Rabu, Juli 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Balik Seruan “Indonesia Bangkrut”, Ada Krisis yang Tak Terlihat

by dimas
Juni 13, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Di balik seruan “Indonesia Bangkrut”, mahasiswa menyoroti biaya hidup, APBN, dan krisis kepercayaan terhadap arah negara.

Tabooo.id – Di tengah deretan gedung pencakar langit dan laporan pertumbuhan ekonomi yang terus dipublikasikan pemerintah, ratusan mahasiswa turun ke jalan membawa tuduhan yang terdengar keras: Indonesia sedang menuju bangkrut.

Bagi sebagian orang, seruan itu mungkin terdengar berlebihan. Namun, mahasiswa yang tergabung dalam aksi “Menuju Indonesia Bangkrut” melihatnya sebagai bentuk peringatan. Mereka menilai arah kebijakan ekonomi saat ini semakin menjauh dari kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa tidak sedang membandingkan Indonesia dengan negara yang benar-benar kolaps secara ekonomi. Sebaliknya, mereka menyoroti persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Harga kebutuhan pokok terus naik, biaya hidup semakin berat, dan banyak warga merasa manfaat pembangunan belum sepenuhnya mereka rasakan.

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tidak Selalu Terasa

Pemerintah berkali-kali menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional tetap stabil. Pertumbuhan ekonomi bergerak positif, inflasi relatif terkendali, dan berbagai proyek pembangunan terus berjalan.

Namun, banyak warga menilai kondisi ekonomi dari pengalaman sehari-hari, bukan dari angka statistik.

Ini Belum Selesai

Kabinet Bayangan: Alarm Demokrasi di Tengah Minimnya Oposisi

MBG Dilarang Pakai Subsidi, Siapa Menanggung Selisih Biayanya?

Mereka melihat harga beras di pasar, mereka menghitung biaya transportasi yang terus meningkat, mereka juga merasakan sulitnya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang mampu mengejar kenaikan kebutuhan hidup.

Karena itu, muncul jarak antara narasi resmi dan pengalaman masyarakat.

Di satu sisi, pemerintah berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, banyak keluarga berusaha menjaga daya beli agar tidak terus menurun.

Akibatnya, pertanyaan yang terus muncul menjadi semakin sederhana sekaligus mendasar: jika ekonomi tumbuh, mengapa kehidupan terasa semakin berat?

APBN dan Perebutan Prioritas

Selain mengkritik kondisi ekonomi, mahasiswa juga menyoroti Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut mereka, persoalan utama tidak terletak pada besarnya anggaran negara. Fokus kritik mereka justru mengarah pada prioritas penggunaan anggaran tersebut.

Mahasiswa menyoroti sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, dan berbagai proyek strategis lainnya. Mereka mempertanyakan apakah prioritas tersebut benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat yang paling mendesak.

Sementara itu, banyak kelompok masyarakat masih menghadapi persoalan pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja yang belum sepenuhnya teratasi.

Karena itu, mahasiswa mendorong pemerintah untuk memperkuat sektor yang memiliki dampak langsung terhadap kualitas hidup warga.

Pandangan tersebut berangkat dari keyakinan sederhana: setiap rupiah dalam APBN mencerminkan pilihan politik.

Ketika pemerintah memprioritaskan satu program, pemerintah juga menunda atau mengurangi prioritas pada program lain. Oleh sebab itu, perdebatan tentang APBN bukan sekadar persoalan angka. Perdebatan itu menyangkut siapa yang menerima manfaat terbesar dari uang publik.

Ketika Kritik Ekonomi Berubah Menjadi Krisis Kepercayaan

Menariknya, mahasiswa tidak berhenti pada kritik ekonomi.

Mereka juga meminta pemerintah mengakui kesalahan jika memang terjadi kekeliruan dalam pengelolaan kebijakan publik. Selain itu, mereka menuntut transparansi yang lebih besar dalam penggunaan sumber daya negara.

Tuntutan tersebut menunjukkan satu hal penting. Mahasiswa tidak hanya mempermasalahkan persoalan fiskal, tetapi juga mempertanyakan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Ketika biaya hidup meningkat sementara pemerintah terus menyampaikan optimisme, sebagian masyarakat mulai merasakan jarak antara apa yang mereka alami dan apa yang mereka dengar.

Lama-kelamaan, jarak itu melahirkan kecurigaan.

Apakah pemerintah benar-benar memahami persoalan yang dihadapi masyarakat?

Apakah anggaran negara sudah menjawab kebutuhan yang paling mendesak?

Lebih jauh lagi, siapa sebenarnya yang paling menikmati hasil pembangunan selama ini?

Ini Bukan Sekadar Soal Bangkrut

Istilah “Menuju Indonesia Bangkrut” memang terdengar provokatif. Meski demikian, slogan tersebut menyimpan kegelisahan yang lebih dalam.

Mahasiswa tidak sedang menghitung kapan kas negara habis. Mereka justru mengingatkan publik tentang risiko yang berbeda, yaitu menurunnya kepercayaan terhadap cara negara mengelola kebijakan dan anggaran.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak krisis besar tidak muncul secara tiba-tiba. Sering kali, krisis kepercayaan datang lebih dulu sebelum persoalan ekonomi membesar.

Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan, setiap kenaikan harga terasa lebih menyakitkan. Selain itu, proyek-proyek besar lebih mudah memicu kecurigaan. Bahkan, janji politik yang sebenarnya baik pun sering kali sulit mendapatkan kepercayaan publik.

Alarm dari Jalanan

Pada akhirnya, aksi mahasiswa tidak hanya berbicara tentang APBN, harga beras, atau program pemerintah.

Aksi tersebut juga menjadi sinyal bahwa sebagian generasi muda mulai mempertanyakan arah kebijakan negara.

Mungkin Indonesia belum bangkrut. Namun, keresahan yang muncul di jalanan menunjukkan bahwa banyak warga menginginkan jawaban yang lebih meyakinkan.

Karena itu, pertanyaan yang diajukan mahasiswa layak mendapat perhatian: jika ekonomi disebut baik-baik saja, mengapa semakin banyak orang merasa hidup mereka tidak demikian?

Selama pertanyaan itu terus bergema, pemerintah menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar menjaga angka pertumbuhan.

Pemerintah juga harus menjaga kepercayaan publik. Sebab tanpa kepercayaan, angka-angka ekonomi yang terlihat baik bisa kehilangan maknanya di mata masyarakat. @dimas

Tags: aksi mahasiswaKrisis KepercayaanMenuju Indonesia BangkrutPolitik AnggaranTekanan Ekonomi

Kamu Melewatkan Ini

“Lapor Pak, Kami Sudah Pindah Negara”: Satire untuk Negara

“Lapor Pak, Kami Sudah Pindah Negara”: Kritik Lewat Satire

by dimas
Juli 20, 2026

Satire "Lapor Pak, Kami Sudah Pindah Negara" viral di media sosial. Di balik humor itu, tersimpan kritik tajam tentang krisis...

Tank Bisa Ditunda, Lapar Nggak Bisa Disuruh Antre

Tank Bisa Ditunda, Lapar Nggak Bisa Disuruh Antre

by teguh
Juli 19, 2026

Satu tanda tangan mampu menggeser miliaran rupiah dalam APBN. Namun, satu pidato tidak pernah bisa mengenyangkan perut rakyat karena lapar...

Senjata atau Perut Rakyat? Dilema Negara Anggaran Pertahanan Masuk Meja Efisiensi

Senjata atau Perut Rakyat? Dilema Negara Anggaran Pertahanan Masuk Meja Efisiensi

by teguh
Juli 18, 2026

Ketika Presiden RI Prabowo Subianto membuka opsi mengurangi anggaran pertahanan demi memberantas kemiskinan, negara menghadapi pertanyaan besar keamanan itu soal...

Next Post
Danyang dan Roh Leluhur: Mengapa Masih Dipercaya?

Danyang dan Roh Leluhur: Mengapa Masih Dipercaya?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id