Hujan turun seperti tidak ingin berhenti. Selama tiga hari, Kendari berubah dari kota pesisir menjadi cekungan air raksasa. Rumah tenggelam, jalan utama lumpuh, dan ribuan warga terjebak di tengah arus yang terus naik. ini mungkin bukan cuma soal cuaca ekstrem. Di balik luapan Kali Wanggu dan drainase yang kolaps, ada cerita tentang kota yang tumbuh terlalu cepat, sementara sistemnya tertinggal jauh di belakang.
Tabooo.id: Hujan turun seperti tidak ingin berhenti.
Selama tiga hari, Kendari berubah dari kota pesisir menjadi cekungan air raksasa.
Jalan utama tenggelam. Rumah-rumah lumpuh. Mesin kendaraan mati di tengah banjir setinggi dada orang dewasa. Di beberapa titik, warga hanya bisa berdiri menatap arus cokelat yang masuk pelan ke ruang tamu mereka, seolah kota ini memang sudah lama menunggu untuk karam.
Tapi masalahnya mungkin bukan cuma hujan.
Karena di balik banjir Mei 2026, ada cerita tentang kota yang tumbuh terlalu cepat, drainase yang kalah sebelum bertarung, dan pembangunan urban yang lebih sibuk mengejar beton daripada memberi ruang bagi air untuk pulang.
Dinamika Hidro-Meteorologi dan Anomali Atmosfer Penentu
Dampak perubahan iklim global kini terasa nyata di wilayah urban Indonesia Timur. Curah hujan ekstrem melumpuhkan Kota Kendari pada 8–10 Mei 2026.
BMKG melalui Stasiun Meteorologi Maritim Kendari dan Betoambari Baubau mengidentifikasi kombinasi beberapa fenomena atmosfer sebagai pemicu bencana ini. Madden-Julian Oscillation (MJO) dan Gelombang Atmosfer Equatorial Rossby aktif bersamaan di atas Sulawesi Tenggara. Kondisi itu memperkuat konvergensi massa udara basah di lapisan rendah atmosfer.
Situasi semakin buruk karena suhu permukaan laut di sekitar Teluk Kendari dan Laut Banda mengalami anomali positif. Air laut yang lebih hangat meningkatkan laju evaporasi dan memasok uap air dalam jumlah besar ke atmosfer.
Tingkat kelembapan yang sangat tinggi dan indeks labilitas udara yang kuat membentuk awan konvektif tebal secara masif di atas Kendari. Angin permukaan dari Tenggara menuju Barat Daya kemudian “menahan” massa udara basah itu tetap berada di atas cekungan perkotaan.
Hasilnya brutal: hujan ekstrem mengguyur Kendari selama tiga hari berturut-turut.
Dan ketika air turun sebanyak itu, sistem kota tidak siap menerimanya.
Pembangunan Kota yang Terlalu Cepat
Secara hidrologis, banjir perkotaan terjadi ketika limpasan permukaan meningkat jauh lebih cepat daripada kapasitas drainase dan sungai.
Di Kendari, transformasi kota yang agresif memperparah masalah itu. Pembangunan kawasan komersial, perumahan, dan infrastruktur perkotaan terus meluas seiring dorongan menjadikan Kendari sebagai pusat MICE Indonesia Timur.
Masalahnya, pembangunan modern hampir selalu datang bersama permukaan kedap air: aspal, beton, semen, dan atap bangunan.
Tanah kehilangan kemampuan menyerap air.
Air kehilangan tempat untuk masuk.
Dalam analisis Metode Rasional, kondisi ini meningkatkan koefisien limpasan perkotaan secara signifikan. Akibatnya, limpasan air mencapai debit banjir puncak jauh lebih cepat daripada kemampuan sistem drainase kota menampungnya.
Singkatnya: hujan deras berubah menjadi banjir karena kota terlalu banyak menolak air.
Drainase Kalah, Sampah Menang
Masalah tidak berhenti di cuaca dan betonisasi.
Dalam peninjauan langsung di Jalan Bunggasi, Kelurahan Anduonohu, Wali Kota Kendari Siska Karina Imran menemukan tumpukan sampah menyumbat drainase dan aliran kali utama.
Sumbatan itu menciptakan tahanan hidrolis tinggi. Air tidak bisa mengalir normal dan akhirnya meluap ke permukiman warga.
Di sisi lain, Kali Wanggu kembali menjadi sumber banjir tahunan terbesar di Kendari. Sungai ini menerima akumulasi debit air dari wilayah hulu di luar kota. Saat hujan ekstrem berlangsung berhari-hari, kapasitas tampung sungai terlampaui.
Situasi diperburuk oleh backwater effect dari Teluk Kendari. Air laut menahan aliran sungai keluar ke laut, sehingga air sungai justru terdorong kembali ke kawasan permukiman.
Dan ketika semua faktor itu bertemu dalam satu waktu, kota pun lumpuh.
Pemetaan Kerusakan dan Dampak Sosial
BPBD Kota Kendari mencatat 16 kelurahan di 7 kecamatan terdampak langsung banjir.
Total:
- 2.985 jiwa terdampak
- 657 rumah terendam
- 317 warga mengungsi
- 50 hektare sawah rusak
- 7 rumah mengalami kerusakan akibat longsor
Wilayah terparah berada di:
- Lepo-Lepo
- Anduonohu
- Kambu
- Wua-Wua
- Abeli
- Kendari Barat
Di beberapa titik seperti Jalan Martandu, kawasan By Pass, hingga sekitar Pesantren Hidayatullah, genangan mencapai dada orang dewasa dan memutus akses utama Kendari–Konawe.
Mobilitas kota praktis berhenti total.
Korban Jiwa yang Mengubah Statistik Menjadi Luka
Namanya Rangga. Usianya baru lima tahun.
Ia tinggal di Jalan Manunggal II, Kelurahan Punggaloba, Kecamatan Kendari Barat.
Saat hujan deras mengguyur kota, Rangga bermain di dekat Kali Teplan bersama kakaknya. Sandal milik kakaknya jatuh ke aliran air yang deras. Rangga mencoba mengambilnya.
Ia tergelincir.
Tubuh kecil itu terseret arus banjir sejauh sekitar satu kilometer sebelum ditemukan meninggal dunia di pesisir Teluk Kendari.
Di titik ini, banjir berhenti menjadi data teknis.
Ia berubah menjadi luka sosial.
Karena di balik setiap angka korban bencana, selalu ada keluarga yang kehilangan dunia kecil mereka sendiri.
Operasi Tanggap Darurat dan Evakuasi
Pemerintah daerah segera mengaktifkan operasi tanggap darurat lintas sektor.
Basarnas Kendari mengerahkan 50 personel penyelamat lengkap dengan perahu karet dan peralatan SAR air. Tim penyelamat mengevakuasi warga di bantaran Kali Wanggu, Kampung Salo, Lorong Bangau, hingga kawasan sekitar RS Hermina.
Satbrimob Polda Sultra juga turun langsung membantu evakuasi warga dan mengamankan kawasan permukiman yang ditinggalkan mengungsi.
Di Kelurahan Lepo-Lepo, empat tenda pengungsian didirikan untuk menampung ratusan warga terdampak.
BPBD Provinsi Sultra menyalurkan bantuan pangan, pakaian darurat, dan obat-obatan. PDAM juga mendistribusikan air bersih bagi warga terdampak di bantaran Kali Wanggu.
Ini Bukan Sekadar Banjir. Ini Pola
Dan di sinilah masalah sebenarnya muncul.
Ini bukan cuma soal hujan ekstrem.
Ini soal bagaimana kota-kota Indonesia tumbuh dengan logika ekonomi lebih cepat daripada logika ekologinya.
Drainase dianggap proyek sekunder.
Ruang resapan dianggap lahan kosong.
Bantaran sungai berubah menjadi permukiman.
Lalu ketika air datang, semua kelemahan sistem terbuka sekaligus.
Kendari hanyalah satu contoh dari pola urban Indonesia yang mulai retak di tengah krisis iklim.
Hari ini Kendari.
Besok bisa kota lain.
Rekayasa Struktural dan Tantangan Tata Ruang
Pemerintah Kota Kendari bersama Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV kini menyiapkan dua langkah utama:
- pemasangan katup satu arah pada tanggul sungai
- pembangunan kolam retensi di kawasan Nanga-Nanga
Katup satu arah dirancang untuk mencegah air sungai kembali masuk ke drainase permukiman saat debit meningkat.
Sementara kolam retensi akan menahan limpasan air hujan di bagian hulu sebelum dialirkan ke Kali Wanggu secara bertahap.
Namun tantangan terbesar sebenarnya bukan hanya soal infrastruktur.
Masalah utamanya adalah tata ruang.
Relokasi warga bantaran sungai pernah ditawarkan pemerintah, tetapi sebagian besar warga menolak karena alasan ekonomi dan kedekatan dengan pusat aktivitas hidup mereka.
Akibatnya, pemerintah kini terjebak di antara dua pilihan sulit:
membangun perlindungan mahal untuk kawasan rawan banjir, atau membiarkan risiko itu terus berulang setiap musim hujan.
Kendari mungkin akan kembali kering beberapa hari lagi.
Air akan surut. Jalan dibersihkan. Aktivitas kota kembali berjalan seperti biasa.
Tapi pertanyaan besarnya tetap tinggal:
Kalau setiap hujan ekstrem selalu berubah menjadi bencana, apakah yang sebenarnya gagal… cuacanya, atau cara kita membangun kota?
Karena kota modern tidak runtuh hanya karena hujan.
Kota runtuh ketika pembangunan lupa bahwa air selalu mencari jalan pulang. @waras





