Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Katanya Reformasi Polri Total, Tapi Kenapa Praktik Lama Belum Benar-Benar Hilang?

by dimas
Mei 12, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Reformasi Polri kembali dipertanyakan ketika praktik “uang damai”, pungli, dan transaksi hukum masih dianggap nyata di tengah masyarakat. Benarkah masalahnya hanya oknum?

Tabooo.id – Reformasi Polri kembali masuk panggung. Lagi. Negara terus bicara soal perubahan kultur, integritas, hingga polisi humanis. Tapi di jalanan, masyarakat masih akrab dengan satu kalimat lama yang terasa tidak pernah pensiun “Bisa damai nggak, Pak?”

Ironisnya, kalimat itu justru terdengar lebih hidup dibanding slogan reformasi sendiri.

“Rahasia Umum” yang Semua Orang Sudah Tahu

Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP) mengakui budaya korupsi masih mengakar di tubuh kepolisian. Laporan mereka memuat daftar persoalan yang sebenarnya sudah lama beredar di tengah masyarakat pungutan liar dalam pelayanan, transaksi perkara, dugaan jual beli jabatan, hingga budaya setoran internal.

Publik tidak terkejut membaca itu. Banyak orang justru merasa negara baru mengakui sesuatu yang selama ini mereka alami sendiri.

Masalahnya pun terasa lebih besar daripada sekadar perilaku segelintir oknum. Sebab pola yang sama terus muncul dari proses rekrutmen sampai penyidikan. Situasi itu memunculkan pertanyaan yang makin sulit dihindari: apakah sistem memang membiarkan praktik seperti ini terus hidup?

Ini Belum Selesai

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Ketika Hukum Terasa Seperti Barang Premium

Di negeri yang mengaku menjunjung hukum, keadilan kadang terasa seperti layanan eksklusif. Proses bisa cepat kalau punya akses. Hukuman bisa ringan kalau punya uang. Sementara masyarakat kecil sering kali hanya membawa rasa takut saat berhadapan dengan aparat.

Pengamat dari Universitas Gadjah Mada, Achmad Munjid, bahkan menilai hukum perlahan berubah menjadi instrumen transaksi. Semakin besar perkara dan semakin kuat elite yang terlibat, hukum justru makin kehilangan ketegasannya.

Ucapan itu terdengar pahit karena terlalu dekat dengan realitas sehari-hari.

Masyarakat juga terlalu sering menyaksikan pola yang sama berulang. Aparat tertangkap kasus, institusi menjanjikan evaluasi, lalu muncul slogan baru tentang reformasi. Namun beberapa bulan kemudian, kasus serupa kembali muncul seperti serial panjang yang tidak pernah benar-benar tamat.

Reformasi atau Sekadar Ganti Istilah?

Reformasi akhirnya terdengar seperti kata yang terus dipoles agar terlihat segar, sementara mesin lama masih bekerja dengan pola yang sama.

Pengamat kepolisian Bambang Rukminto mengingatkan bahwa perubahan kultur tidak akan berjalan tanpa perubahan struktur kekuasaan. Menurutnya, budaya lahir dari sistem yang membentuknya. Kalau sistem lama tetap bertahan, jargon perubahan hanya menjadi kosmetik institusional.

Bahasanya berubah. Perilakunya tetap sama.

Di titik itulah publik mulai lelah.

Masyarakat tidak membutuhkan slogan baru setiap kali skandal muncul. Publik hanya ingin hukum bekerja tanpa memilih dompet, jabatan, atau koneksi.

Karena ketika hukum masih bisa dinegosiasikan, orang miskin memang sering hanya kebagian takut.

Negara Sibuk Memperbaiki Citra, Publik Mencari Keadilan

Hari ini, negara tampak sibuk memperbaiki citra institusi. Tapi masyarakat justru menunggu keberanian yang lebih nyata membersihkan sistem sampai ke akarnya, bukan sekadar mengganti bahasa konferensi pers.

Sebab publik sudah terlalu lama hidup dalam ironi.

Semua orang diminta percaya pada hukum. Tapi terlalu banyak orang juga melihat hukum berubah arah ketika uang mulai bicara.

“Di negeri ini, kadang yang paling mahal bukan pengacara tapi akses menuju keadilan.” @dimas

Tags: Budaya KorupsiHukum IndonesiaKeadilan SosialReformasi PolriRuang Sipil

Kamu Melewatkan Ini

Kapolri Rombak Jajaran, Reformasi Polri atau Sekadar Rotasi?

Kapolri Rombak Jajaran, Reformasi Polri atau Sekadar Rotasi?

by dimas
Oktober 13, 2026

Kapolri merombak ratusan personel Polri dalam dua gelombang mutasi. Apakah langkah ini mendorong reformasi atau sekadar pergantian jabatan? Tabooo.id -...

Baru Sehari Dilantik, Suyudi Langsung Rombak 88 Perwira

Baru Sehari Dilantik, Suyudi Langsung Rombak 88 Perwira

by dimas
Oktober 4, 2026

Baru sehari dilantik sebagai Kapolri, Jenderal Suyudi Ario Seto langsung merombak 88 perwira dalam langkah cepat menata kembali tubuh Polri....

Di Balik Tembok Lapas Cibinong: Ketika Pengawasan Justru Datang dari Luar

Di Balik Tembok Lapas Cibinong: Ketika Pengawasan Justru Datang dari Luar

by teguh
September 28, 2026

Di balik tembok lapas Cibinong seharusnya membatasi ruang gerak warga binaan. Namun, temuan Ombudsman RI di Lapas Kelas IIA Cibinong...

Next Post
Hustle Culture Gen Z: Agar Sukses atau Terlihat Sukses?

Hustle Culture Gen Z: Agar Sukses atau Terlihat Sukses?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id