Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dua Musuh, Satu Kepentingan

by dimas
Juni 7, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Di balik ancaman dan negosiasi yang tak berujung, AS dan Iran ternyata terjebak dalam kepentingan yang sama: sama-sama membutuhkan lawannya untuk bertahan.

Tabooo.id – Ada ironi yang sering muncul dalam sejarah politik dunia. Musuh yang saling mengancam justru menjadi satu-satunya pihak yang mampu menyelamatkan satu sama lain.

Itulah yang sedang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran.

Di permukaan, publik melihat ancaman, bantahan, dan perang urat saraf. Presiden Donald Trump berbicara tentang kesepakatan yang hampir selesai. Teheran membantah. Washington mengancam. Iran memilih diam. Lalu muncul Qatar, Pakistan, Saudi, hingga Turki yang bergerak sebagai perantara.

Semua tampak seperti drama diplomasi yang tidak pernah selesai.

Namun jika lapisan luarnya dikupas, ada kenyataan yang jauh lebih menarik. Konflik ini mungkin bukan lagi soal siapa yang menang atau kalah. Konflik ini sudah berubah menjadi soal siapa yang lebih membutuhkan lawannya.

Ini Belum Selesai

Marxisme Melawan Politik Identitas

IPK Tinggi, Integritas Rendah?

Iran Tidak Bisa Menyerah, Tapi Juga Tidak Bisa Bertahan

Bagi Iran, masalah terbesar bukan hanya kerusakan akibat perang atau tekanan ekonomi.

Masalah sebenarnya adalah narasi.

Selama puluhan tahun, rezim Iran membangun identitas nasional di atas gagasan perlawanan. Bahwa mereka tidak tunduk pada tekanan Barat. Bahwa mereka mampu bertahan menghadapi sanksi, isolasi, dan ancaman militer.

Karena itu, menyerahkan program nuklir atau membuka akses strategis tanpa imbalan besar bukan sekadar keputusan politik. Itu bisa dianggap sebagai pengakuan kekalahan.

Masalahnya, kondisi di lapangan tidak memberi banyak pilihan.

Ekonomi tertekan. Infrastruktur rusak. Masyarakat kelelahan menghadapi ketidakpastian panjang. Kepemimpinan baru juga harus membangun legitimasi di tengah situasi yang rapuh.

Iran tidak ingin terlihat kalah.

Tetapi Iran juga tahu bahwa bertahan tanpa kompromi bisa membawa negara itu ke jurang yang lebih dalam.

Di sinilah paradoks muncul. Mereka harus mencari jalan keluar tanpa terlihat sedang keluar.

Trump Juga Sedang Mencari Jalan Pulang

Di sisi lain, Donald Trump menghadapi persoalan yang berbeda.

Ia tidak membutuhkan perang panjang.

Yang dibutuhkan Trump adalah kemenangan yang bisa dijual kepada publik Amerika.

Harga energi yang naik, ketidakpastian pasar global, dan tekanan politik domestik membuat konflik berkepanjangan menjadi beban yang tidak menguntungkan.

Ancaman keras yang terus dilontarkan Trump sering kali lebih berfungsi sebagai alat negosiasi daripada sinyal serangan nyata.

Trump memahami satu hal sederhana.

Foto jabat tangan jauh lebih bernilai secara politik dibanding gambar tank yang terus bergerak tanpa akhir.

Karena itu, Trump membutuhkan Iran sama seperti Iran membutuhkan Trump.

Iran memerlukan jalan keluar yang terhormat.

Trump memerlukan kemenangan yang terlihat meyakinkan.

Keduanya mungkin tidak akan pernah mengakuinya secara terbuka.

Namun kebutuhan itu nyata.

Sejarah Tidak Dibangun oleh Persahabatan

Banyak orang menganggap perdamaian lahir dari saling percaya.

Faktanya sering kali tidak demikian.

Ketika Presiden Richard Nixon membuka hubungan dengan China pada 1972, itu bukan karena Amerika tiba-tiba mencintai komunisme. Ketika Mesir dan Israel menandatangani Perjanjian Camp David, itu bukan karena kedua pemimpin saling menyukai.

Mereka berdamai karena kepentingan bertemu di titik yang sama.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak kesepakatan besar justru lahir ketika dua pihak sama-sama lelah menghadapi biaya konflik.

Bukan cinta yang menyatukan mereka.

Melainkan kebutuhan.

AS dan Iran hari ini tampaknya sedang bergerak ke arah yang serupa.

Yang Membayar Bukan Mereka yang Bertengkar

Masalahnya, dampak konflik ini tidak berhenti di Washington atau Teheran.

Tagihannya justru datang ke negara-negara yang tidak pernah duduk di meja perundingan.

Termasuk Indonesia.

Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia sangat sensitif terhadap gejolak di kawasan Teluk. Ketika ketegangan meningkat di sekitar Selat Hormuz, harga energi global ikut bergetar.

Rupiah melemah.

Biaya impor meningkat.

Tekanan terhadap APBN membesar.

Harga barang berpotensi ikut terdorong naik.

Ironisnya, masyarakat Indonesia tidak memiliki suara dalam konflik tersebut. Kita tidak menentukan arah negosiasi. Kita tidak mengendalikan keputusan Washington maupun Teheran.

Namun kita tetap menerima konsekuensinya.

Seperti penumpang yang tidak ikut menyetir, tetapi harus ikut membayar biaya kecelakaan.

Ini Bukan Sekadar Konflik, Ini Pola

Banyak perang modern memperlihatkan pola yang sama.

Mereka yang berada di pusat konflik sering memiliki ruang untuk bernegosiasi.

Sementara mereka yang berada jauh dari medan konflik justru ikut menanggung biaya ekonomi, sosial, dan politik.

Inilah paradoks globalisasi.

Keputusan yang dibuat ribuan kilometer dari Jakarta bisa menentukan harga BBM, biaya logistik, hingga daya beli masyarakat Indonesia.

Karena itu, isu AS-Iran bukan sekadar urusan Timur Tengah.

Ini soal bagaimana konflik antarnegara besar selalu menemukan cara untuk masuk ke dompet masyarakat biasa.

Dan mungkin di situlah ironi terbesar dari semuanya.

Dua musuh yang sedang berusaha menyelamatkan diri justru membuat negara-negara lain ikut membayar ongkosnya.

Sementara dunia menunggu apakah Washington dan Teheran akan berdamai atau kembali bertarung, satu pertanyaan tetap menggantung:

Mengapa dalam hampir setiap konflik besar, yang paling mahal membayar justru mereka yang tidak pernah diundang bermain? @dimas

Tags: Amerika Serikatdiplomasi internasionalDonald TrumpGeopolitik GlobalIranKrisis GlobalTimur Tengah

Kamu Melewatkan Ini

Bom Perang Dunia II: Ketika Sisa Bom Tahun 1944 Meledak di Tahun 2026

Bom Perang Dunia II: Ketika Sisa Bom Tahun 1944 Meledak di Tahun 2026

by teguh
Juni 2, 2026

Ledakan dahsyat yang mengguncang Kampung Yenures, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Minggu (31/05/2026) sore, awalnya terlihat sebagai...

Amerika Serikat Serang Iran Lagi: Perdamaian Tinggal Formalitas?

Amerika Serikat Serang Iran Lagi: Perdamaian Tinggal Formalitas?

by dimas
Mei 28, 2026

AS kembali menyerang Iran di Bandar Abbas saat negosiasi damai memanas. Selat Hormuz kini berubah jadi titik rawan konflik global....

Damai atau Jeda Perang? AS dan Iran Mulai Mainkan Narasi Baru

Damai atau Jeda Perang? AS dan Iran Mulai Mainkan Narasi Baru

by dimas
Mei 24, 2026

AS dan Iran menunjukkan sinyal damai baru. Namun di balik negosiasi dan pembukaan Selat Hormuz, dunia masih mencium ancaman konflik...

Next Post
Tan Malaka: Bisakah Islam dan Kiri Bersatu?

Tan Malaka: Bisakah Islam dan Kiri Bersatu?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id