

Acara ditutup dengan suasana kebersamaan antarwarga. Namun proses yang terjadi selama kegiatan tidak berhenti di situ.

Banyak peserta mulai menyadari bahwa cerita dalam film bukan sekadar narasi di layar. Cerita tersebut mencerminkan realitas yang mereka hadapi sehari-hari.

Dari situ, peserta mulai sadar: perubahan tidak selalu butuh program besar. Perubahan justru dimulai dari cara melihat realitas.

Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran kolektif. Bahwa memahami realitas adalah bagian penting dari proses menuju perubahan. @dimas

Tags: Cinema IndonesiaFilm IndonesiaFilm Winongo MadiunKota MadiunTabooo PicturesUnseen Unannounced

Kamu Melewatkan Ini

FOUFO, Film yang Membuat Bahasa Madura Jadi Pemeran Utama

FOUFO, Film yang Membuat Bahasa Madura Jadi Pemeran Utama

by eko
Juli 12, 2026

Selama bertahun-tahun, film Indonesia sering memakai bahasa daerah sebagai pelengkap dialog. Kehadirannya hanya muncul sesaat sebelum bahasa Indonesia kembali mengambil...

Nganglang Desa Winongo: Menjaga Batas, Merawat Ingatan

Nganglang Desa Winongo: Menjaga Batas, Merawat Ingatan

by dimas
Juli 11, 2026

Nganglang Desa Winongo mengajarkan bahwa menjaga batas wilayah bukan sekadar tradisi, tetapi cara merawat sejarah, spiritualitas, dan identitas kampung. Tabooo.id...

Doa Berbeda, Harapan Sama: Tiga Agama Satukan Winongo dalam Bersih Desa

Doa Berbeda, Harapan Sama: Tiga Agama Satukan Winongo dalam Bersih Desa

by dimas
Juli 10, 2026

Tiga agama bersatu dalam doa bersama pada Bersih Desa Winongo untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan perdamaian bagi masyarakat. Tabooo.id: Madiun...

Next Post
Ketika Film Membuka Realitas: Berani Jujur atau Tetap Nyaman?

Ketika Film Membuka Realitas: Berani Jujur atau Tetap Nyaman?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id