Puluhan anak muda duduk melingkar sambil memegang buku di Alun-Alun Kota Madiun, Minggu (3/5/2026). Mereka memanfaatkan ruang terbuka kota itu untuk membaca, bertukar cerita, dan merayakan literasi dalam kegiatan yang digagas komunitas Madiun Book Party.
Tabooo.id: Regional – Suasana akhir pekan di alun-alun terlihat berbeda dari biasanya. Di tengah pengunjung yang berjalan santai, sekelompok anak muda memilih duduk bersama sambil membuka halaman buku. Mereka datang dari latar belakang yang beragam mulai dari mahasiswa hingga pekerja namun memiliki satu minat yang sama: membaca.
Komunitas Madiun Book Party menginisiasi kegiatan ini untuk menghadirkan ruang sederhana bagi anak muda yang ingin kembali dekat dengan literasi. Tanpa panggung dan tanpa format acara yang kaku, peserta berkumpul, membaca buku, lalu berdiskusi tentang isi bacaan mereka.
Membaca Buku di Tengah Ruang Publik
Peserta memulai kegiatan dengan sesi membaca senyap selama sekitar 20 menit. Setiap orang membuka buku pilihannya masing-masing. Beberapa peserta membaca novel, sementara yang lain memilih buku pengembangan diri atau buku nonfiksi.
Setelah sesi membaca selesai, peserta langsung membentuk beberapa kelompok kecil. Di dalam kelompok itu, setiap orang menceritakan isi buku yang ia baca. Peserta lain menanggapi cerita tersebut, mengajukan pertanyaan, atau membagikan pandangan mereka.
Percakapan berkembang secara alami. Sebagian peserta membahas tokoh dalam novel, sebagian lain membicarakan gagasan dalam buku nonfiksi. Beberapa peserta bahkan mengaitkan isi buku dengan pengalaman pribadi mereka.
Cara Sederhana Menumbuhkan Minat Baca
Ketua komunitas Madiun Book Party, Dede, mengatakan komunitasnya sengaja membuat kegiatan sederhana agar anak muda merasa lebih dekat dengan buku.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda agar lebih tertarik membaca buku. Selain itu juga menjadi ruang berkumpul bagi teman-teman yang memiliki hobi membaca untuk saling berbagi cerita dan membangun relasi, karena peserta yang datang berasal dari latar belakang yang berbeda seperti mahasiswa maupun pekerja,” ujarnya.
Dede menjelaskan bahwa komunitasnya memilih alun-alun sebagai lokasi kegiatan agar membaca tidak selalu identik dengan ruang tertutup seperti perpustakaan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa membaca bisa menjadi aktivitas yang santai dan menyenangkan. Orang yang lewat juga bisa melihat bahwa membaca buku bisa menjadi kegiatan sosial,” jelasnya.
Diskusi Buku Membuka Perspektif Baru
Salah satu peserta, Putra, mengaku menikmati kegiatan tersebut. Ia merasakan suasana berbeda ketika membaca buku bersama orang lain.
Menurutnya, diskusi buku memberi kesempatan bagi peserta untuk mendengar sudut pandang baru tentang isi buku.
“Saya senang mengikuti kegiatan Madiun Book Party seperti membaca buku dan sharing buku. Saya berharap anak-anak muda terutama Gen Z bisa lebih tertarik membaca buku, dan semoga ke depan kegiatan seperti ini bisa lebih sering digelar di Madiun,” katanya.
Literasi yang Dibungkus Suasana Santai
Panitia kemudian menutup kegiatan dengan permainan literasi berupa tantangan menebak judul buku. Peserta mencoba menebak judul berdasarkan petunjuk singkat yang panitia berikan.
Tawa dan candaan muncul sepanjang permainan. Setelah permainan selesai, para peserta berkumpul dan mengabadikan momen dengan foto bersama.
Pertemuan sore itu menunjukkan satu hal sederhana: membaca tidak selalu menjadi aktivitas yang sunyi dan individual. Melalui kegiatan seperti yang digagas Madiun Book Party, buku justru menjadi alasan bagi anak muda untuk bertemu, berdiskusi, dan membangun relasi di ruang publik kota. @dimas




