Senin, Juni 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mahasiswa, Nabi Jalanan yang Kelak Menjadi Bagian dari Sistem?

by dimas
Juni 13, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Mahasiswa sering dianggap penyelamat bangsa. Namun, apakah tugas suci itu nyata atau sekadar romantisme yang diwariskan dari generasi ke generasi?

Tabooo.id – “Kepada para mahasiswa, yang merindukan kejayaan. Kepada rakyat yang kebingungan, di persimpangan jalan…”

Setiap kali Mars Mahasiswa menggema di jalanan, suasana demonstrasi berubah menjadi lebih dari sekadar aksi politik. Lagu itu tidak hanya menyuntikkan semangat. Lagu itu juga membawa keyakinan bahwa mahasiswa memikul tugas besar untuk menyelamatkan bangsa.

Di dalam liriknya tersimpan janji, harapan, dan panggilan moral. Karena itu, banyak mahasiswa melihat diri mereka sebagai penjaga demokrasi ketika negara dianggap kehilangan arah.

Namun, satu pertanyaan jarang muncul di tengah gegap gempita itu: siapa sebenarnya yang memberi mandat tersebut?

Ketika Perjuangan Menjadi Identitas

Indonesia memiliki hubungan yang unik dengan mahasiswa. Hampir setiap krisis politik selalu menghadirkan satu harapan yang sama: mahasiswa harus turun ke jalan.

Ini Belum Selesai

BBM Naik, UU Polri Disahkan: Kebetulan atau Pengalihan Isu?

Seruan Reformasi Jilid 2: Aspirasi Publik atau Nostalgia Politik?

Saat pemerintah dianggap gagal, publik menoleh ke kampus. Saat demokrasi terasa terancam, mahasiswa kembali dipanggil. Akibatnya, banyak orang menempatkan mahasiswa sebagai kelompok yang memiliki tanggung jawab moral lebih besar dibanding kelompok sosial lainnya.

Masalahnya muncul ketika tanggung jawab itu berubah menjadi identitas.

Semakin lama seseorang percaya bahwa dirinya sedang menyelamatkan dunia, semakin besar pula risiko untuk menganggap dirinya sebagai pemilik kebenaran.

Di titik itulah romantisme pergerakan sering lahir.

Kesucian yang Dibangun dari Penderitaan

Banyak aktivis kampus tumbuh bersama cerita-cerita heroik. Mereka membaca sejarah perlawanan, menghafal tokoh revolusi, dan berdiskusi tentang ketimpangan sosial hingga larut malam.

Selain itu, mereka juga menyaksikan kemiskinan, ketidakadilan, dan berbagai persoalan yang menimpa masyarakat. Pengalaman tersebut memunculkan empati. Dari empati itulah muncul dorongan untuk bergerak.

Tidak ada yang keliru dalam proses tersebut.

Namun, kesucian perjuangan sering menciptakan ruang yang sulit menerima kritik.

Ketika seseorang terlalu yakin sedang membela rakyat, ia mulai menganggap setiap lawan sebagai musuh. Sementara itu, setiap kritik mudah dianggap sebagai bentuk pembelaan terhadap penindasan.

Akibatnya, ruang dialog menyempit.

Bahkan, sebagian gerakan akhirnya lebih sibuk mempertahankan identitas moral dibanding mencari solusi yang konkret.

Romantisme yang Bertabrakan dengan Realitas

Di atas mobil komando, kapitalisme sering terdengar seperti musuh utama. Banyak slogan menyerang elite, korporasi, dan sistem ekonomi yang dianggap menindas.

Namun, kehidupan tidak berlangsung selamanya di atas mobil komando.

Cepat atau lambat, mahasiswa akan lulus. Mereka akan mencari pekerjaan, membayar cicilan, membangun keluarga, dan bersaing dalam dunia kerja.

Ironisnya, banyak dari mereka kemudian masuk ke perusahaan yang dulu mereka kritik. Sebagian lainnya bergabung ke partai politik yang sebelumnya mereka lawan. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya menjadi bagian dari struktur kekuasaan.

Fenomena ini bukan pengkhianatan semata.

Sebaliknya, fenomena ini menunjukkan bahwa realitas sering kali lebih rumit daripada slogan perjuangan.

Idealisme memang penting. Akan tetapi, kehidupan menuntut kompromi yang tidak pernah dibahas dalam forum diskusi kampus.

Dari Jalanan ke Ruang Rapat

Sejarah Indonesia mencatat banyak aktivis yang akhirnya duduk di kursi kekuasaan.

Mereka pernah meneriakkan perubahan di jalan. Kini mereka merumuskan kebijakan di ruang rapat.

Mereka pernah mengkritik negara. Kini mereka menjalankan negara.

Perubahan posisi tersebut tidak otomatis salah. Namun, perubahan itu mengungkap satu kenyataan penting mempertahankan prinsip jauh lebih sulit daripada meneriakkan prinsip.

Saat seseorang belum memiliki kekuasaan, ia bisa berbicara tanpa beban.

Sebaliknya, kekuasaan, kepentingan, dan tanggung jawab sering memaksa idealisme berhadapan dengan kenyataan.

Karena itu, ukuran perjuangan tidak terletak pada kerasnya teriakan saat berusia dua puluh tahun. Ukuran perjuangan justru terlihat ketika seseorang tetap memegang prinsip setelah memperoleh kekuasaan.

Ketika Mahasiswa Kehilangan Publik

Paradoks lain muncul dalam hubungan mahasiswa dan masyarakat.

Banyak aktivis mengatasnamakan rakyat. Namun, tidak semua berhasil berbicara dengan bahasa yang dipahami rakyat.

Ketika warga mengeluhkan kemacetan akibat demonstrasi, sebagian mahasiswa merespons dengan nada menggurui.

Mereka mengatakan bahwa aksi dilakukan demi kepentingan masyarakat. Mereka juga mengingatkan bahwa publik akan merasakan dampak kebijakan jika mahasiswa berhenti bergerak.

Kalimat semacam itu terdengar heroik di lingkaran aktivis.

Namun, masyarakat sering mendengarnya secara berbeda.

Alih-alih membangun kedekatan, narasi tersebut justru menciptakan jarak antara “kaum sadar” dan “kaum yang belum sadar”.

Padahal, perubahan sosial tidak lahir dari superioritas moral.

Sebaliknya, perubahan lahir ketika gagasan mampu menyentuh pengalaman hidup masyarakat secara langsung.

Nubuat yang Mungkin Diciptakan Sendiri

Selama puluhan tahun, mahasiswa mewariskan satu keyakinan yang sama: mereka adalah agen perubahan.

Keyakinan itu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Diskusi kampus mengulangnya. Organisasi mahasiswa merawatnya. Lagu-lagu perjuangan menguatkannya.

Lama-kelamaan, keyakinan tersebut berubah menjadi semacam nubuat.

Padahal, tidak ada jaminan bahwa masyarakat selalu melihat mahasiswa sebagai penyelamat.

Tidak ada pula jaminan bahwa setiap demonstrasi otomatis mewakili suara rakyat.

Karena itu, mahasiswa perlu kembali mengajukan pertanyaan yang paling mendasar.

Apakah mereka benar-benar menjalankan mandat publik?

Ataukah mereka sedang mempertahankan mitos yang mereka bangun sendiri?

Ini Bukan Soal Mahasiswa. Ini Soal Manusia

Pada akhirnya, persoalan ini tidak berkaitan dengan kiri atau kanan.

Persoalan ini juga tidak berkaitan dengan demonstrasi atau anti-demonstrasi.

Persoalan ini berbicara tentang manusia yang berusaha menemukan makna dalam hidupnya.

Sebagian orang menemukan makna melalui perjuangan politik. Sebagian lainnya memilih pengabdian sosial, pekerjaan profesional, atau kehidupan keluarga.

Semua pilihan tersebut sah.

Karena itu, mahasiswa tidak perlu menjadi nabi jalanan yang memikul keselamatan bangsa seorang diri.

Beban tersebut terlalu besar bagi siapa pun.

Yang bangsa ini butuhkan bukan sosok suci.

Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang mampu menjaga integritasnya dalam jangka panjang.

Sebab Indonesia tidak kekurangan pahlawan lima jam di jalanan.

Sebaliknya, Indonesia masih kekurangan orang-orang yang mampu menjaga prinsipnya ketika kamera pergi, massa bubar, dan realitas hidup mulai menagih konsistensi. @dimas

Tags: Demokrasi Indonesiagerakan mahasiswaMahasiswa IndonesiaPolitik KampusRomantisme Aktivisme

Kamu Melewatkan Ini

Reformasi TNI atau Kembalinya Dwifungsi dalam Wajah Baru?

Reformasi TNI atau Kembalinya Dwifungsi dalam Wajah Baru?

by dimas
Juni 14, 2026

Reformasi TNI kembali menjadi sorotan ketika peran militer semakin meluas di ruang sipil. Apakah ini penguatan negara atau tanda kembalinya...

Fragmentasi Mahasiswa dan Bayang-Bayang Reformasi Jilid II

Fragmentasi Mahasiswa dan Bayang-Bayang Reformasi Jilid II

by dimas
Juni 14, 2026

Fragmentasi gerakan mahasiswa kian terlihat di tengah krisis ekonomi dan tekanan demokrasi. Mampukah perlawanan yang terpecah melahirkan Reformasi Jilid II?...

BBM Naik, UU Polri Disahkan: Kebetulan atau Pengalihan Isu?

BBM Naik, UU Polri Disahkan: Kebetulan atau Pengalihan Isu?

by dimas
Juni 14, 2026

Kenaikan harga BBM dan pengesahan UU Polri terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Apakah ini hanya kebetulan, atau ada pola...

Next Post
Orang Kaya Menikmati Separuh Subsidi BBM, Siapa Sebenarnya Dibantu Negara?

Orang Kaya Menikmati Separuh Subsidi BBM, Siapa Sebenarnya Dibantu Negara?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id