Suara mesin bus meraung memecah siang. Debu beterbangan mengikuti langkah para penumpang yang datang dan pergi di sebuah terminal. Matahari menggantung tepat di atas kepala, membakar aspal dan telapak kaki mereka yang terus berjalan tanpa banyak pilihan.
Tabooo.id – Di tengah keramaian itu, seorang bocah kurus berlari menyusuri lorong sebuah terminal. Seorang pengasong menawarkan dagangan dengan suara serak. Tak jauh dari sana, seorang pengemis melantunkan nyanyian yang nyaris tenggelam oleh bising kendaraan dan teriakan para calo.
Pemandangan semacam itu pernah direkam dengan sangat jujur oleh Franky Sahilatua melalui lagu Terminal yang dirilis pada 1993.
Lebih dari tiga dekade telah berlalu. Indonesia berubah dalam banyak hal. Kota-kota tumbuh semakin tinggi, terminal direnovasi menjadi lebih modern, dan teknologi merambah hampir seluruh sisi kehidupan. Namun satu pertanyaan tampaknya belum pernah benar-benar menemukan jawaban: apakah kehidupan orang-orang yang berada di pinggir pembangunan ikut bergerak maju bersama zaman?
Ketika Terminal Menjadi Potret Sebuah Bangsa
Awal dekade 1990-an adalah masa ketika Indonesia sedang menikmati narasi besar pembangunan.
Pemerintah berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur berkembang pesat. Kawasan perkotaan meluas dari tahun ke tahun. Di berbagai daerah, pembangunan dipromosikan sebagai simbol keberhasilan bangsa yang sedang melangkah menuju masa depan.
Namun di balik optimisme itu, gelombang urbanisasi berlangsung besar-besaran. Ribuan orang meninggalkan desa demi mencari penghidupan yang lebih baik di kota. Mereka datang membawa mimpi, tetapi tidak semuanya menemukan kenyataan yang sesuai harapan.
Ada yang bekerja sebagai buruh harian dengan penghasilan tak menentu. Sebagian memilih berdagang kecil-kecilan untuk bertahan hidup. Tidak sedikit pula yang menggantungkan hidup pada pekerjaan informal tanpa kepastian masa depan.
Franky Sahilatua melihat realitas tersebut dari tempat yang sering dianggap biasa terminal.
Baginya, terminal bukan hanya ruang transit. Tempat itu menjelma menjadi miniatur Indonesia. Harapan bertemu dengan kenyataan di sana. Kemiskinan berdampingan dengan mimpi. Sementara perjuangan hidup berlangsung tanpa jeda dari pagi hingga malam.
Karena itulah Terminal terasa lebih menyerupai catatan sosial dibanding sekadar lagu balada.
Sejarawan Dr. JJ Rizal dalam diskusi Musik sebagai Kritik Zaman pada 14 Agustus 2021 pernah mengatakan:
“Franky Sahilatua dan Iwan Fals adalah jurnalis yang bernyanyi. Terminal yang dirilis tahun 1993 adalah kritik tajam terhadap fasad pembangunan Orde Baru. Mereka memperlihatkan bahwa di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan pemerintah saat itu, ada manusia-manusia yang menjadi tumbal dan terasing di ruang publik mereka sendiri.”
Pernyataan tersebut membantu menjelaskan mengapa lagu ini tidak pernah benar-benar usang.
Lagu Tentang Mereka yang Terlupakan
Banyak orang mengingat Terminal karena melodinya yang sederhana. Padahal kekuatan utama lagu itu justru terletak pada manusia-manusia yang hidup di dalam liriknya.
Anak-anak terlantar berkeliaran di antara keramaian terminal. Para pengasong menawarkan dagangan dari pagi hingga malam. Sementara pekerja kecil bertahan hidup dari hari ke hari tanpa kepastian yang jelas.
Franky tidak sedang berbicara tentang kendaraan atau bangunan. Perhatian utamanya tertuju pada mereka yang sering luput dari sorotan.
Melalui lirik-lirik sederhana, ia menghadirkan pertanyaan yang terasa mengganggu hingga sekarang: siapa yang benar-benar menikmati hasil pembangunan, dan siapa yang terus tertinggal di belakang?
Tiga puluh tahun lebih setelah lagu itu lahir, pertanyaan tersebut masih terdengar relevan.
Wajah kemiskinan memang berubah. Bentuk kerentanannya juga mengalami transformasi. Namun akar persoalannya tetap serupa.
Jika dahulu kaum marginal mudah ditemukan di terminal, pasar tradisional, atau perempatan jalan, kini mereka hadir dalam bentuk yang lebih modern.
Sebagian mencari nafkah sebagai pengemudi aplikasi dengan pendapatan yang naik turun setiap hari. Kelompok lain bekerja sebagai pekerja lepas tanpa perlindungan sosial yang memadai. Banyak kurir harian harus mengikuti ritme algoritma demi mempertahankan penghasilan. Sementara itu, tidak sedikit anak muda yang terjebak dalam pekerjaan informal tanpa jaminan masa depan yang jelas.
Sosiolog Universitas Indonesia, Prof. Dr. Paulus Wirutomo, dalam seminar sosiologi kota pada 10 Februari 2025 menjelaskan:
“Pesan tersirat dari lagu Terminal adalah tentang pengabaian kemanusiaan demi laju ekonomi. Dulu kaum marginal mengasong di terminal fisik. Hari ini esensinya sama. Mereka berpindah menjadi pekerja informal perkotaan yang terjebak dalam sistem kerja kemitraan yang rapuh. Jiwa dari lirik Franky masih hidup dalam kerentanan ekonomi kelas bawah kita saat ini.”
Pandangan tersebut menunjukkan satu kenyataan yang sulit dibantah. Perubahan zaman tidak selalu berarti perubahan nasib.
Modernisasi yang Kadang Hanya Mengubah Dekorasi
Terminal masa kini tentu berbeda dibandingkan terminal awal 1990-an.
Lantai keramik menggantikan tanah yang dulu becek saat hujan. Sistem tiket elektronik menggeser lembaran kertas yang mudah sobek. Pendingin ruangan membuat ruang tunggu terasa lebih nyaman.
Secara fisik, kemajuan terlihat jelas. Namun pertanyaan yang lebih penting bukanlah seberapa megah bangunannya.
Yang patut dipikirkan justru seberapa besar perubahan itu dirasakan oleh manusia yang hidup di dalamnya.
Budayawan Mudji Sutrisno SJ dalam refleksi budaya menyambut Hari Kebangkitan Nasional pada 22 Mei 2024 pernah mengingatkan:
“Tahun 1993, penderitaan di terminal terasa kolektif. Hari ini modernisasi memecah ruang fisik itu. Manusia modern di terminal terisolasi oleh gawai mereka sendiri. Kemiskinan hari ini menjadi lebih sunyi dan individualistis, meski mereka dikepung oleh kemewahan infrastruktur.”
Kalimat tersebut menggambarkan perubahan yang sering luput dari perhatian.
Pada masa lalu, penderitaan hadir secara terbuka dan dialami bersama. Kini banyak luka sosial tersembunyi di balik layar ponsel, laporan statistik, dan angka pertumbuhan ekonomi.
Kelompok rentan tidak benar-benar hilang. Mereka hanya semakin sulit terlihat.
Pekerjaan Rumah yang Belum Selesai
Di sinilah kekuatan terbesar lagu Terminal.
Franky tidak menawarkan solusi instan melalui lagu ini. Alih-alih berteriak lewat slogan politik, ia memilih berbicara melalui potret kehidupan sehari-hari. Pendengarnya kemudian diajak menengok kembali wajah-wajah yang sering terlupakan dalam perayaan kemajuan.
Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya ia mampu bertahan melintasi generasi.
Pembangunan tidak seharusnya hanya berbicara tentang beton, jalan tol, atau gedung pencakar langit. Lebih dari itu, pembangunan seharusnya berbicara tentang manusia.
Pertama, apakah seorang anak memiliki kesempatan meraih masa depan yang layak. Berikutnya, apakah seorang pekerja mampu hidup dengan martabat dari hasil jerih payahnya. Yang tidak kalah penting, apakah kelompok masyarakat di lapisan paling bawah benar-benar ikut menikmati hasil pertumbuhan yang terus dibanggakan.
Pengamat kebijakan publik Dr. Wahyudi Kumorotomo dalam diskusi kebijakan publik di Yogyakarta pada 22 November 2023 pernah mengingatkan:
“Lagu Terminal harus dibaca oleh pembuat kebijakan sebagai pengingat bahwa tujuan akhir dari pembangunan adalah inklusivitas. Pemerintah tidak boleh hanya bangga merenovasi fisik terminal menjadi megah, sementara warga lokal dan pedagang kecil di dalamnya tersingkir karena tidak mampu membayar sewa lapak yang mahal.”
Peringatan tersebut terasa seperti pekerjaan rumah yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Melodi yang Menolak Menjadi Kenangan
Banyak lagu hidup karena melodinya dan Sebagian bertahan karena nostalgia. Namun Terminal memiliki alasan berbeda untuk terus dikenang. Karya ini bertahan karena kejujurannya.
Lagu tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu berjalan beriringan dengan keadilan. Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menghapus ketimpangan sosial. Di balik setiap angka statistik, selalu ada manusia yang sedang berjuang mempertahankan hidup. Indonesia terus bergerak maju.
Gedung-gedung menjulang lebih tinggi dibanding tiga dekade lalu. Modernisasi infrastruktur menjangkau wilayah yang dulu sulit terhubung. Pada saat yang sama, teknologi hadir hampir di setiap aspek kehidupan manusia. Namun kemajuan tidak selalu berhasil menghapus luka lama.
Jejak kegelisahan itu masih terasa di bawah terik matahari yang membakar jalanan. Bunyi klakson kendaraan tetap menjadi latar perjuangan banyak orang mencari nafkah. Bahkan di terminal yang kini berdiri lebih megah, kisah tentang mereka yang tertinggal belum benar-benar berakhir.
Karena itulah Terminal tidak pernah menjadi sekadar lagu lama.
Franky Sahilatua menuliskannya pada 1993. Lebih dari tiga dekade kemudian, Indonesia masih menemukan bayangannya sendiri di dalam lirik yang sama.
Mungkin bukan lagunya yang terlalu relevan Bisa jadi, kita yang belum cukup jauh berubah. @teguh







