Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Balik Seruan “Indonesia Bangkrut”, Ada Krisis yang Tak Terlihat

by dimas
Juni 13, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Di balik seruan “Indonesia Bangkrut”, mahasiswa menyoroti biaya hidup, APBN, dan krisis kepercayaan terhadap arah negara.

Tabooo.id – Di tengah deretan gedung pencakar langit dan laporan pertumbuhan ekonomi yang terus dipublikasikan pemerintah, ratusan mahasiswa turun ke jalan membawa tuduhan yang terdengar keras: Indonesia sedang menuju bangkrut.

Bagi sebagian orang, seruan itu mungkin terdengar berlebihan. Namun, mahasiswa yang tergabung dalam aksi “Menuju Indonesia Bangkrut” melihatnya sebagai bentuk peringatan. Mereka menilai arah kebijakan ekonomi saat ini semakin menjauh dari kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa tidak sedang membandingkan Indonesia dengan negara yang benar-benar kolaps secara ekonomi. Sebaliknya, mereka menyoroti persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Harga kebutuhan pokok terus naik, biaya hidup semakin berat, dan banyak warga merasa manfaat pembangunan belum sepenuhnya mereka rasakan.

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tidak Selalu Terasa

Pemerintah berkali-kali menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional tetap stabil. Pertumbuhan ekonomi bergerak positif, inflasi relatif terkendali, dan berbagai proyek pembangunan terus berjalan.

Namun, banyak warga menilai kondisi ekonomi dari pengalaman sehari-hari, bukan dari angka statistik.

Ini Belum Selesai

Melawan Simplifikasi Sejarah: Indonesia Sedang Menuju Reformasi Jilid 2?

SI Merah, SI Putih: Dari Perbedaan Menjadi Perpecahan

Mereka melihat harga beras di pasar, mereka menghitung biaya transportasi yang terus meningkat, mereka juga merasakan sulitnya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang mampu mengejar kenaikan kebutuhan hidup.

Karena itu, muncul jarak antara narasi resmi dan pengalaman masyarakat.

Di satu sisi, pemerintah berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, banyak keluarga berusaha menjaga daya beli agar tidak terus menurun.

Akibatnya, pertanyaan yang terus muncul menjadi semakin sederhana sekaligus mendasar: jika ekonomi tumbuh, mengapa kehidupan terasa semakin berat?

APBN dan Perebutan Prioritas

Selain mengkritik kondisi ekonomi, mahasiswa juga menyoroti Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut mereka, persoalan utama tidak terletak pada besarnya anggaran negara. Fokus kritik mereka justru mengarah pada prioritas penggunaan anggaran tersebut.

Mahasiswa menyoroti sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, dan berbagai proyek strategis lainnya. Mereka mempertanyakan apakah prioritas tersebut benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat yang paling mendesak.

Sementara itu, banyak kelompok masyarakat masih menghadapi persoalan pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja yang belum sepenuhnya teratasi.

Karena itu, mahasiswa mendorong pemerintah untuk memperkuat sektor yang memiliki dampak langsung terhadap kualitas hidup warga.

Pandangan tersebut berangkat dari keyakinan sederhana: setiap rupiah dalam APBN mencerminkan pilihan politik.

Ketika pemerintah memprioritaskan satu program, pemerintah juga menunda atau mengurangi prioritas pada program lain. Oleh sebab itu, perdebatan tentang APBN bukan sekadar persoalan angka. Perdebatan itu menyangkut siapa yang menerima manfaat terbesar dari uang publik.

Ketika Kritik Ekonomi Berubah Menjadi Krisis Kepercayaan

Menariknya, mahasiswa tidak berhenti pada kritik ekonomi.

Mereka juga meminta pemerintah mengakui kesalahan jika memang terjadi kekeliruan dalam pengelolaan kebijakan publik. Selain itu, mereka menuntut transparansi yang lebih besar dalam penggunaan sumber daya negara.

Tuntutan tersebut menunjukkan satu hal penting. Mahasiswa tidak hanya mempermasalahkan persoalan fiskal, tetapi juga mempertanyakan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Ketika biaya hidup meningkat sementara pemerintah terus menyampaikan optimisme, sebagian masyarakat mulai merasakan jarak antara apa yang mereka alami dan apa yang mereka dengar.

Lama-kelamaan, jarak itu melahirkan kecurigaan.

Apakah pemerintah benar-benar memahami persoalan yang dihadapi masyarakat?

Apakah anggaran negara sudah menjawab kebutuhan yang paling mendesak?

Lebih jauh lagi, siapa sebenarnya yang paling menikmati hasil pembangunan selama ini?

Ini Bukan Sekadar Soal Bangkrut

Istilah “Menuju Indonesia Bangkrut” memang terdengar provokatif. Meski demikian, slogan tersebut menyimpan kegelisahan yang lebih dalam.

Mahasiswa tidak sedang menghitung kapan kas negara habis. Mereka justru mengingatkan publik tentang risiko yang berbeda, yaitu menurunnya kepercayaan terhadap cara negara mengelola kebijakan dan anggaran.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak krisis besar tidak muncul secara tiba-tiba. Sering kali, krisis kepercayaan datang lebih dulu sebelum persoalan ekonomi membesar.

Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan, setiap kenaikan harga terasa lebih menyakitkan. Selain itu, proyek-proyek besar lebih mudah memicu kecurigaan. Bahkan, janji politik yang sebenarnya baik pun sering kali sulit mendapatkan kepercayaan publik.

Alarm dari Jalanan

Pada akhirnya, aksi mahasiswa tidak hanya berbicara tentang APBN, harga beras, atau program pemerintah.

Aksi tersebut juga menjadi sinyal bahwa sebagian generasi muda mulai mempertanyakan arah kebijakan negara.

Mungkin Indonesia belum bangkrut. Namun, keresahan yang muncul di jalanan menunjukkan bahwa banyak warga menginginkan jawaban yang lebih meyakinkan.

Karena itu, pertanyaan yang diajukan mahasiswa layak mendapat perhatian: jika ekonomi disebut baik-baik saja, mengapa semakin banyak orang merasa hidup mereka tidak demikian?

Selama pertanyaan itu terus bergema, pemerintah menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar menjaga angka pertumbuhan.

Pemerintah juga harus menjaga kepercayaan publik. Sebab tanpa kepercayaan, angka-angka ekonomi yang terlihat baik bisa kehilangan maknanya di mata masyarakat. @dimas

Tags: aksi mahasiswaKrisis KepercayaanMenuju Indonesia BangkrutPolitik AnggaranTekanan Ekonomi

Kamu Melewatkan Ini

Menuju Indonesia Bangkrut: Bundaran HI Ditutup, Kritik Tetap Bergema

Menuju Indonesia Bangkrut: Bundaran HI Ditutup, Kritik Tetap Bergema

by dimas
Juni 13, 2026

Lebih dari 700 mahasiswa turun ke jalan dalam aksi "Menuju Indonesia Bangkrut". Meski gagal mencapai Bundaran HI, kritik terhadap pemerintah...

Mahasiswa Solo Menggugat: BBM Naik, Rakyat Makin Terjepit

Mahasiswa Solo Menggugat: BBM Naik, Rakyat Makin Terjepit

by dimas
Juni 13, 2026

Ratusan mahasiswa Solo Raya menggelar aksi di DPRD Solo. Mereka menyoroti BBM naik, rupiah melemah, MBG, RUU Polri, hingga TPA...

Tenggat 18 Hari untuk Rupiah, Mahasiswa Bawa Ancaman Reformasi

Tenggat 18 Hari untuk Rupiah, Mahasiswa Bawa Ancaman Reformasi

by dimas
Juni 8, 2026

Mahasiswa memberi tenggat 18 hari kepada pemerintah untuk menguatkan rupiah. Di baliknya, muncul ancaman Reformasi Jilid 2. Tabooo.id - Menjelang...

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id