Kamu pasti pernah berharap kuota internet tidak hangus. Tanpa masa aktif. Bisa dipakai kapan saja. Kedengarannya ideal. Tapi operator seluler justru melihat risiko besar di balik skema itu dan dampaknya bisa langsung kamu rasakan.
Tabooo.id: Teknologi – Dalam sidang Mahkamah Konstitusi (MK), Senin (04/05/2026), Chief Customer Experience XLSMART, Sukaca Purwokardjono, menyampaikan posisi yang cukup tegas.
Ia mengakui model kuota tanpa batas waktu bisa diterapkan. Namun ia langsung menyoroti dampaknya.
“Model berbasis volume tanpa batas waktu memang dimungkinkan. Tapi praktiknya akan menimbulkan tantangan signifikan,” ujar Sukaca.
Ia menekankan tiga hal utama kapasitas jaringan, kualitas layanan, dan potensi perubahan tarif.
Rollover: Solusi Favorit yang Bisa Jadi Masalah Baru
Banyak pengguna menyukai fitur rollover karena sisa kuota tidak hangus. Mereka bisa memakainya di periode berikutnya.
Namun Sukaca melihat risiko yang lebih besar jika semua operator menerapkan skema ini.
“Jika semua layanan memakai rollover, industri akan menghadapi masalah dalam skala besar.”
Semakin banyak pengguna menyimpan kuota, semakin berat beban jaringan saat mereka memakainya bersamaan.
Operator Bantah “Cuan dari Kuota Hangus”
Isu lama kembali muncul operator dianggap untung dari kuota yang tidak terpakai. Sukaca langsung membantah.
“Kami tidak mendapat pendapatan tambahan dari kuota yang tidak terpakai.”
Ia juga menegaskan bahwa perusahaan selalu memberi informasi transparan. Mereka mencantumkan kuota dan masa berlaku di setiap paket. Sistem juga mengirim notifikasi saat paket aktif.
Internet Bukan Listrik: Cara Kerjanya Berbeda Total
Banyak orang menyamakan kuota internet dengan listrik. Bayar, lalu pakai kapan saja. Namun operator melihatnya berbeda.
“Listrik dikonsumsi langsung tanpa dimensi waktu. Telekomunikasi bergantung pada kapasitas jaringan bersama,” jelas Sukaca.
Jaringan internet harus menyesuaikan waktu, lokasi, dan jumlah pengguna secara bersamaan. Saat banyak orang mengakses di waktu yang sama, beban langsung melonjak.
Pandangan Ahli: Beban Naik, Tarif Bisa Ikut Bergerak
Pengamat telekomunikasi dari ITB, Dr. Budi Raharjo, menjelaskan konsekuensi teknisnya.
“Kalau operator menghapus batas waktu, mereka harus menambah kapasitas besar-besaran. Biaya naik, tarif kemungkinan ikut berubah.”
Sosiolog digital dari UI, Dr. Nur Aini, melihat dari sisi perilaku.
“Tanpa batas waktu, pengguna cenderung menunda pemakaian lalu menghabiskan kuota secara bersamaan. Itu membuat pola trafik tidak stabil.”
Peran Pemerintah: Menjaga Keseimbangan yang Sulit
Pemerintah terus mendorong transparansi dan perlindungan konsumen. Tapi regulator juga harus menjaga industri tetap sehat.
Di satu sisi, publik ingin fleksibilitas dan sisi lain, jaringan butuh stabilitas.
Tabooo: Ini Bukan Soal Kuota, Ini Soal Akses Bersama
Kamu merasa membeli kuota berarti kamu “memiliki” internet. Padahal kamu hanya mendapat akses ke jaringan yang dipakai jutaan orang.
Ketika semua orang bebas memakai kapan saja tanpa batas, sistem bisa kehilangan kendali. Ini bukan sekadar fitur. Ini soal keseimbangan.
Dampaknya Buat Kamu
Kalau skema tanpa masa berlaku dipaksakan:
- Jaringan bisa melambat saat jam sibuk
- Operator bisa menaikkan tarif
- Kualitas layanan bisa turun
Yang terlihat seperti keuntungan, bisa berubah jadi kompromi besar.
Penutup
Kita sering menuntut teknologi agar lebih fleksibel. Tapi kita jarang memikirkan batas sistem di baliknya.
Sekarang pertanyaannya sederhana Kamu lebih butuh kuota yang bebas, atau internet yang tetap stabil?. @teguh





