Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan, Ada Apa dengan Demokrasi Kita?

by dimas
Mei 12, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Pembubaran pemutaran film Pesta Babi memantik pertanyaan besar tentang kebebasan berekspresi, menyempitnya ruang sipil, dan cara negara mengontrol narasi publik di Indonesia.

Tabooo.id – Suara proyektor belum selesai berdengung ketika aparat datang. Diskusi bahkan belum benar-benar dimulai. Tapi malam itu di Benteng Oranje, Ternate, aparat menghentikan pemutaran film dokumenter Pesta Babi. Mereka menilai film itu provokatif dan berpotensi memicu kegaduhan.

Pertanyaannya sederhana sejak kapan menonton film berubah menjadi ancaman keamanan?

Sekilas, kejadian itu tampak seperti pembubaran acara biasa. Namun masalahnya jauh lebih besar. Demokrasi jarang runtuh lewat satu ledakan besar. Retakan biasanya muncul pelan-pelan mulai dari ruang diskusi yang diawasi, kritik yang dicurigai, sampai warga yang akhirnya memilih diam.

Kasus Pesta Babi memperlihatkan satu hal penting negara kembali gelisah terhadap narasi yang tidak bisa mereka kendalikan sepenuhnya. Kampus, komunitas, dan ruang budaya kini menghadapi pola serupa. Aparat mengawasi acara, pihak tertentu memberi tekanan, lalu rasa takut menyebar ke mana-mana.

Film yang Membuat Kekuasaan Gelisah

Film Pesta Babi berbicara tentang konflik agraria di Papua Selatan. Dokumenter itu menyoroti perjuangan masyarakat adat yang mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi industri besar.

Ini Belum Selesai

Ketika Pembangunan Terlihat Megah, Tapi Rakyat Tetap Gelisah

Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

Namun publik justru melihat reaksi yang jauh lebih keras daripada isi filmnya sendiri.

Situasi itu memunculkan pertanyaan lain apakah yang mereka takutkan benar-benar isi filmnya, atau kemungkinan publik mulai melihat kenyataan dari sudut pandang berbeda?

Di titik inilah persoalan berubah menjadi lebih besar daripada sekadar layar yang mati.

Demokrasi seharusnya memberi ruang bagi berbagai suara, termasuk suara yang membuat penguasa tidak nyaman. Tapi belakangan publik menyaksikan banyak ruang diskusi mendapat tekanan. Otoritas kampus menghentikan acara, aparat mendata peserta, dan sebagian media mulai membatasi liputan mereka sendiri karena takut tekanan politik maupun ekonomi.

Akibatnya, publik mulai meragukan kebebasan berbicara di negeri ini.

Represi dengan Wajah Baru

Kontrol hari ini tidak lagi selalu muncul dalam bentuk larangan terang-terangan seperti era Orde Baru. Kekuasaan kini memakai cara yang lebih halus dan lebih cair.

Tekanan ekonomi, ancaman digital, kriminalisasi, hingga pendekatan “kerja sama” terhadap media alternatif menjadi pola baru pengendalian narasi. Represi modern tidak selalu hadir lewat bentakan. Kadang kekuasaan memakai pendekatan yang tampak ramah, lalu perlahan membangun ketergantungan.

Cara seperti ini justru lebih sulit dikenali publik.

Media besar mulai berhati-hati karena kepentingan bisnis dan iklan. Di sisi lain, media alternatif menghadapi pengawasan dan tekanan yang terus meningkat. Situasi itu membuat ruang publik kehilangan keberagaman perspektif. Narasi yang aman bagi kekuasaan perlahan mendominasi percakapan.

Padahal demokrasi tidak pernah tumbuh dari kenyamanan.

Demokrasi hidup dari debat, kritik, perbedaan gagasan, dan keberanian warga untuk mempertanyakan keadaan. Film dokumenter, forum diskusi, dan ruang percakapan publik seharusnya menjadi tanda demokrasi sehat bukan ancaman yang harus dicurigai.

Ketika Publik Mulai Memilih Diam

Pembubaran nobar Pesta Babi akhirnya bukan cuma soal pelarangan film. Peristiwa ini menjadi alarm tentang menyempitnya ruang sipil di Indonesia.

Rasa takut kini muncul lewat cara yang lebih sunyi. Banyak orang memilih diam sebelum sempat berbicara. Sebagian komunitas mulai berpikir dua kali sebelum menggelar diskusi. Media juga semakin berhitung sebelum mengangkat isu sensitif.

Sejarah menunjukkan pola yang hampir selalu sama. Ketika negara mulai takut pada film, media independen, atau percakapan publik yang liar, biasanya mereka bukan takut pada ancaman keamanan.

Mereka takut pada warga yang mulai berani berpikir sendiri.

Lalu sekarang pertanyaannya tinggal satu kalau ruang diskusi saja mulai dianggap berbahaya, sebenarnya siapa yang paling takut pada kebenaran?

“Negara yang takut pada film biasanya sedang takut pada warganya sendiri.” @dimas

Tags: Film Pesta BabiKebebasan BerekspresiKontrol NarasiMedia AlternatifPesta BabiRuang Sipil

Kamu Melewatkan Ini

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Katanya Reformasi Polri Total, Tapi Kenapa Praktik Lama Belum Benar-Benar Hilang?

Katanya Reformasi Polri Total, Tapi Kenapa Praktik Lama Belum Benar-Benar Hilang?

by dimas
Mei 12, 2026

Reformasi Polri kembali dipertanyakan ketika praktik “uang damai”, pungli, dan transaksi hukum masih dianggap nyata di tengah masyarakat. Benarkah masalahnya...

Perempuan Pembela HAM: Demokrasi Butuh Mereka, Kekuasaan Takut Suara Mereka

Perempuan Pembela HAM: Demokrasi Butuh Mereka, Kekuasaan Takut Suara Mereka

by dimas
Mei 12, 2026

Perempuan pembela HAM menjadi garda depan demokrasi dan perlindungan masyarakat rentan. Namun kriminalisasi dan pembungkaman masih terus terjadi. Di tengah...

Next Post
GTA 6 Habiskan Rp 26 Triliun, Ini Game atau Negara Kecil?

GTA 6 Habiskan Rp 26 Triliun, Ini Game atau Negara Kecil?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Culture

© 2026 Tabooo.id