Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bali Tidak Kotor, Kita yang Menunda Masalah Sampai Jadi Gunung

by dimas
April 14, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bali masih menjadi wajah pariwisata dunia. Namun, di balik citra itu, tersimpan realitas yang semakin sulit diabaikan oleh siapa pun yang mau melihat dengan jujur.

Ini bukan sekadar persoalan sampah. Sebaliknya, ini tentang cara kita membiarkan masalah tumbuh dan terus berulang tanpa henti.

Wajah Wisata yang Mulai Retak

Di Denpasar, Badung, serta kawasan Kuta dan Canggu, sampah tidak lagi bersembunyi. Kini, sampah memenuhi jalan, trotoar, hingga aliran air yang setiap hari dilewati warga dan wisatawan.

Selain itu, trotoar kehilangan fungsi bersihnya. Lahan kosong berubah menjadi titik pembuangan, sementara sungai kecil ikut menampung sisa aktivitas kota yang terus bertambah.

Selokan yang seharusnya mengalirkan air justru kehilangan kapasitasnya. Akibatnya, saat hujan turun, air meluap dan membawa sampah tanpa kendali ke berbagai titik permukiman.

Ini Belum Selesai

Mahasiswa Bosan Politik Kampus, Solusinya: Hapus Pemilu

Gizi Rakyat vs Gizi Koruptor

Kebiasaan yang Menggeser Kesadaran

Lama-kelamaan, warga mulai tidak bereaksi. Bukan karena setuju, melainkan karena terbiasa menghadapi kondisi tersebut setiap hari.

Made (42), warga Denpasar, menggambarkan situasi itu dengan singkat namun jelas.

“Sudah biasa. Tidak kaget lagi,” ujarnya.

Karena itu, masalah ini tidak lagi berhenti pada lingkungan semata. Lebih jauh, ini menunjukkan pergeseran batas kepedulian masyarakat.

1.500 Ton yang Terus Bertambah Setiap Hari

Setiap hari, Denpasar menghasilkan sekitar 800 hingga 1.000 ton sampah. Sementara itu, Badung menyumbang tambahan 430 hingga 500 ton.

Jika digabungkan, sekitar 1.500 ton sampah masuk ke sistem pengelolaan yang sama setiap hari.

Namun demikian, TPA Suwung sudah berada di batas kapasitasnya. Kondisi ini semakin berat setelah gangguan operasional akibat kebakaran gas metan pada 2023.

Regulasi yang Berjalan, Perilaku yang Tertinggal

Pemerintah sebenarnya telah menetapkan berbagai aturan. Peraturan daerah dan pergub sudah berlaku. Bahkan, pembatasan sampah organik ke TPA mulai diperketat menuju 2026.

Akan tetapi, di tingkat rumah tangga, situasinya berjalan berbeda. Banyak warga masih mencampur sampah tanpa pemilahan sejak dari sumbernya.

Dengan demikian, kebijakan melaju di satu jalur, sementara perilaku masyarakat tetap tertinggal di jalur lain.

Ketika Jalan Pintas Menjadi Pilihan

Saat sistem tidak mampu mengimbangi volume sampah, sebagian orang memilih jalan pintas.

Sebagian warga membuang sampah ke sungai. Sebagian lainnya membakarnya untuk mengurangi tumpukan. Mereka menganggap masalah selesai ketika sampah tidak lagi terlihat.

Namun, dampaknya tetap muncul. Asap menyebar ke permukiman, bau mengganggu lingkungan, dan risiko kesehatan meningkat tanpa disadari.

Bukan Sekadar Sampah, Tapi Cara Pandang

Masalah ini tidak berhenti pada plastik, selokan tersumbat, atau tumpukan sampah di sudut kota.

Lebih dalam lagi, masyarakat perlahan menerima kondisi itu sebagai hal yang normal. Kekacauan tidak lagi memicu reaksi kuat, melainkan menjadi bagian dari rutinitas harian.

Dengan kata lain, yang berubah bukan hanya kondisi lingkungan, tetapi juga cara kita memandang kerusakan itu sendiri.

Dampak yang Bergerak Melampaui Bali

Dampak persoalan ini tidak berhenti di Bali. Sebaliknya, pola yang sama berpotensi muncul di berbagai daerah lain.

Ketika satu wilayah gagal memperbaiki pengelolaan sampah, konsekuensinya muncul dalam bentuk banjir, polusi, dan penurunan kualitas lingkungan di tempat lain.

Artinya, masalah ini tidak pernah benar-benar lokal. Ia hanya berpindah tempat dan menunggu waktu untuk muncul kembali.

Kebiasaan yang Lebih Kuat dari Aturan

Pada dasarnya, regulasi sudah tersedia dan terus diperbarui. Namun, aturan tidak cukup kuat tanpa perubahan perilaku.

Sistem mencoba bergerak maju, tetapi kebiasaan masyarakat masih bertahan di tempat lama.

Karena itu, ketika kebiasaan lebih kuat daripada aturan, perubahan hanya berhenti sebagai dokumen, bukan kenyataan.

Yang Sebenarnya Sedang Kita Abaikan

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan hanya mengapa Bali dipenuhi sampah.

Melainkan, mengapa kita bisa hidup berdampingan dengan kerusakan yang jelas terlihat, tanpa merasa terdorong untuk benar-benar mengubahnya. @dimas

Tags: badungbalidenpasarKebijakanKotaKrisis GlobalLingkunganLingkungan HidupPariwisataPerubahanSampah

Kamu Melewatkan Ini

Bom Waktu TPA Randegan: Kota Mojokerto Kalah oleh Sampahnya Sendiri

Bom Waktu TPA Randegan: Kota Mojokerto Kalah oleh Sampahnya Sendiri

by teguh
Juni 3, 2026

"TPA Randegan membutuhkan revitalisasi secara komprehensif. Beban sampah harian yang masif tanpa dukungan infrastruktur memadai adalah bom waktu ekologis." Tabooo.id...

Rp 3 Triliun untuk Sampah: Solusi Energi Masa Depan atau Proyek Ambisius Baru?

Rp 3 Triliun untuk Sampah: Solusi Energi Masa Depan atau Proyek Ambisius Baru?

by teguh
Juni 2, 2026

Gunungan sampah yang terus membesar akhirnya mendorong pemerintah mengambil langkah besar. Pemerintah pusat kini menyiapkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi...

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

by jeje
Mei 20, 2026

Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna...

Next Post
Komdigi Gandeng Polri: Perang Kejahatan Digital, Tapi Seberapa Cepat Responsnya?

Komdigi Gandeng Polri: Perang Kejahatan Digital, Tapi Seberapa Cepat Responsnya?

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id