TPST Bantargebang di Bekasi kembali jadi sorotan global. Bukan karena volumenya saja, tapi karena emisi metananya yang masuk kategori “super-emitter” dunia. Dampaknya bukan cuma ke lingkungan, tapi juga ke kesehatan jutaan warga Jabodetabek.
Tabooo.id: Regional – Krisis iklim global mendorong dunia fokus pada satu gas berbahaya: metana (CH₄). Gas ini 80 kali lebih kuat dari karbon dioksida dalam memerangkap panas dalam 20 tahun pertama.
Di tengah situasi itu, TPST Bantargebang justru muncul sebagai salah satu sumber emisi terbesar di dunia. Data pemantauan satelit sepanjang 2025 menunjukkan, Bantargebang menempati peringkat kedua global dalam kategori emisi metana dari sektor sampah.
Setiap jam, lokasi ini melepaskan sekitar 6,3 ton metana ke atmosfer. Dalam beberapa periode, angka itu bahkan melonjak hingga lebih dari 12 ton per jam. Artinya, emisi di satu titik ini setara dengan dampak jutaan kendaraan bermotor dalam setahun.
Ini bukan lagi masalah lokal Bekasi atau Jakarta. Ini sudah masuk level krisis global.
Gunung Sampah yang Terus “Bernapas”
Bantargebang bukan sekadar tempat pembuangan. Ia sudah berubah jadi “gunung sampah” raksasa.
Sejak beroperasi pada 1989, luasnya berkembang hingga lebih dari 110 hektare. Tingginya kini menembus 40 meter yang setara gedung belasan lantai.
Setiap hari, sekitar 7.000–7.700 ton sampah dari Jakarta masuk ke lokasi ini. Mayoritas tidak dipilah. Sampah organik bercampur dengan plastik, kertas, dan limbah lainnya.
Di dalam timbunan itu, terjadi proses alami yaitu pembusukan tanpa oksigen. Mikroorganisme mengurai sampah organik dan menghasilkan metana dalam jumlah besar.
Karena volumenya masif dan terus bertambah, Bantargebang seperti “reaktor biologis” yang tak pernah berhenti memproduksi gas.
Satelit Ungkap Fakta yang Tak Terlihat
Teknologi satelit kini membuka fakta yang selama ini tersembunyi.
Instrumen seperti TROPOMI dan sistem Carbon Mapper memantau gas di atmosfer dari luar angkasa. Hasilnya jelas, emisi dari Bantargebang bersifat kontinu.
Setiap kali satelit melintas, metana selalu terdeteksi. Artinya, gas terus keluar tanpa henti, bukan hanya saat insiden tertentu.
Bahkan, tingkat persistensinya mencapai 100 persen pada beberapa periode 2025. Ini menandakan sistem pengelolaan gas di lokasi tersebut belum mampu menahan atau mengolah emisi yang dihasilkan.
Risiko Nyata: Kebakaran hingga Longsor
Masalah di Bantargebang tidak berhenti di angka emisi.
Metana adalah gas yang sangat mudah terbakar. Dalam kondisi tertentu, ia bisa memicu ledakan dan kebakaran.
Pada Oktober 2023, kebakaran besar melanda salah satu zona. Asap tebal menyebar hingga ke Bogor, Depok, dan Tangerang Selatan.
Risiko lain datang dari struktur fisik. Timbunan sampah yang terlalu tinggi membuat tanah tidak stabil.
Pada Maret 2026, longsor terjadi di salah satu zona dan menewaskan empat orang. Insiden ini menunjukkan bahwa krisis di Bantargebang bukan hanya soal lingkungan, tapi juga keselamatan manusia.
Udara Kotor, Warga Jadi Korban
Metana juga berkontribusi pada pembentukan ozon di permukaan tanah yaitu polutan yang berbahaya bagi paru-paru.
Selain itu, Bantargebang menghasilkan senyawa beracun lain yang menciptakan bau menyengat dan polusi udara kronis.
Dampaknya terasa langsung oleh warga sekitar. Kasus infeksi saluran pernapasan, batuk kronis, dan gangguan paru meningkat, terutama pada anak-anak.
Di level regional, polusi udara di Jakarta dikaitkan dengan lebih dari 10.000 kematian prematur setiap tahun. Kerugian ekonominya mencapai miliaran dolar.
Upaya Perbaikan: RDF dan Listrik dari Sampah
Pemerintah mulai bergerak, meski belum cukup cepat.
Salah satu solusi yang diterapkan adalah teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), yang mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif untuk industri.
Fasilitas RDF di Bantargebang dan Rorotan kini mampu mengolah ribuan ton sampah per hari. Selain itu, proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) juga mulai dikembangkan.
Sistem ini memanfaatkan gas metana untuk menghasilkan listrik, sekaligus mengurangi emisi hingga lebih dari 60 persen.
Namun, kapasitasnya masih belum mampu mengejar volume sampah yang terus meningkat.
Target Penutupan 2027
Pemerintah menetapkan target ambisius yakni menutup Bantargebang pada 2027.
Mulai 2026, volume sampah yang masuk akan dibatasi. Jakarta didorong untuk mengolah sampahnya sendiri melalui fasilitas baru di dalam kota.
Setelah ditutup, Bantargebang direncanakan berubah menjadi kawasan ramah lingkungan yang mulai dari pembangkit biogas hingga ruang hijau dan pertanian urban.
Tapi tantangannya besar. Ribuan pekerja informal bergantung pada lokasi ini. Transisi harus memastikan mereka tidak kehilangan mata pencaharian.
Alarm Keras untuk Sistem Sampah Indonesia
Kasus Bantargebang membuka satu fakta penting bahwa sistem pengelolaan sampah Indonesia masih tertinggal.
Selama sampah tidak dipilah dari rumah, selama itu pula “bom metana” akan terus terbentuk.
Jika tidak ada perubahan cepat, penutupan Bantargebang justru bisa memicu krisis baru yaitu sampah menumpuk di tempat lain.
Sebaliknya, jika dikelola dengan benar, krisis ini bisa jadi peluang. Sampah bisa berubah dari beban menjadi sumber energi dan ekonomi sirkular.
Pertanyaannya sekarang: kita mau menunggu sampai krisisnya meledak, atau mulai berubah dari sekarang? @waras





