Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

by Waras
Mei 11, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Dulu banjir datang setahun sekali. Sekarang, banyak kota di Indonesia terasa seperti tinggal menunggu giliran tenggelam. Hujan memang makin ekstrem. Tapi masalahnya bukan cuma cuaca. Kota-kota kita tumbuh terlalu cepat, terlalu padat, dan terlalu sering dibangun tanpa memikirkan air akan pergi ke mana. Masalahnya, ketika beton terus menang dan ruang resapan terus kalah, air akhirnya memilih masuk ke rumah warga. Dan itu mulai terasa seperti pola nasional, bukan lagi bencana musiman.

Tabooo.id: Jakarta, Semarang, Demak, Pekalongan, Kendari, hingga beberapa kawasan Bandung dan Surabaya menghadapi ancaman yang mirip: kota semakin sulit menyerap air.

Hutan kota menyusut. Drainase tua tidak mampu menahan debit hujan baru. Sungai menyempit karena pembangunan liar. Sementara itu, permukaan tanah di beberapa kota terus turun akibat eksploitasi air tanah.

Akhirnya, hujan deras yang dulu dianggap “normal” sekarang bisa langsung berubah jadi bencana.

Ironisnya, banyak kota justru sibuk membangun mal, apartemen, dan jalan beton, tapi lupa membangun sistem air yang kuat. Kota terlihat modern di permukaan, tapi rapuh di bawahnya.

Ini Bukan Sekadar Hujan. Ini Krisis Tata Kota

Setiap kali banjir datang, narasi yang muncul hampir selalu sama: curah hujan tinggi.

Ini Belum Selesai

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

Karnaval Kemerdekaan dan Upaya Menumbuhkan Nasionalisme Anak

Padahal, hujan hanya pemicu. Masalah utamanya ada pada tata kota yang gagal membaca realitas iklim baru.

Indonesia sekarang menghadapi kombinasi berbahaya:

  • perubahan iklim global,
  • urbanisasi agresif,
  • minim ruang hijau,
  • dan infrastruktur air yang tertinggal.

Akibatnya, banyak kota berubah seperti mangkuk raksasa. Air masuk cepat, tapi keluarnya lambat.

Kendari jadi contoh terbaru. Dalam beberapa hari, hujan ekstrem langsung melumpuhkan kota. Jalan berubah jadi sungai. Rumah tenggelam. Aktivitas ekonomi berhenti.

Dan pola itu mulai terlihat di banyak daerah lain.

Generasi Urban Sedang Hidup di Kota yang Rapuh

Masalah ini bukan cuma soal banjir hari ini. Ini soal masa depan generasi urban Indonesia.

Harga properti terus naik, tapi keamanan lingkungannya justru turun.

Anak muda dipaksa hidup di kota yang:

  • panas,
  • padat,
  • minim pohon,
  • mahal,
  • dan makin rentan tenggelam.

Lucunya, iklan properti masih menjual “view kota modern”, sementara warga mulai sibuk mengecek tinggi genangan tiap musim hujan.

Ini bukan sekadar ironi. Ini tanda bahwa pembangunan kita terlalu fokus pada pertumbuhan visual, tapi lupa membangun daya tahan kota.

Kota Bukan Tenggelam Mendadak. Tapi Tenggelam Pelan-Pelan

Bencana besar sebenarnya jarang datang tiba-tiba.

Ia muncul dari masalah kecil yang dibiarkan bertahun-tahun:
drainase buruk,
alih fungsi lahan,
sungai yang dipersempit,
hingga izin pembangunan yang longgar.

Lalu semuanya menumpuk. Dan ketika hujan ekstrem datang, kota langsung kolaps.

Masalahnya, banjir di Indonesia sekarang bukan lagi anomali. Ia mulai terasa seperti kalender tahunan.

Dan mungkin pertanyaan terbesarnya bukan lagi:
“Kenapa banjir terus terjadi?”

Tapi:
“Kenapa kita terus membangun kota seolah krisis iklim belum nyata?” @waras

Tags: banjirCuaca EkstremKrisis Iklim

Kamu Melewatkan Ini

El Nino Ekstrem Mengintai, Krisis Pangan dan Air Ancam Indonesia

El Nino Ekstrem Mengintai, Krisis Pangan dan Air Ancam Indonesia

by dimas
Juli 26, 2026

El Nino ekstrem diperkirakan menjadi yang terkuat dalam 150 tahun terakhir. Indonesia menghadapi ancaman krisis pangan, kekeringan, kebakaran hutan, dan...

Transisi Energi Berkeadilan atau Pengorbanan Desa?

Transisi Energi Berkeadilan atau Pengorbanan Desa?

by dimas
Juli 20, 2026

Transisi energi berkeadilan menjanjikan masa depan yang lebih hijau. Namun, ketika desa harus kehilangan ruang hidup demi proyek energi bersih,...

Krisis Iklim yang Diam-Diam Menguras Dompet

Krisis Iklim yang Diam-Diam Menguras Dompet

by dimas
Juli 17, 2026

Krisis iklim tak hanya menaikkan suhu, tetapi juga menggerus pendapatan, kesehatan, dan biaya hidup jutaan masyarakat. Panas ekstrem kini menjadi...

Next Post
CSR = Cuan Setoran Rutin?

CSR = Cuan Setoran Rutin?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id