Agama lahir sebagai kekuatan perlawanan terhadap ketidakadilan. Mengapa kini ritual lebih dirayakan, sementara suara kritis justru semakin dibungkam?
Tabooo.id – Rumah ibadah semakin penuh. Kajian agama tumbuh di berbagai ruang. Simbol-simbol religius hadir dalam politik, media sosial, hingga kehidupan sehari-hari. Namun di saat yang sama, ruang untuk mengkritik ketidakadilan justru semakin menyempit. Orang lebih mudah menghakimi daripada mempertanyakan kekuasaan.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting. Apakah agama masih menjalankan peran sebagai kekuatan pembebasan, atau justru berubah menjadi sekadar identitas yang menenangkan hati tanpa menggugat kenyataan?
Pertanyaan tersebut tidak lahir untuk meragukan agama. Sebaliknya, pertanyaan itu mengajak publik melihat kembali misi awal agama yang sejak awal hadir untuk melawan penindasan, keserakahan, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Agama Lahir sebagai Gerakan Perlawanan
Sejarah menunjukkan bahwa hampir semua agama besar muncul ketika masyarakat menghadapi ketimpangan sosial.
Nabi Musa menantang kekuasaan Firaun yang memperbudak rakyat, Nabi Isa mengkritik kemunafikan elite agama dan praktik kekuasaan yang menindas kaum kecil, Nabi Muhammad membongkar struktur sosial Makkah yang membiarkan eksploitasi, ketimpangan ekonomi, dan ketidakadilan terhadap kelompok lemah.
Dengan kata lain, agama tidak pernah berdiri di ruang yang netral. Agama hadir sebagai suara moral yang mengoreksi kekuasaan ketika negara, pasar, atau kelompok dominan kehilangan keberpihakan kepada manusia.
Karena itu, agama sejak awal tidak hanya mengajarkan tata cara ibadah. Agama juga membangun kesadaran sosial agar manusia berani menolak penindasan dan memperjuangkan keadilan.
Ketika Ritual Mengalahkan Kesadaran Sosial
Perubahan mulai terlihat ketika banyak orang memisahkan ibadah dari tanggung jawab sosial.
Sebagian masyarakat mengukur kesalehan melalui simbol, pakaian, atau rutinitas ibadah. Namun perhatian terhadap korupsi, kemiskinan, eksploitasi pekerja, kerusakan lingkungan, hingga penyalahgunaan kekuasaan justru melemah.
Dalam situasi seperti ini, agama kehilangan daya kritisnya. Ritual tetap berjalan, tetapi keberanian untuk membela kelompok tertindas semakin berkurang.
Kondisi tersebut membuat agama lebih sering menjadi identitas sosial daripada sumber keberanian moral.
Kekuasaan Selalu Berusaha Menjinakkan Agama
Sejarah juga memperlihatkan bahwa banyak penguasa berusaha mendekati agama untuk memperkuat legitimasi politik.
Ketika agama kehilangan fungsi kritis, kekuasaan memperoleh ruang yang lebih luas untuk mempertahankan dominasi. Dukungan simbolik dari tokoh agama sering kali lebih mudah diperoleh daripada kritik yang jujur terhadap kebijakan publik.
Akibatnya, sebagian masyarakat lebih sibuk mempertahankan citra religius dibanding mengawasi penyalahgunaan wewenang.
Fenomena ini mengingatkan pada kritik Karl Marx yang menyebut agama dapat berubah menjadi opium masyarakat apabila kekuasaan memanfaatkannya untuk membuat rakyat menerima ketidakadilan tanpa perlawanan. Kritik tersebut tidak menyerang agama sebagai ajaran, melainkan mengingatkan bahaya ketika manusia menggunakan agama untuk melanggengkan struktur yang menindas.
Tradisi Pemikiran Islam Juga Mengajarkan Kritik
Pemikiran Islam di Indonesia sebenarnya menyimpan tradisi kritik yang kuat.
Dalam Islam dan Sosialisme, H.O.S. Tjokroaminoto menegaskan bahwa Islam tidak boleh membiarkan eksploitasi ekonomi terhadap rakyat kecil. Soekarno melalui gagasan Islam Sontoloyo juga mengkritik praktik keagamaan yang hanya berhenti pada simbol tanpa menghadirkan keberpihakan terhadap keadilan.
KH Hasyim Asy’ari melalui At-Tibyan fi an-Nahyi ‘an Muqatha’atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan menekankan pentingnya menjaga persaudaraan, mencegah permusuhan, dan menghadirkan kemaslahatan sosial. Pesan tersebut menunjukkan bahwa agama selalu berkaitan dengan kehidupan bersama, bukan sekadar urusan pribadi.
Tradisi itu membuktikan bahwa kritik terhadap penyalahgunaan agama bukanlah gagasan baru. Banyak ulama dan pemikir justru mengingatkan umat agar tidak memisahkan iman dari tanggung jawab sosial.
Ketika Kritik Dibungkam, Agama Kehilangan Suaranya
Demokrasi membutuhkan warga yang berani bertanya, mengoreksi, dan mengawasi kekuasaan.
Agama seharusnya memperkuat keberanian tersebut karena nilai-nilai keadilan selalu menuntut keberpihakan kepada mereka yang tertindas. Jika masyarakat hanya merayakan ritual tetapi takut mengkritik ketidakadilan, agama kehilangan salah satu fungsi terpentingnya sebagai kekuatan moral.
Kesalehan tidak berhenti pada banyaknya ibadah. Kesalehan juga tercermin dari keberanian membela kebenaran ketika kepentingan politik, ekonomi, atau kekuasaan mengancam kemanusiaan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan terletak pada agama. Persoalannya terletak pada bagaimana manusia memaknai agama dalam kehidupan publik.
Jika agama hanya menghadirkan ketenangan pribadi, masyarakat mungkin memperoleh kenyamanan sesaat. Namun jika agama kembali menyalakan keberanian untuk melawan ketidakadilan, agama akan kembali menjalankan peran historisnya sebagai kekuatan yang membebaskan manusia, bukan sekadar menghiburnya. @dimas







