Wiji Thukul hilang selama 28 tahun. Jejak perjuangan, puisi, dan ingatannya tetap hidup di tengah pertanyaan tentang penghilangan paksa yang belum terjawab.
Tabooo.id – Pada 26 Agustus 2026, Wiji Thukul seharusnya merayakan ulang tahun ke-63 bersama keluarganya. Namun, keluarga justru kembali menghadapi ruang kosong yang sama setelah hampir tiga dekade.
Tidak ada kepastian tentang keberadaannya. Tidak ada jawaban final tentang nasibnya. Karena itu, setiap ulang tahun Wiji selalu membawa pertanyaan yang sama ke ruang publik.
Di Jakarta Selatan, keluarga dan kawan seperjuangan kembali mengingat sosoknya. Mereka tidak sekadar mengenang seorang penyair yang pernah melawan kekuasaan melalui puisi.
Mereka merawat ingatan tentang seseorang yang hilang ketika Indonesia memasuki salah satu masa politik paling genting.
Ia menulis tentang ketakutan, kemiskinan, ketidakadilan, dan keberanian untuk melawan. Karena itu, puisinya tumbuh bersama kegelisahan sosial pada masa Orde Baru.
Kini, puluhan tahun setelah ia menghilang, karya itu tetap bergerak.
Justru ketika tubuh Wiji tidak lagi terlihat, puisinya menemukan pembaca baru. Generasi yang lahir setelah reformasi ikut membaca kegelisahan yang dahulu ia tuliskan.
Di situlah kisah Wiji menjadi lebih besar daripada biografi seorang penyair.
Wiji Hidup di Tengah Zaman yang Tidak Ramah Kritik
Wiji Thukul tumbuh sebagai penyair yang dekat dengan masyarakat kecil. Ia tidak menjaga jarak dengan persoalan yang berlangsung di sekelilingnya.
Ia melihat ketimpangan dari dekat. Ia merasakan tekanan sosial. Kemudian, ia mengubah pengalaman itu menjadi bahasa perlawanan.
Pada masa itu, kritik terhadap kekuasaan membawa risiko besar. Negara mengontrol banyak ruang publik, sementara kelompok kritis menghadapi tekanan politik.
Wiji memilih tetap bersuara.
Ia juga terlibat dalam aktivitas politik yang menempatkannya semakin dekat dengan kelompok oposisi. Pada Agustus 1997, ia menjalankan peran sebagai kurir bagi jaringan Partai Rakyat Demokratik.
Peran tersebut membuat gerakannya tidak lagi sekadar berkaitan dengan dunia kesenian. Ia masuk ke dalam pusaran perjuangan politik yang menghadapi tekanan aparat.
Setahun kemudian, Indonesia mengalami perubahan besar.
Orde Baru runtuh. Reformasi membuka ruang demokrasi. Namun, perubahan politik itu tidak otomatis membawa pulang semua orang yang menghilang.
Nama Wiji justru masuk ke dalam daftar panjang pertanyaan yang belum selesai.
Ketika Hilangnya Seseorang Menjadi Luka Keluarga
Bagi keluarga Wiji, waktu berjalan dengan cara yang berbeda.
Kalender terus berganti. Usia terus bertambah. Namun, keluarga tidak pernah memperoleh kepastian tentang apa yang terjadi kepadanya.
Situasi itu menciptakan bentuk kehilangan yang berbeda dari kematian biasa.
Keluarga tidak memiliki makam untuk didatangi. Mereka tidak memiliki kepastian untuk menerima. Mereka hanya memiliki ingatan dan pertanyaan yang terus bertahan.
Karena itu, angka 63 tahun pada 2026 memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Angka tersebut menggambarkan usia yang seharusnya Wiji jalani. Pada saat yang sama, angka itu memperlihatkan panjangnya waktu yang telah berlalu tanpa jawaban.
Setiap tahun menghadirkan paradoks yang sama.
Masyarakat mengenang Wiji sebagai tokoh perlawanan. Sementara itu, keluarga masih menghadapi kehilangan seorang anggota keluarga.
Publik dapat menjadikan Wiji sebagai simbol. Keluarga tetap mengenalnya sebagai manusia.
Perbedaan itu penting karena sejarah sering mengubah manusia menjadi ikon. Proses tersebut terkadang membuat sisi kemanusiaannya ikut menghilang.
Padahal, keluarga tidak hanya kehilangan seorang penyair.
Mereka kehilangan seseorang yang seharusnya masih memiliki kehidupan.
Puisi yang Menolak Diam
Kekuatan Wiji tidak hanya terletak pada keberaniannya melawan. Kekuatan itu juga muncul dari cara ia menerjemahkan keresahan menjadi bahasa yang mudah dipahami.
Ia tidak membutuhkan bahasa yang rumit untuk berbicara tentang ketidakadilan.
Ia membawa persoalan besar ke dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pembaca dapat menemukan pengalaman mereka sendiri dalam puisinya.
Puisi tersebut kemudian melewati batas zaman.
Generasi yang tidak mengalami langsung Orde Baru masih dapat memahami ketakutan yang ia gambarkan. Mereka juga dapat membaca keberanian yang muncul dari tekanan tersebut.
Namun, relevansi itu tidak berarti masyarakat harus memuja masa lalu.
Sebaliknya, karya Wiji dapat menjadi alat untuk membaca masa kini.
Ketika ruang kritik kembali mendapat tekanan, masyarakat dapat melihat kembali pentingnya kebebasan berbicara. Ketika kekuasaan meminta kepatuhan, karya Wiji mengingatkan bahwa kritik tetap memiliki tempat.
Dengan demikian, puisi Wiji bukan sekadar peninggalan sastra.
Ia menjadi arsip sosial yang merekam hubungan antara rakyat dan kekuasaan.
Negara Berubah, Tetapi Pertanyaan Tetap Tinggal
Reformasi mengubah banyak hal di Indonesia. Ruang politik menjadi lebih terbuka. Media tumbuh lebih bebas. Masyarakat juga memperoleh ruang lebih luas untuk menyampaikan kritik.
Namun, demokrasi tidak hanya membutuhkan kebebasan untuk berbicara.
Demokrasi juga membutuhkan keberanian untuk menghadapi masa lalu.
Kasus orang hilang menunjukkan persoalan tersebut dengan jelas. Negara tidak cukup hanya membuka ruang baru bagi masyarakat.
Negara juga perlu menjelaskan persoalan lama yang belum menemukan penyelesaian.
Dalam kasus Wiji, pertanyaan tentang keberadaannya tetap memiliki bobot kemanusiaan yang besar. Keluarga membutuhkan kepastian. Masyarakat membutuhkan kebenaran. Sejarah membutuhkan penjelasan.
Tanpa ketiganya, masa lalu akan terus meninggalkan ruang kosong.
Karena itu, memperingati Wiji tidak cukup dengan membaca puisinya. Masyarakat juga perlu mempertahankan ingatan tentang alasan mengapa ia pernah bersuara.
Jangan Biarkan Simbol Mengalahkan Manusia
Ada bahaya ketika masyarakat terlalu nyaman menjadikan seseorang sebagai simbol.
Wiji dapat menjadi simbol keberanian. Puisinya dapat menjadi simbol perlawanan. Namanya dapat menjadi simbol gerakan masyarakat sipil.
Namun, semua simbol itu tetap berasal dari seorang manusia.
Ia memiliki keluarga, ia memiliki kehidupan dan ia memiliki orang-orang yang menunggunya pulang.
Karena itu, penghormatan terhadap Wiji tidak boleh berhenti pada poster, diskusi, atau pembacaan puisi.
Penghormatan paling penting tetap berada pada upaya menjaga pertanyaan tentang nasibnya.
Jika masyarakat hanya mengingat puisinya, sejarah dapat kehilangan konteks. Sebaliknya, jika masyarakat mengingat puisi sekaligus peristiwa yang mengitarinya, ingatan akan memiliki daya kritis.
Di situlah peringatan berubah menjadi tindakan.
Ini Bukan Sekadar Kisah Seorang Penyair yang Hilang
Wiji Thukul memang seorang penyair.
Namun, sejarah kemudian menempatkannya dalam persoalan yang jauh lebih besar daripada sastra.
Ia menjadi bagian dari cerita tentang represi politik, keberanian masyarakat sipil, penghilangan paksa, dan perjuangan mencari kebenaran.
Ini bukan sekadar kisah tentang Wiji Thukul. Ini adalah pola tentang bagaimana sebuah bangsa menghadapi masa lalunya.
Sebab, sebuah negara tidak hanya menunjukkan kualitas demokrasinya melalui pemilu. Negara juga menunjukkan kualitas demokrasi melalui cara menghadapi luka sejarah.
Jika negara mampu menjelaskan masa lalu, masyarakat memperoleh dasar untuk membangun masa depan. Sebaliknya, jika pertanyaan terus menggantung, luka lama dapat terus mencari tempat dalam ingatan generasi berikutnya.
Wiji Thukul akhirnya menjadi bagian dari proses tersebut.
Tubuhnya menghilang, tetapi puisinya tetap berjalan. Namanya terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Itulah paradoks yang membuat Wiji tetap relevan.
Kekuasaan mungkin mampu membungkam suara pada suatu masa. Namun, sejarah memiliki cara sendiri untuk mengembalikan suara tersebut.
Pada 26 Agustus 2026, ketika usia Wiji seharusnya mencapai 63 tahun, publik kembali diingatkan pada persoalan itu.
Bukan sekadar tentang seorang penyair yang hilang.
Melainkan tentang sebuah pertanyaan yang belum selesai dijawab.
Dan selama pertanyaan itu masih hidup, api perjuangan Wiji Thukul belum padam. @dimas








