Minggu, Juni 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Fragmentasi Mahasiswa dan Bayang-Bayang Reformasi Jilid II

by dimas
Juni 14, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Fragmentasi gerakan mahasiswa kian terlihat di tengah krisis ekonomi dan tekanan demokrasi. Mampukah perlawanan yang terpecah melahirkan Reformasi Jilid II?

Tabooo.id – Malam itu, suara toa bersahutan di berbagai kota. Jaket-jaket almamater memenuhi jalanan. Spanduk kritik membentang di depan gedung-gedung kekuasaan. Di tengah tekanan ekonomi yang terus dirasakan masyarakat, mahasiswa kembali mengambil ruang yang selama ini identik dengan perlawanan: jalan raya.

Sekilas, pemandangan ini mengingatkan publik pada babak-babak penting sejarah Indonesia. Namun jika diperhatikan lebih dekat, gerakan mahasiswa hari ini menyimpan persoalan yang lebih rumit dibanding sekadar aksi demonstrasi. Mereka turun ke jalan dengan kegelisahan yang sama, tetapi tidak bergerak dengan arah yang sepenuhnya serupa.

Yang muncul bukan hanya gelombang kritik terhadap pemerintah. Yang terlihat justru retakan di dalam tubuh gerakan itu sendiri.

Dua Wajah Perlawanan Mahasiswa

Dalam beberapa pekan terakhir, aksi mahasiswa berkembang di berbagai daerah dengan karakter yang berbeda.

Di Jakarta, BEM UI mengusung tuntutan yang berfokus pada evaluasi kebijakan pemerintah. Mereka menyoroti pemborosan APBN, kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM, program Makan Bergizi Gratis, proyek Koperasi Desa Merah Putih, hingga isu militerisme di ruang sipil. Fokus utama mereka adalah mendorong perubahan kebijakan yang dianggap bermasalah.

Ini Belum Selesai

Kaya di Atas Peta, Miskin di Dalam Realitas

Tan Malaka: Seorang Komunis yang Menentang Komunisme?

Pendekatan ini menunjukkan satu hal penting. BEM UI masih menempatkan negara sebagai institusi yang dapat diperbaiki melalui kritik dan koreksi kebijakan. Mereka memilih jalur reformasi administratif daripada konfrontasi total terhadap legitimasi kekuasaan.

Namun situasinya berbeda di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di dua wilayah itu, sebagian kelompok mahasiswa tidak lagi berhenti pada kritik teknokratis. Mereka mulai membangun narasi yang jauh lebih keras. Pelemahan demokrasi, dominasi oligarki, tekanan ekonomi, hingga bayang-bayang otoritarianisme menjadi tema utama yang terus mereka gaungkan. Bahkan ancaman Reformasi Jilid II mulai muncul sebagai simbol perlawanan.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa mahasiswa saat ini tidak sedang membaca krisis dengan kacamata yang sama.

Dari Kritik Kebijakan Menuju Kritik Sistem

Perbedaan orientasi tersebut bukan sekadar variasi strategi lapangan.

Sebagian mahasiswa memandang persoalan hari ini sebagai akumulasi kebijakan yang salah. Karena itu, mereka menuntut perbaikan program, revisi anggaran, dan evaluasi pemerintahan.

Sebaliknya, kelompok lain melihat masalah yang jauh lebih mendasar. Mereka memandang kenaikan harga, pelemahan demokrasi, dan menguatnya militerisme sebagai gejala dari kerusakan sistemik. Dalam pandangan ini, persoalannya bukan lagi kebijakan tertentu, melainkan arah kekuasaan itu sendiri.

Di sinilah garis pemisah mulai terlihat.

Satu kelompok masih berbicara tentang reformasi kebijakan. Kelompok lain mulai berbicara tentang reformasi politik.

Mengapa Gerakan Mahasiswa Sulit Bersatu?

Pertanyaan besar kemudian muncul. Mengapa mahasiswa yang menghadapi masalah yang sama justru bergerak dalam irama yang berbeda?

Jawabannya tidak sederhana.

Pasca-Reformasi 1998, hubungan antara gerakan mahasiswa dan kekuasaan mengalami perubahan besar. Pada masa lalu, mahasiswa memiliki lawan politik yang relatif jelas dan memiliki tujuan perjuangan yang relatif seragam.

Hari ini situasinya jauh lebih kompleks.

Negara tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan fisik untuk menghadapi kritik. Negara menggunakan instrumen yang lebih halus: pengelolaan opini publik, kontrol narasi, pendekatan administratif, hingga integrasi tokoh-tokoh kritis ke dalam lingkar kekuasaan.

Akibatnya, gerakan mahasiswa kehilangan banyak jangkar politik yang dahulu menjadi sumber konsolidasi.

Sejumlah tokoh aktivis yang pernah menjadi simbol perlawanan kini berada dalam struktur pemerintahan. Mereka menempati posisi strategis sebagai pejabat, penasihat, atau bagian dari lingkar kekuasaan. Kondisi ini menciptakan kekosongan kepemimpinan moral bagi generasi mahasiswa saat ini.

Mahasiswa tetap memiliki idealisme. Namun mereka tidak lagi memiliki pusat koordinasi nasional yang kuat.

Negara yang Semakin Canggih Mengelola Protes

Perubahan juga terjadi pada cara negara menghadapi demonstrasi.

Jika pada masa lalu benturan fisik sering menjadi pemicu solidaritas publik, kini pendekatan yang digunakan jauh lebih terukur. Aparat lebih sering menggunakan mekanisme administratif, pengaturan lokasi aksi, hingga pembatasan ruang gerak demonstrasi tanpa harus memunculkan kekerasan yang berlebihan.

Strategi ini menghasilkan efek yang menarik.

Mahasiswa tetap bisa menyampaikan aspirasi. Media tetap meliput demonstrasi. Namun tekanan politik yang muncul tidak selalu berkembang menjadi gelombang nasional.

Negara tidak harus membungkam kritik. Negara cukup mengelola arah kritik tersebut.

Inilah bentuk baru pertarungan politik di era digital.

Ketika Krisis Ekonomi Menjadi Penentu

Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah gerakan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan organisasinya.

Faktor ekonomi sering menjadi penentu yang jauh lebih kuat.

Selama masyarakat masih mampu memenuhi kebutuhan dasar, kritik mahasiswa cenderung dipandang sebagai perdebatan elite kampus. Namun ketika harga kebutuhan pokok terus naik, lapangan kerja menyempit, dan daya beli masyarakat melemah, situasinya bisa berubah dengan cepat.

Kemarahan sosial memiliki sifat yang unik.

Ia bisa tertidur dalam waktu lama. Namun ketika tekanan hidup melampaui batas toleransi, berbagai perbedaan kepentingan sering kali melebur menjadi satu tuntutan bersama.

Sejarah Indonesia pernah menunjukkan pola tersebut.

Ini Bukan Sekadar Demonstrasi, Ini Pertarungan Narasi

Di titik inilah persoalan sebenarnya terlihat.

Ini bukan sekadar cerita tentang mahasiswa yang turun ke jalan.

Ini bukan sekadar perdebatan tentang harga BBM, APBN, atau program pemerintah.

Ini adalah pertarungan antara dua kekuatan besar. Di satu sisi, mahasiswa berusaha membangun kembali daya kritis publik. Di sisi lain, negara berusaha menjaga stabilitas melalui pengelolaan ruang politik dan narasi publik.

Pertarungan itu berlangsung bukan hanya di jalanan, tetapi juga di media, media sosial, ruang diskusi kampus, hingga percakapan sehari-hari masyarakat.

Karena itu, pertanyaan paling penting hari ini bukan apakah Reformasi Jilid II akan terjadi.

Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah gerakan mahasiswa mampu menemukan kembali titik temu di tengah fragmentasi yang semakin dalam?

Sebab sejarah tidak berubah hanya karena teriakan paling keras.

Sejarah berubah ketika kegelisahan mahasiswa bertemu dengan kegelisahan rakyat dalam satu momentum yang sama. Dan ketika momen itu datang, perbedaan strategi biasanya tidak lagi menjadi persoalan utama. @dimas

Tags: Demokrasi Indonesiagerakan mahasiswapolitikReformasi Jilid IITekanan Ekonomi

Kamu Melewatkan Ini

BBM Naik, UU Polri Disahkan: Kebetulan atau Pengalihan Isu?

BBM Naik, UU Polri Disahkan: Kebetulan atau Pengalihan Isu?

by dimas
Juni 14, 2026

Kenaikan harga BBM dan pengesahan UU Polri terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Apakah ini hanya kebetulan, atau ada pola...

Mahasiswa, Nabi Jalanan yang Kelak Menjadi Bagian dari Sistem?

Mahasiswa, Nabi Jalanan yang Kelak Menjadi Bagian dari Sistem?

by dimas
Juni 13, 2026

Mahasiswa sering dianggap penyelamat bangsa. Namun, apakah tugas suci itu nyata atau sekadar romantisme yang diwariskan dari generasi ke generasi?...

Seruan Reformasi Jilid 2: Aspirasi Publik atau Nostalgia Politik?

Seruan Reformasi Jilid 2: Aspirasi Publik atau Nostalgia Politik?

by teguh
Juni 13, 2026

Beberapa hari ini publik kembali mendengar sebuah istilah yang pernah mengubah arah sejarah Indonesia yaitu, Reformasi. Bedanya, kali ini istilah...

Next Post
Kaya di Atas Peta, Miskin di Dalam Realitas

Kaya di Atas Peta, Miskin di Dalam Realitas

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id