Ledakan dahsyat yang mengguncang Kampung Yenures, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Minggu (31/05/2026) sore, awalnya terlihat sebagai sebuah tragedi lokal. Namun seiring terungkapnya fakta-fakta di lapangan, peristiwa tersebut menunjukkan sesuatu yang jauh lebih besar. Dan yang meledak dan menghancurkan puluhan rumah warga ternyata berasal dari sisa Bom Perang Dunia II.
Tabooo.id – Perang yang secara resmi berakhir pada 1945 itu mendadak hadir kembali di tengah kehidupan masyarakat modern. Sedikitnya lima orang meninggal dunia, tiga orang dinyatakan hilang, 19 warga mengalami luka-luka, dan 55 warga terpaksa mengungsi setelah rumah mereka rusak akibat ledakan sisa bom perang dunia II.
Tragedi ini tidak hanya menyisakan duka. Ledakan tersebut juga membuka kembali pertanyaan lama yang selama ini nyaris terlupakan mengapa bom berusia 82 tahun masih bisa mengancam nyawa warga Papua pada tahun 2026?
Biak: Pulau Kecil yang Pernah Menentukan Arah Perang Pasifik
Banyak orang mengenal Biak sebagai wilayah pesisir yang tenang di Teluk Cenderawasih. Akan tetapi, sejarah dunia menempatkan pulau ini sebagai salah satu titik paling strategis dalam Perang Dunia II.
Pada 27 Mei 1944, pasukan Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar untuk merebut Biak dari tangan Jepang. Operasi tersebut menjadi bagian penting dari strategi Sekutu untuk membuka jalur menuju Filipina sekaligus menekan pertahanan Jepang di kawasan Pasifik.
Pertempuran berlangsung sengit selama berbulan-bulan. Pesawat tempur Sekutu menjatuhkan bom ke berbagai posisi pertahanan Jepang.
Satuan artileri menggempur kawasan pesisir dan perbukitan tanpa jeda.
Sementara itu, pasukan darat menggunakan mortir, granat, ranjau, dan berbagai jenis amunisi berat dalam jumlah yang sangat besar.
Sejarawan Papua, Dr. Frans Wospakrik, menilai banyak masyarakat Indonesia belum memahami arti penting Biak dalam sejarah perang global.
“Dalam perspektif sejarah dunia, Biak bukan wilayah pinggiran. Pulau ini menjadi salah satu simpul strategis yang memengaruhi jalannya operasi militer Sekutu di Pasifik.”
Selama pertempuran berlangsung, militer dari kedua kubu mengirim ribuan ton persenjataan ke pulau tersebut.
Sebagian besar amunisi memang meledak ketika perang berlangsung. Namun ribuan lainnya tertinggal di berbagai lokasi.
Banyak bahan peledak kemudian terkubur oleh tanah, vegetasi, dan perubahan bentang alam. Sebagian lagi hilang dari catatan militer maupun dokumentasi pascaperang.
Bom yang Tidak Pernah Ikut Mengakhiri Perang
Ketika Jepang menyerah pada Agustus 1945, dunia menyambut berakhirnya perang terbesar dalam sejarah manusia.
Meski demikian, berakhirnya perang tidak otomatis menghapus seluruh jejak kekerasan yang ditinggalkannya.
Jerman masih menemukan bom Perang Dunia II hampir setiap tahun. Prancis dan Belgia secara rutin mengevakuasi proyektil artileri dari lahan pertanian.
Vietnam, Laos, dan Kamboja hingga kini terus menghadapi ancaman bahan peledak yang tertinggal dari berbagai konflik abad ke-20. Papua menghadapi kenyataan yang serupa.
Peneliti militer dari Universitas Cenderawasih, Dr. Markus Rumansara, menjelaskan bahwa banyak amunisi perang tersimpan di bawah tanah selama puluhan tahun tanpa diketahui masyarakat.
“Perubahan bentang alam membuat banyak bahan peledak tertutup vegetasi, sedimentasi, atau pembangunan baru. Karena itu keberadaannya sering tidak terdeteksi.”
Menurutnya, ancaman terbesar justru muncul ketika masyarakat mulai kehilangan ingatan kolektif tentang sejarah wilayah tempat mereka tinggal.
Generasi yang menyaksikan perang telah lama tiada Dokumentasi lapangan tidak selalu lengkap. Sementara itu, sisa persenjataan masih berada di lokasi yang sama.
“Orang-orang yang mengalami pertempuran sudah tidak ada. Sebaliknya, bom dan amunisinya masih bertahan.”
Ketika Permukiman Berdiri di Atas Bekas Medan Tempur
Waktu mengubah wajah sebuah wilayah. Bekas lokasi pertempuran perlahan berubah menjadi kampung.
Lahan kosong berkembang menjadi permukiman. Jalan-jalan baru menghubungkan kawasan yang dahulu menjadi arena baku tembak.
Aktivitas ekonomi tumbuh dan kehidupan berjalan normal. Perubahan tersebut menciptakan kesan bahwa perang telah benar-benar berlalu. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Arkeolog perang Papua, Dr. Rina Mambor, menjelaskan bahwa proses identifikasi amunisi sisa perang di Papua belum pernah dilakukan secara menyeluruh.
“Wilayah bekas pertempuran sangat luas. Selain itu, kondisi geografis Papua membuat proses pemetaan membutuhkan sumber daya yang besar.”
Hutan tropis yang lebat menutupi banyak lokasi bersejarah. Kawasan karst menyulitkan proses pelacakan.
Sedimentasi pesisir terus mengubah kontur wilayah dari waktu ke waktu. Di sisi lain, pembangunan permukiman modern ikut menggeser dan menutupi berbagai jejak perang.
Akibatnya, bom yang terkubur selama puluhan tahun dapat muncul kembali ketika seseorang menggali tanah, membangun rumah, atau memindahkan material tertentu.
Tragedi di Kampung Yenures diduga menjadi salah satu contoh paling nyata dari kondisi tersebut.
Ledakan yang Membuka Luka Lama
Kapolres Biak AKBP Ari Trestiawan memastikan bahwa ledakan berasal dari bom peninggalan Perang Dunia II. Fakta tersebut membuat aparat keamanan mengambil langkah yang sangat hati-hati.
Petugas menghentikan pencarian korban pada malam hari karena lokasi belum sepenuhnya aman. Keesokan paginya, Polda Papua mengirim Tim Penjinak Bom Gegana dari Jayapura untuk melakukan sterilisasi area.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa ancaman belum berakhir setelah ledakan pertama terjadi. Aparat bahkan menduga masih terdapat bahan peledak lain di sekitar lokasi kejadian.
Jika dugaan itu benar, maka bom yang meledak pada Minggu sore kemungkinan hanya satu bagian dari persoalan yang jauh lebih besar.
Sosiolog Papua, Dr. Yoseph Mofu, melihat tragedi ini sebagai pertemuan yang tidak terduga antara masa lalu dan masa kini.
“Masyarakat modern sering merasa ancaman datang dari teknologi baru, perubahan iklim, atau konflik politik. Namun tragedi di Biak menunjukkan bahwa ancaman juga bisa muncul dari sejarah yang tidak pernah benar-benar selesai.”
Negara yang Belum Tuntas Membersihkan Jejak Perang
Peristiwa di Yenures juga memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan negara menghadapi warisan konflik masa lalu.
Selama ini perhatian pemerintah lebih banyak tertuju pada pembangunan ekonomi, infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan.
Sebaliknya, isu amunisi sisa perang jarang masuk ke dalam agenda publik secara serius.
Padahal Papua menyimpan banyak lokasi yang pernah menjadi medan pertempuran besar. Biak bukan satu-satunya wilayah yang mengalami perang.
Jayapura juga menjadi titik penting dalam operasi militer Sekutu. Morotai memiliki sejarah serupa.
Manokwari dan sejumlah pulau kecil di kawasan Pasifik Barat pun menyimpan jejak konflik yang belum sepenuhnya dipetakan.
Budayawan Papua, Benny Giay, menilai tragedi ini harus menjadi alarm bagi pemerintah pusat maupun daerah.
“Kita selama ini memperlakukan sejarah sebagai sesuatu yang selesai ketika masuk buku pelajaran. Padahal sejarah juga meninggalkan tanggung jawab yang harus dituntaskan.”
Menurutnya, pemerintah perlu memulai pemetaan ulang kawasan bekas pertempuran sekaligus membangun sistem mitigasi yang lebih terstruktur.
Tanpa langkah tersebut, masyarakat akan terus hidup berdampingan dengan risiko yang tidak mereka pahami.
Korban dari Perang yang Tidak Pernah Mereka Ikuti
Ironi terbesar dari tragedi Yenures terletak pada siapa yang menjadi korbannya. Para korban bukan bagian dari pasukan yang pernah bertempur di Biak.
Mereka hanyalah warga sipil yang menjalani kehidupan sehari-hari.
Sebagian besar bahkan tidak memiliki hubungan apa pun dengan konflik yang pecah pada 1944 selain tinggal di tanah yang pernah menjadi medan perang.
Namun merekalah yang harus menanggung akibat dari sejarah yang belum pernah dibereskan sepenuhnya.
Ledakan menghancurkan rumah-rumah warga dalam hitungan detik. Beberapa keluarga kehilangan anggota yang mereka cintai.
Anak-anak terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka untuk sementara waktu. Pada saat yang sama, aparat masih harus memastikan apakah terdapat bahan peledak lain yang tersisa di sekitar kampung.
Bagi masyarakat Yenures, Perang Dunia II bukan lagi kisah yang tersimpan di dalam buku sejarah. Perang itu tiba-tiba hadir dalam bentuk ledakan yang mengubah kehidupan mereka.
Yang Terkubur Tidak Pernah Benar-Benar Hilang
Ledakan bom di Biak mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu tinggal di museum, arsip, atau monumen peringatan.
Terkadang sejarah bersembunyi di bawah lapisan tanah yang tampak biasa. Dalam situasi lain, ia memilih diam selama puluhan tahun tanpa menarik perhatian siapa pun.
Lalu pada suatu hari, masa lalu itu muncul kembali dan mengingatkan manusia bahwa tidak semua luka benar-benar telah sembuh.
Tragedi di Kampung Yenures bukan sekadar kecelakaan akibat bahan peledak tua.
Peristiwa itu merupakan konsekuensi dari sebuah perang yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Delapan puluh dua tahun setelah dentuman pertempuran mengguncang Biak, ledakan kembali terdengar di pulau yang sama.
Tentara Jepang sudah lama pergi. Pasukan Amerika hanya tersisa dalam catatan sejarah.
Akan tetapi, jejak perang masih bertahan dalam bentuk yang jauh lebih berbahaya bom yang gagal meledak dan terlupakan selama puluhan tahun.
“Perang Dunia II berakhir pada 1945. Namun bagi sebagian tanah di Papua, perang itu ternyata masih terus menghitung waktu.” @teguh







