Senin, November 2, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kalau Bumi Makin Rusak, Apakah Itu Masih Bisa Disebut Pembangunan?

by dimas
April 23, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Selama ini krisis iklim kita bicarakan sebagai isu lingkungan yang jauh dari rutinitas sehari-hari. Namun di balik setiap kebijakan yang tertunda, ada generasi yang sudah memikul risiko yang tidak pernah mereka pilih sendiri sejak awal.

Tabooo.id: Talk – Pada peringatan Hari Bumi tahun ini, dorongan untuk segera membahas dan mengesahkan RUU Keadilan Iklim kembali menguat. Pertanyaan pun bergeser. Bukan lagi sebatas komitmen lingkungan di atas kertas, tetapi apakah negara benar-benar mengakui bahwa krisis iklim juga melanggar hak asasi manusia, terutama bagi generasi yang belum lahir.

Kita sering berbicara tentang masa depan. Namun kita jarang benar-benar menyiapkan bumi untuk mereka yang akan hidup setelah kita. Di Hari Bumi ini, pertanyaan yang mengganggu itu kembali muncul: apakah negara sedang merawat planet ini, atau justru sedang mewariskan kerusakan yang sudah terlanjur dianggap biasa?

Bumi yang Tak Lagi Netral

Pada 2022, seorang ibu bersama 12 warga negara lainnya mengajukan pengaduan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Mereka tidak mencari panggung. Mereka membawa tuduhan serius: krisis iklim telah berubah menjadi pelanggaran HAM.

Argumennya sederhana, tetapi tegas. UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM menegaskan bahwa negara memegang kewajiban untuk melindungi hak hidup warganya. Artinya, negara tidak boleh diam ketika krisis mengancam hak tersebut, termasuk krisis iklim yang terus memburuk.

Namun setelah lebih dari tiga tahun, pengaduan itu belum menghasilkan langkah besar. Komnas HAM belum menjadikannya dasar kebijakan nasional yang kuat.

Ini Belum Selesai

TNI Turun Amankan Demonstrasi, Di Mana Batas Kewenangannya?

Aksi 28 Oktober: Retaknya Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah

Situasi ini memunculkan satu pertanyaan penting: apakah negara menganggap krisis ini belum cukup mendesak untuk ditangani secara serius?

Anak-Anak yang Sudah Kalah Sebelum Tumbuh

UNICEF pada 2023 mencatat lebih dari 43 juta anak terdampak bencana iklim dan terpaksa mengungsi di 44 negara. Lembaga itu juga memproyeksikan angka tersebut bisa melonjak hingga 96 juta di masa depan.

Indonesia masuk dalam kelompok negara dengan risiko tinggi bagi anak-anak akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.

Namun di ruang kebijakan, banyak pihak masih mempersempit isu ini hanya pada transisi energi.

Sementara itu, pembahasan tentang adaptasi, kerugian ekologis, dan kehilangan permanen masih berjalan di pinggir meja kebijakan.

Pembangunan yang Tidak Pernah Bertanya

Di sisi lain, agenda pembangunan terus berjalan tanpa jeda. Pemerintah menjalankan Proyek Strategis Nasional, sementara deforestasi terus terjadi dengan dalih legal. Kritik dari masyarakat adat sering diposisikan sebagai hambatan.

Negara mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi jarang mengajukan pertanyaan mendasar: pembangunan ini menguntungkan siapa, dan siapa yang justru menanggung dampaknya?

Generasi yang belum lahir tidak pernah hadir dalam ruang perencanaan. Namun kebijakan hari ini tetap menentukan hidup mereka di masa depan.

Keadilan Antargenerasi yang Sering Berhenti di Wacana

Konsep keadilan antargenerasi menegaskan bahwa setiap generasi wajib menjaga bumi agar tidak lebih buruk dari kondisi saat mereka menerimanya. Prinsip ini sudah tercantum dalam UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Artinya jelas bumi bukan hanya warisan, tetapi juga tanggung jawab.

Namun dalam praktiknya, banyak kebijakan masih mengutamakan pertumbuhan jangka pendek. Hutan dibuka, lahan dieksploitasi, selama angka ekonomi terus naik.

Di titik ini, krisis iklim tidak lagi berdiri sebagai isu lingkungan. Ia berubah menjadi soal pilihan politik.

RUU Keadilan Iklim: Antara Harapan dan Penundaan

RUU Keadilan Iklim sebenarnya sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional 2026. Sejumlah kelompok masyarakat sipil, termasuk Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI), terus mendorong agar kebijakan ini tidak berhenti pada pengurangan emisi, tetapi juga melindungi hak asasi manusia.

Namun proses politiknya berjalan lambat. Diskusi sering terjebak pada aspek teknis, sementara dimensi keadilan sosial belum menjadi pusat perhatian.

Komnas HAM memang telah merilis policy brief tentang iklim dan HAM. Tetapi dokumen itu masih berfokus pada mitigasi energi, bukan pada perlindungan menyeluruh terhadap dampak ekologis yang sudah terjadi.

Ini Bukan Sekadar Isu Lingkungan

Jika kita melihat lebih dalam, krisis ini tidak hanya berbicara tentang lingkungan.

Ini berbicara tentang siapa yang kita anggap berhak hidup dengan masa depan yang aman.

Karena ketika hutan hilang dan iklim berubah, kelompok yang paling lama menanggung akibatnya bukan generasi hari ini. Mereka adalah generasi yang bahkan belum lahir dan tidak memiliki suara dalam keputusan apa pun.

Human Impact

Bayangkan anak-anak yang lahir hari ini. Mereka akan tumbuh di dunia yang lebih panas, lebih kering, dan lebih tidak stabil secara ekologis dibanding dunia saat ini.

Mereka tidak memilih krisis ini. Namun mereka akan hidup di dalamnya sepenuhnya.

Dan pertanyaan paling sederhana tetap tidak berubah, kalau kita sudah tahu dampaknya, mengapa kita masih menunda tindakan?

Analisis Tabooo

Krisis iklim sering dipersempit menjadi persoalan teknis seperti emisi, energi, dan regulasi.

Padahal di balik itu, terjadi konflik yang lebih besar benturan antara kepentingan ekonomi jangka pendek dan hak hidup generasi yang belum lahir.

Data sebenarnya sudah tersedia. Tetapi keberanian untuk menjadikan data itu sebagai dasar moral kebijakan masih sangat terbatas.

Closing

Hari Bumi selalu datang dengan pesan yang sama jaga bumi.

Namun pertanyaannya sudah berubah.

Bukan lagi apakah kita memahami pesannya, tetapi apakah kita berani bertindak sebelum generasi setelah kita yang menanggung seluruh akibatnya. @dimas

Tags: ekologiKrisis IklimLingkungan Hidup

Kamu Melewatkan Ini

Topan Champi Terjang Taiwan, 527 Orang Luka dan Dua WNI Terdampak

Topan Champi Terjang Taiwan, 527 Orang Luka dan Dua WNI Terdampak

by dimas
Oktober 25, 2026

Topan Champi menerjang Taiwan dengan angin hingga 227 km/jam, menewaskan satu orang, melukai ratusan warga, dan menyebabkan dua WNI mengalami...

Kalam Salan Gunakan Bahasa Jawa untuk Desak Prabowo Atasi Kabut Asap

Kalam Salan Gunakan Bahasa Jawa untuk Desak Prabowo Atasi Kabut Asap

by dimas
Oktober 24, 2026

Kalam Salan menggunakan bahasa Jawa untuk mendesak Prabowo mengatasi kebakaran hutan dan lahan Indonesia yang memicu kabut asap lintas negara...

Karhutla Kalsel: 11 Perusahaan Disorot, Sanksi Mengintai

Karhutla Kalsel: 11 Perusahaan Disorot, Sanksi Mengintai

by dimas
Agustus 24, 2026

Karhutla Kalsel menyeret 11 perusahaan dalam sorotan. Kementerian LH mengusut dugaan pembakaran lahan dengan ancaman sanksi hingga Rp15 triliun. Tabooo.id...

Next Post
Subsidi untuk Rakyat, Untung untuk Mafia: 41 Ton Biosolar Disita di Riau

Subsidi untuk Rakyat, Untung untuk Mafia: 41 Ton Biosolar Disita di Riau

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id