Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Perahu Retak Masih Berlayar, Tapi Ke Mana Arah Indonesia?

by teguh
Juni 2, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Tiga puluh tahun lalu, Franky Sahilatua dan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun melahirkan lagu Perahu Retak. Mereka menulisnya ketika kekuasaan masih berdiri tinggi, kritik sering berbenturan dengan tembok politik, dan banyak orang memilih diam demi keamanan.

Tabooo.id – Namun tiga dekade kemudian, lagu itu terdengar seperti percakapan yang belum selesai. Indonesia memang telah berganti pemimpin, memasuki era digital, dan menikmati berbagai kemajuan tidak bisa mengubah pesan dari lagu perahu retak. Akan tetapi, sejumlah pertanyaan lama justru kembali muncul dengan wajah baru.

“Ketika rakyat bawah merasa tidak lagi satu perahu dengan elitenya, kita sedang mempertaruhkan integrasi sosial bangsa.”

— Dr. Diana Lestari, Sosiolog

Apakah bangsa ini masih memiliki arah yang sama? Ataukah kita sedang berlayar tanpa kompas yang jelas sambil berharap ombak tidak datang terlalu besar?

Ketika Kompas Bangsa Mulai Kehilangan Arah

Franky dan Cak Nun pernah menulis lirik yang terasa sangat relevan hingga hari ini.

Ini Belum Selesai

Iman Tanpa Akal: Jalan Menuju Kesalehan atau Kebodohan?

Banjir Bandang Sumatera: Apa Arti Astacita Jika Desa Terus Tenggelam?

“Peta wilayahnya sudah kabur, kompasnya sudah hancur.”

Mereka tentu tidak sedang berbicara tentang peta laut atau alat navigasi kapal. Melalui metafora itu, keduanya mengajak publik melihat sesuatu yang lebih mendasar: arah perjalanan bangsa.

Hari ini, banyak warga mulai mempertanyakan arah tersebut. Berbagai kasus korupsi terus bermunculan. Konflik kepentingan berulang dalam berbagai bentuk. Polemik hukum berganti dari satu episode ke episode berikutnya. Sementara itu, kepercayaan masyarakat terhadap sejumlah institusi mengalami pasang surut.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan yang semakin sering terdengar di ruang publik. Masihkah negara bergerak menuju cita-cita yang sama?

Guru Besar Ilmu Sosial Prof. Dr. Ahmad Fauzi melihat fenomena itu sebagai gejala krisis yang lebih dalam daripada sekadar persoalan politik.

“Ketika peta kabur dan kompas hancur, itu adalah tanda bahwa institusi pendidikan dan nalar publik gagal menjadi pemandu jalan bagi kebijakan negara. Kita melihat kebijakan sering lahir bukan dari objektivitas ilmiah, melainkan dari transaksi kekuasaan.”

Pandangan itu mungkin terdengar tajam. Namun banyak orang merasakan kegelisahan serupa.

Sebagian elite mengaku membela rakyat. Berbagai kelompok politik berlomba menunjukkan nasionalismenya. Tidak sedikit tokoh tampil sebagai penyelamat bangsa dengan versinya masing-masing.

Ironisnya, semakin banyak pihak mengklaim memegang kompas, semakin sulit publik menemukan arah yang benar-benar jelas.

Masihkah Rakyat dan Elite Berada di Perahu yang Sama?

Pertanyaan ini semakin sering muncul dalam obrolan sehari-hari.

Di atas kertas, rakyat dan elite memang hidup dalam negara yang sama. Mereka menggunakan konstitusi yang sama, mengibarkan bendera yang sama, dan menyanyikan lagu kebangsaan yang sama.

Namun kenyataan sehari-hari sering menghadirkan pengalaman yang berbeda.

Ketika harga kebutuhan pokok naik, masyarakat harus mengatur ulang pengeluaran rumah tangga. Saat biaya pendidikan meningkat, banyak keluarga mengurangi kebutuhan lain demi masa depan anak-anak mereka. Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat, jutaan anak muda menghadapi ketidakpastian yang tidak ringan.

Sebaliknya, ruang publik justru dipenuhi pembahasan mengenai peta koalisi, pembagian kekuasaan, dan strategi menuju pemilu berikutnya.

Perbedaan fokus itulah yang perlahan menciptakan jarak.

Sosiolog Dr. Diana Lestari menilai kondisi tersebut dapat menggerus rasa kebersamaan yang selama ini menjadi fondasi bangsa.

“Air masuk dalam konteks sosiologis adalah ketidakpercayaan publik yang mulai merembes ke lambung kapal. Ketika rakyat merasa tidak lagi satu perahu dengan elitenya, integrasi sosial sedang dipertaruhkan.”

Kepercayaan adalah bahan bakar utama sebuah negara. Saat masyarakat kehilangan kepercayaan, mereka tidak lagi sibuk mencari solusi. Sebaliknya, muncul pertanyaan yang jauh lebih berbahaya.

Mengapa saya harus peduli? Pertanyaan itulah yang sering menjadi awal dari retakan sosial yang lebih besar.

Politik Dinasti dan Oligarki: Air Laut yang Terus Masuk

Dalam lagu Perahu Retak, ancaman terbesar bukan berasal dari ombak yang terlihat jelas. Bahaya justru datang dari air yang perlahan masuk ke dalam kapal.

Metafora tersebut terasa relevan dengan berbagai perdebatan politik yang muncul belakangan ini.

Air laut itu bisa menjelma menjadi oligarki yang memusatkan pengaruh ekonomi dan politik pada kelompok tertentu. Dalam bentuk lain, ia muncul sebagai politik dinasti yang membuat ruang kompetisi semakin sempit.

Banyak warga menyaksikan lingkaran nama yang sama terus menguasai jalur kekuasaan. Pada saat yang sama, figur-figur baru sering kesulitan menembus tembok politik yang telah berdiri lama.

Pengamat politik Hendra Wijaya melihat fenomena itu sebagai konsekuensi dari sistem yang semakin pragmatis.

“Nakhoda pening karena sistem politik kita terlalu mahal dan melelahkan. Kompas politik kita rusak karena orientasinya bukan lagi kesejahteraan rakyat, melainkan kelanggengan kekuasaan jangka pendek.” Tentu tidak semua pemimpin bergerak dengan cara yang sama.

Namun persepsi publik telah berubah. Dan ketika masyarakat mulai percaya bahwa permainan hanya berlangsung untuk segelintir orang, rasa memiliki terhadap demokrasi perlahan ikut melemah.

Kritik Sosial yang Menolak Menjadi Tua

Ada alasan mengapa lagu-lagu kritik sosial seperti Perahu Retak tidak pernah benar-benar hilang. Bukan karena masyarakat gemar bernostalgia.

Lagu itu terus hidup karena masalah yang dikritiknya masih terus muncul dalam bentuk yang berbeda.

Teknologi terus melaju dengan kecepatan yang sulit diimbangi. Pergantian pemerintahan berlangsung mengikuti siklus demokrasi. Media sosial bahkan mengubah cara manusia memperoleh informasi dan membentuk opini.

Meski demikian, hubungan antara rakyat dan kekuasaan tetap menjadi persoalan yang berulang.

Budayawan Suwito Raharjo melihat lagu tersebut sebagai alarm kebudayaan yang tidak pernah kehilangan makna.

“Kita sedang mengalami krisis kebudayaan yang serius. Kita kehilangan rasa malu, kehilangan kepekaan, dan perlahan kehilangan jangkar keadilan. Jika pragmatisme menggantikan nilai, perahu ini pecah dari dalam.”

Pernyataan itu mengandung pesan yang penting. Ancaman terhadap bangsa tidak selalu datang dari luar negeri, krisis global, atau tekanan ekonomi dunia.

Sering kali, kerusakan terbesar tumbuh dari dalam ketika masyarakat mulai kehilangan nilai-nilai yang selama ini menyatukan mereka.

Generasi Muda: Tidak Peduli atau Kehilangan Harapan?

Kelompok yang paling sering menjadi sorotan dalam diskusi semacam ini adalah generasi muda.

Sebagian orang menilai anak muda lebih tertarik mengikuti tren media sosial daripada memikirkan arah negara. Ada pula yang menganggap generasi sekarang terlalu sibuk mengejar popularitas digital dan melupakan politik. Namun kenyataan tidak sesederhana itu.

Kepedulian generasi muda terhadap bangsa sebenarnya belum hilang. Mereka mengikuti perkembangan politik, mengkritisi kebijakan publik, dan aktif berdiskusi di berbagai platform digital. Sayangnya, harapan mereka mulai terkikis.

Janji politik yang berulang terus mereka saksikan dari waktu ke waktu. Di saat yang sama, polemik baru selalu muncul sebelum persoalan lama selesai. Tidak sedikit perdebatan politik yang akhirnya terlihat seperti pertunjukan tanpa akhir.

Situasi itu melahirkan kelelahan kolektif Bukan karena generasi muda tidak peduli. Mereka mulai meragukan apakah negara benar-benar mendengar suara mereka.

Musisi Rian Mardika menilai karya-karya kritik sosial tetap penting untuk menjaga kesadaran generasi muda.

“Kita butuh menyuarakan Perahu Retak versi modern agar generasi muda sadar bahwa ada badai yang harus dihadapi bersama.”

Karena pada akhirnya, mereka bukan sekadar penumpang. Mereka adalah calon nakhoda yang akan menentukan arah pelayaran berikutnya.

Ini Bukan Sekadar Lagu. Ini Cermin Bangsa

Kekuatan terbesar Perahu Retak tidak terletak pada melodinya. Lagu itu bertahan karena berhasil menangkap kegelisahan yang terus berulang dari generasi ke generasi.

Ia memaksa kita menatap retakan yang selama ini kita abaikan. Melalui refleksi tersebut, kita dapat melihat bahwa ancaman terbesar bangsa tidak selalu datang dari luar. Dalam banyak kasus, bahaya muncul ketika orang-orang di dalam kapal kehilangan tujuan yang sama.

Inilah alasan mengapa lagu itu tetap hidup hingga sekarang. Ia bukan sekadar karya seni tapi dia adalah pengingat.

Pengingat bahwa bangsa tidak runtuh karena satu badai besar. Retakan kecil yang terus kita abaikan justru sering menjadi awal keruntuhan yang lebih besar.

Sejarah menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak hancur dalam satu malam. Sebagian besar keruntuhan berawal dari masalah kecil yang terus dibiarkan tumbuh. Ketika publik akhirnya menyadari besarnya persoalan, krisis sering kali sudah lebih dulu memenuhi lambung kapal.

Indonesia belum karam Namun lampu peringatan sudah berkedip di ruang kemudi.

Ketimpangan masih menganga. Kepercayaan publik terus terkikis. Polarisasi semakin mudah memecah konsentrasi bangsa. Sementara itu, banyak orang lebih sibuk memperdebatkan siapa yang memegang kemudi daripada memastikan kapal tetap bergerak ke arah yang benar.

Masalahnya bukan karena ombak terlalu besar. Persoalan sesungguhnya muncul ketika para penumpang sibuk berdebat, sementara kebocoran terus membesar tanpa ada yang memperbaikinya.

Franky Sahilatua telah menyampaikan peringatan itu tiga puluh tahun lalu. Pertanyaannya sekarang bukan apakah perahu ini retak.

Pertanyaan yang lebih penting adalah Siapa yang masih peduli untuk menambalnya?

Dan jika tidak ada yang bergerak, siapa yang akan menjelaskan kepada generasi berikutnya mengapa kita membiarkan perahu ini kehilangan arah?. @teguh



Tags: Cak NunDemokrasiFranky SahilatuaGenerasi MudaIndonesiakritik sosialLagu Perahu RetakOligarkiPerahu RetakPolitik DinastiPolitik Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Demokrasi atau Ilusi Pilihan? Saat Popularitas Mengalahkan Pengetahuan

Demokrasi atau Ilusi Pilihan? Saat Popularitas Mengalahkan Pengetahuan

by dimas
Juni 5, 2026

Demokrasi menjanjikan kesetaraan, tetapi apakah suara terbanyak selalu melahirkan keputusan terbaik? Saat emosi mengalahkan pengetahuan, bencana bisa terjadi. Tabooo.id -...

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

by dimas
Juni 5, 2026

Pembodohan struktural dan kemiskinan bukan sekadar masalah sosial. Keduanya dapat menjadi alat politik yang melemahkan daya kritis warga dan menguntungkan...

Majapahit Tidak Dikalahkan Musuh, Tapi Ego Elitnya Sendiri

Majapahit Tidak Dikalahkan Musuh, Tapi Ego Elitnya Sendiri

by teguh
Juni 4, 2026

Kendaraan melintas tanpa henti. Klakson bersahutan di bawah terik matahari. Aktivitas ekonomi bergerak seperti biasa. Di tengah kesibukan itu, satu...

Next Post
Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id