Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa penasaran sekaligus penolakan di sejumlah tempat. Di tengah debat itu, satu pertanyaan lama kembali muncul: kenapa karya-karyanya hampir selalu membuat publik tak nyaman?
Tabooo.id – Nama Dandhy Laksono kembali ramai diperbincangkan setelah film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kitaviral di media sosial. Publik tidak hanya membahas isi filmnya. Penolakan pemutaran di sejumlah daerah justru membuat rasa penasaran makin besar.
Bagi pengikut jurnalisme investigatif Indonesia, situasi ini bukan hal baru. Selama bertahun-tahun, sosok Dandhy Laksono dikenal lewat dokumenter yang sering mengguncang ruang diskusi publik. Karyanya kerap memicu debat, sekaligus membuat sebagian pihak merasa terusik.
Dari Lumajang ke Dunia Investigasi
Dandhy Dwi Laksono lahir di Lumajang, Jawa Timur, pada 29 Juni 1976. Ia mengambil studi Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, Bandung. Setelah itu, ia memperluas pemahaman jurnalistik lewat program internasional di Amerika Serikat dan Inggris, hingga akhirnya nama Dandhy Laksono terus tumbuh di dunia investigasi nasional.
Dandhy memulai karier jurnalistik dari media cetak. Ia pernah menulis di Tabloid Kapital dan Warta Ekonomi. Setelah itu, ia berpindah ke dunia radio melalui PAS FM, Smart FM, hingga menjadi stringer untuk ABC Australia.
Kariernya terus bergerak ke televisi. Ia sempat bekerja sebagai produser berita di Liputan 6 SCTV lalu memimpin peliputan di RCTI.
Namun, arah kariernya berubah ketika dunia dokumenter investigatif menarik perhatiannya. Di titik itu, Dandhy tidak hanya ingin melaporkan kejadian. Dalam perjalanan karier Dandhy Laksono, ia ingin memperlihatkan pola, relasi kuasa, dan sistem yang bekerja di balik sebuah peristiwa.
Watchdoc dan Dokumenter yang Mengusik
Melalui Watchdoc Documentary Maker, Dandhy mulai membangun identitas sebagai pembuat film dokumenter investigatif. Ia mengangkat isu lingkungan, politik, hingga ketimpangan sosial ke ruang publik. Di bidang ini, nama Dandhy Laksono menjadi sangat vokal dalam menyuarakan perubahan.
Salah satu karyanya yang paling ramai diperbincangkan ialah Sexy Killers pada 2019. Film itu mengupas hubungan industri batu bara dengan elite politik menjelang Pemilu.
Setelah itu, publik kembali memperhatikan namanya lewat Dirty Vote pada 2024. Dokumenter tersebut memicu diskusi panjang tentang demokrasi dan integritas pemilu.
Kini, sorotan mengarah ke Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026). Bersama Cypri Paju Dale, Dandhy merekam dampak Program Strategis Nasional (PSN) di Papua. Tidak bisa dilepaskan dari sosok Dandhy Laksono, film itu menampilkan perubahan besar pada hutan adat dan ruang hidup masyarakat di Merauke, Boven Digoel, hingga Mappi.
Menariknya, perhatian publik tidak tumbuh hanya karena isi film. Penolakan pemutaran di beberapa wilayah justru memperbesar rasa ingin tahu. Pembubaran nonton bareng di Universitas Mataram pada awal Mei 2026 bahkan mempercepat penyebaran diskusi di media sosial.
Jurnalis, Aktivis, atau Keduanya?
Di titik ini, opini publik tentang Dandhy sering terbelah. Topik ini muncul terutama karena karya Dandhy Laksono yang selalu disorot.
Sebagian orang melihatnya sebagai jurnalis investigatif yang berani menyentuh isu sensitif. Sebagian lain menganggap film-filmnya terlalu politis.
Namun satu pola terus muncul dalam perjalanan kariernya: Dandhy membawa isu rumit ke ruang publik lewat medium dokumenter. Ia memakai kamera untuk mengajukan pertanyaan, bukan sekadar merekam kejadian.
Banyak akademisi media memandang dokumenter investigatif sebagai alat penting dalam demokrasi. Format ini membantu publik memahami persoalan yang sering luput dari laporan berita harian. Di sisi lain, kritik terhadap karya investigatif tetap muncul dan menjadi bagian dari perdebatan sehat, selama semua pihak bertumpu pada data dan argumen. Tidak jarang, perdebatan tersebut melibatkan pandangan tentang Dandhy Laksono sebagai jurnalis atau aktivis.
Bukan Sekadar Tentang Dandhy
Cerita Dandhy Laksono tidak berhenti pada satu tokoh atau satu film. Nama Dandhy Laksono turut menjadi ikon dalam dunia dokumenter sosial Indonesia.
Kisah ini juga berbicara tentang keberanian mengambil posisi di tengah ruang demokrasi yang makin bising. Ketika banyak orang memilih aman, sebagian orang justru memilih bertanya lebih jauh.
Mungkin pertanyaan terpentingnya bukan lagi: siapa Dandhy Laksono? @jeje
kenapa film dokumenter yang membahas konflik sosial masih sering membuat banyak pihak merasa tidak nyaman?





