Indonesia darurat sampah. Produksi sampah mencapai 29,2 juta ton pada 2025, tetapi kesadaran mengurangi dan mengelolanya masih tertinggal.
Tabooo.id – Hujan turun semalaman. Pagi datang dengan kabar yang terasa akrab. Jalan tergenang. Sungai meluap. Tumpukan sampah menyangkut di jembatan. Media sosial langsung dipenuhi foto banjir, keluhan warga, dan tuntutan kepada pemerintah.
Kemarahan itu bisa dipahami. Tidak ada yang ingin melihat rumahnya terendam atau aktivitasnya lumpuh karena banjir.
Namun ada pertanyaan yang jarang benar-benar kita hadapi.
Mengapa setiap musim hujan kita sibuk membicarakan banjir, tetapi jarang membicarakan sampah yang ikut menyumbang masalah itu?
Beberapa hari setelah air surut, kehidupan kembali berjalan normal. Orang-orang kembali membeli makanan dengan kemasan sekali pakai. Pengendara kembali membuang bungkus makanan di jalan. Sebagian warga kembali menjadikan sungai dan selokan sebagai tempat pembuangan yang praktis.
Siklus itu berulang.
Indonesia Sedang Menghadapi Gunungan Sampah
Persoalan sampah di Indonesia sudah jauh melampaui urusan kebersihan lingkungan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 67,1 persen atau 19,59 juta ton sampah masih belum terkelola dengan baik.
Angka tersebut bukan sekadar data statistik.
Di balik angka itu terdapat sungai yang kehilangan fungsi ekologisnya. Selain itu, terdapat laut yang dipenuhi limbah plastik. Bahkan banyak kawasan permukiman harus hidup berdampingan dengan pencemaran yang terus meningkat.
Masalahnya, produksi sampah terus bertambah lebih cepat daripada kemampuan kita mengelolanya.
Sementara itu, tempat pemrosesan akhir di berbagai daerah semakin penuh. Di sisi lain, fasilitas daur ulang belum berkembang merata. Akibatnya, sebagian besar sampah masih berakhir di tempat yang seharusnya tidak menjadi tujuan akhirnya.
Kita Tidak Hanya Membuang Plastik
Banyak orang menganggap plastik sebagai musuh utama lingkungan. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah.
Namun data menunjukkan persoalan yang lebih luas.
Menurut SIPSN, sisa makanan menjadi jenis sampah terbesar di Indonesia dengan porsi sekitar 40 persen dari total timbulan sampah nasional. Setelah itu, sampah plastik menempati posisi berikutnya dengan porsi mendekati 20 persen.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menghadapi krisis plastik. Indonesia juga menghadapi krisis pemborosan.
Setiap hari masyarakat membeli makanan yang tidak seluruhnya dikonsumsi. Restoran membuang bahan pangan yang tidak terpakai. Rumah tangga membuang makanan yang sebenarnya masih layak dimakan.
Akibatnya, jutaan ton makanan berakhir sebagai sampah setiap tahun.
Ironisnya, pada saat yang sama masih banyak keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Karena itu, persoalan sampah tidak selalu berkaitan dengan kemiskinan atau kurangnya fasilitas. Sering kali persoalan itu justru berkaitan dengan pola konsumsi yang berlebihan.
Sampah Bukan Hanya Urusan Pemerintah
Ketika gunungan sampah muncul di pinggir jalan, banyak orang langsung menunjuk pemerintah sebagai pihak yang harus bertanggung jawab.
Padahal kenyataannya lebih rumit.
Pemerintah memang memiliki tanggung jawab membangun sistem pengelolaan sampah yang baik. Namun masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama pentingnya.
Guru Besar Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung, Prof. Enri Damanhuri, berulang kali menyoroti rendahnya budaya pemilahan sampah di Indonesia. Menurutnya, masyarakat masih mencampur sampah organik, plastik, dan residu dalam satu tempat. Akibatnya, proses pengolahan menjadi jauh lebih sulit.
Selain itu, berbagai ahli lingkungan juga menekankan bahwa tempat pembuangan akhir tidak akan pernah mampu menyelesaikan masalah jika jumlah sampah terus meningkat setiap tahun.
Artinya, solusi tidak cukup berhenti pada pengangkutan sampah.
Sebaliknya, solusi harus dimulai dari rumah, sekolah, tempat kerja, pasar, dan pusat perbelanjaan.
Ini Bukan Sekadar Sampah, Ini Soal Cara Hidup
Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian.
Kita hidup di era yang menawarkan kemudahan tanpa henti, kita memesan makanan melalui aplikasi, kita membeli barang hanya dengan satu sentuhan layar dan kita menikmati produk yang dikemas praktis dan cepat digunakan.
Namun setiap kemudahan selalu meninggalkan jejak.
Satu gelas kopi menghasilkan sampah. Satu paket belanja menghasilkan sampah. Satu makanan siap saji menghasilkan sampah.
Semakin tinggi konsumsi, semakin besar pula limbah yang muncul.
Sayangnya, banyak orang hanya menikmati manfaatnya tanpa memikirkan dampaknya.
Karena itu, persoalan sampah sebenarnya bukan hanya persoalan lingkungan. Persoalan ini juga mencerminkan hubungan manusia dengan gaya hidup modern.
Kita ingin hidup praktis. Namun kita sering mengabaikan biaya lingkungan yang harus dibayar.
Konsekuensi yang Akan Kembali kepada Kita
Banyak orang menganggap sampah hilang setelah masuk ke tempat sampah.
Padahal sampah tidak pernah benar-benar hilang.
Sampah hanya berpindah tempat.
Sebagian mengalir ke sungai, sebagian terbawa ke laut, sebagian berubah menjadi mikroplastik yang masuk ke rantai makanan, dan sebagian lagi mencemari tanah dan sumber air yang digunakan masyarakat setiap hari.
Cepat atau lambat, dampaknya kembali kepada manusia.
Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi mengapa Indonesia menghasilkan begitu banyak sampah.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Jika kita semua tahu sampah adalah masalah, mengapa kita masih menjalani kebiasaan yang terus menghasilkan lebih banyak sampah setiap hari?
Sebab pada akhirnya, yang sedang kita tumpuk bukan hanya kantong plastik, sisa makanan, atau kemasan sekali pakai.
Kita sedang menumpuk konsekuensi.
Ini bukan sekadar krisis sampah. Ini cermin dari pola hidup yang terus kita anggap wajar, meski dampaknya semakin jelas terlihat di depan mata. @dimas







