Di tengah kebiasaan scroll tanpa henti di layar ponsel, membaca buku perlahan menjadi aktivitas yang semakin jarang terlihat di kalangan anak muda. Data literasi nasional bahkan menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia masih berada pada tingkat yang memprihatinkan, sementara waktu yang dihabiskan untuk menatap layar terus meningkat.
Tabooo.id: Deep – Di Alun-Alun Kota Madiun pada Minggu (3/5/2026), puluhan anak muda justru melakukan hal yang berlawanan dengan arus kebiasaan digital itu. Mereka duduk melingkar sambil membuka buku, lalu berdiskusi tentang isi bacaan dalam kegiatan yang digagas komunitas Madiun Book Party.
Di tengah dominasi budaya layar dan rendahnya angka literasi, pertemuan kecil ini menjadi upaya sederhana untuk mengajak generasi muda kembali dekat dengan buku. Aktivitas membaca yang biasanya berlangsung sunyi berubah menjadi ruang percakapan tempat ide, pengalaman, dan gagasan dari buku saling bertemu di ruang publik kota.
Di tengah rendahnya angka literasi dan kuatnya budaya layar, pertemuan kecil ini memunculkan pertanyaan sederhana: apakah membaca masih punya tempat di generasi yang hidup dari scroll ke scroll berikutnya?
Sebagian peserta membuka novel, sebagian lain membawa buku nonfiksi, buku pengembangan diri, hingga bacaan reflektif. Mereka tidak sekadar membaca, tetapi juga membicarakan gagasan, cerita, dan pengalaman yang mereka temukan dari buku tersebut.
Kegiatan sederhana ini menghadirkan ruang kecil bagi literasi di tengah budaya digital yang semakin mendominasi kehidupan anak muda.
Ketika Membaca Kembali Hadir di Ruang Publik
Komunitas Madiun Book Party menginisiasi kegiatan membaca bersama di ruang terbuka agar literasi tidak lagi terasa eksklusif atau formal. Mereka ingin membawa buku keluar dari perpustakaan dan ruang belajar, lalu menempatkannya di tengah ruang publik kota.
Peserta memulai kegiatan dengan sesi membaca senyap selama sekitar 20 menit. Setiap orang membuka buku pilihannya masing-masing. Sebagian peserta membaca novel, sementara yang lain memilih buku pengembangan diri atau buku nonfiksi.
Setelah sesi membaca selesai, peserta membentuk kelompok-kelompok kecil untuk berbagi cerita tentang isi buku yang mereka baca. Dalam kelompok tersebut, setiap orang mendapat kesempatan menceritakan gagasan utama dari buku yang dibaca.
Diskusi berlangsung santai namun hidup. Peserta saling menanggapi, mengajukan pertanyaan, dan mengaitkan isi buku dengan pengalaman pribadi mereka. Suasana obrolan yang cair membuat kegiatan membaca terasa lebih dekat dan menyenangkan.
Ketua komunitas Madiun Book Party, Dede, mengatakan kegiatan ini berangkat dari kegelisahan sederhana: minat baca anak muda semakin menurun.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda agar lebih tertarik membaca buku. Selain itu juga menjadi ruang berkumpul bagi teman-teman yang memiliki hobi membaca untuk saling berbagi cerita dan membangun relasi,” ujarnya.
Menurut Dede, ruang publik seperti alun-alun menjadi tempat yang tepat untuk menunjukkan bahwa membaca tidak harus identik dengan ruang tertutup atau suasana formal seperti perpustakaan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa membaca bisa menjadi aktivitas santai. Orang yang lewat juga bisa melihat bahwa membaca buku bisa menjadi kegiatan sosial,” tambahnya.
Angka Literasi yang Masih Rendah
Upaya kecil komunitas literasi seperti ini muncul di tengah realitas yang tidak sederhana. Data literasi di Indonesia masih menunjukkan angka yang memprihatinkan.
UNESCO pernah menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia berada pada tingkat yang sangat rendah. Salah satu data yang sering dikutip menunjukkan rasio minat baca sekitar 0,001 persen. Artinya, dari seribu orang Indonesia, hanya satu orang yang memiliki kebiasaan membaca secara serius.
Penelitian World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University juga menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara dalam hal minat membaca. Posisi ini bahkan berada di bawah Thailand dan hanya sedikit di atas Botswana.
Ironisnya, dari sisi infrastruktur membaca seperti ketersediaan buku dan fasilitas pendidikan Indonesia sebenarnya tidak tertinggal jauh dari banyak negara lain.
Scroll Tanpa Henti di Era Digital
Pada saat yang sama, penggunaan gawai di Indonesia terus meningkat. Laporan dari We Are Social menunjukkan masyarakat Indonesia dapat menghabiskan waktu hingga sekitar sembilan jam per hari di depan layar.
Sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk media sosial. Aktivitas scroll, like, dan share sering kali menggantikan waktu membaca yang lebih mendalam.
Fenomena ini tidak hanya memengaruhi kebiasaan membaca, tetapi juga cara masyarakat menerima informasi. Banyak orang mengonsumsi informasi secara cepat tanpa proses verifikasi yang memadai.
Situasi ini kemudian melahirkan fenomena yang sering disebut sebagai post-truth, yaitu kondisi ketika emosi dan keyakinan pribadi lebih memengaruhi opini publik dibandingkan fakta objektif.
Literasi sebagai Benteng Informasi
Dalam konteks itu, membaca buku tidak sekadar berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis.
Masyarakat yang terbiasa membaca cenderung memiliki kemampuan lebih baik dalam memahami informasi, memverifikasi fakta, dan menilai kredibilitas sumber berita.
Tanpa literasi yang kuat, masyarakat menjadi lebih rentan terhadap hoaks, provokasi, dan disinformasi yang beredar di media sosial.
Karena itu, kegiatan sederhana seperti membaca bersama sebenarnya memiliki makna yang lebih luas. Ia menjadi upaya kecil untuk membangun budaya berpikir yang lebih reflektif di tengah arus informasi digital yang bergerak sangat cepat.
Dari Buku ke Percakapan
Bagi sebagian peserta, kegiatan membaca bersama ini memberikan pengalaman yang berbeda dari membaca sendirian.
Salah satu peserta, Putra, mengaku menikmati suasana diskusi yang muncul setelah sesi membaca.
“Saya senang mengikuti kegiatan Madiun Book Party seperti membaca buku dan sharing buku. Saya berharap anak-anak muda terutama Gen Z bisa lebih tertarik membaca buku,” katanya.
Menurutnya, diskusi buku membuka kesempatan bagi peserta untuk mendengar sudut pandang baru terhadap isi buku yang dibaca.
Kegiatan kemudian berlanjut dengan permainan literasi berupa tantangan menebak judul buku. Peserta mencoba menebak judul berdasarkan petunjuk singkat yang diberikan panitia.
Tawa dan candaan mengisi sesi penutup sebelum para peserta mengabadikan momen dengan foto bersama.
Pertemuan sore itu mungkin terlihat sederhana. Namun di tengah budaya scroll yang semakin kuat, puluhan anak muda yang duduk melingkar dengan buku di tangan menghadirkan pesan yang cukup jelas: membaca masih punya tempat di ruang publik dan mungkin juga di masa depan. @dimas




