Di saat banyak sektor menahan langkah, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) justru menekan pedal gas lebih dalam. Kuartal I-2026 langsung mencatat lonjakan kinerja dan memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Tabooo.id: News – Sepanjang Januari–Maret 2026, BRPT mencatat pendapatan US$2,57 miliar. Angka ini melonjak 232% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan ini tidak datang sendirian. Chandra Asri Group mendorong performa dari sisi operasional. Selain itu, integrasi aset ritel ExxonMobil di Singapura langsung memberi efek nyata.
Energi Hijau Naik, Tapi Ini Bukan Sekadar Soal Lingkungan
Di sisi lain, segmen energi terbarukan juga ikut menguat. BRPT mencatat pendapatan US$165 juta dari sektor ini, naik 9% secara tahunan.
Pembangkit geothermal tetap stabil. Sementara itu, produksi energi angin terus meningkat. Karena itu, strategi diversifikasi mulai terlihat hasilnya.
Pendapatan Meledak, Biaya Ikut Mengejar
Namun, kenaikan pendapatan juga membawa tekanan. BRPT menaikkan beban pokok pendapatan menjadi US$1,98 miliar, jauh di atas US$650 juta tahun lalu.
Meski begitu, perusahaan tetap mencetak laba bruto sebesar US$580 juta. Angka ini melonjak 372%.
Artinya, perusahaan tidak hanya tumbuh, tetapi juga menjaga efisiensi di tengah kenaikan biaya.
Kilang Jadi Mesin Uang, Petrokimia Masih Tertahan
Selanjutnya, BRPT mencetak EBITDA sebesar US$567 juta. Angka ini melonjak 288% dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Margin kilang di Singapura mendorong kinerja ini. Selain itu, perusahaan mengoptimalkan bauran produk dan menjaga disiplin pengadaan bahan baku.
Namun, di sisi lain, segmen petrokimia masih menghadapi tekanan. Volatilitas belum benar-benar hilang.
Ini Bukan Sekadar Untung Ini Efek dari Dunia yang Kacau
BRPT membukukan laba sebelum pajak sebesar US$271 juta. Angka ini melonjak 803% dibanding tahun lalu.
Selain itu, laba bersih yang diatribusikan ke induk mencapai US$90,47 juta, naik 460%.
Direktur Utama BRPT Agus Pangestu menegaskan bahwa kinerja ini muncul di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak global.
Artinya, kondisi global yang tidak stabil justru ikut mendorong performa.
Semua Naik, Termasuk Risiko yang Tidak Kelihatan
Sementara itu, BRPT mencatat total aset sebesar US$17,61 miliar. Perusahaan juga menjaga rasio utang terhadap ekuitas di level 0,77x.
Likuiditas tetap kuat. Namun, risiko global masih membayangi ke depan.
Rekor Tercipta, Tapi Ujian Baru Baru Dimulai
Pada akhirnya, BRPT berhasil mencetak lonjakan kinerja yang signifikan. Namun, pertanyaan besar masih tersisa.
Apakah tren ini bisa bertahan saat kondisi global berubah?
Ini bukan sekadar lonjakan laba. Ini ujian daya tahan.
Karena dalam industri energi, yang menentukan bukan seberapa cepat naik melainkan seberapa lama bisa bertahan saat tekanan datang.@eko



