Amir Syarifuddin pernah menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia, tetapi namanya lebih sering muncul dalam bayang-bayang PKI dan Peristiwa Madiun 1948. Di satu sisi, ia dikenal sebagai tokoh kiri yang dekat dengan komunisme. Namun di sisi lain, ia rutin membaca Injil, aktif di gereja, dan tetap membawa kitab sucinya saat menghadapi regu tembak.
Tabooo.id – Di Indonesia, banyak orang menempatkan komunisme dan agama sebagai dua kutub yang mustahil bertemu. Sebagian masyarakat melihat komunisme sebagai ancaman. Di sisi lain, mereka menjadikan agama sebagai benteng moral.
Masalahnya, sejarah tidak pernah sesederhana itu.
Karena ada seorang tokoh revolusi Indonesia yang aktif berkhotbah di gereja, rutin membaca Alkitab, memimpin perjuangan anti-fasis, menjabat Perdana Menteri Republik Indonesia, lalu mati sebagai tokoh komunis di depan regu tembak.
Lahir dari Dunia Elite, Berakhir Sebagai Musuh Negara
Amir lahir di Medan pada 1907 dari keluarga aristokrat Batak Angkola yang dekat dengan struktur hukum kolonial. Ayahnya seorang jaksa. Kakeknya juga bagian dari birokrasi Hindia Belanda.
Sejak awal, Amir sebenarnya bisa hidup nyaman mengikuti jalur elite kolonial. Ia mengenyam pendidikan bergengsi Belanda, dan tumbuh di lingkungan sosial yang hampir mustahil terjangkau oleh kebanyakan pribumi pada masa itu.
Namun justru dari lingkungan itu, Amir tumbuh menjadi sosok yang mempertanyakan kekuasaan.
Ia belajar di Belanda, masuk lingkungan intelektual Leiden, lalu mulai terpapar gerakan anti-kolonial dan pemikiran kiri Eropa.
Di titik itu, identitas Amir mulai terbentuk.
Bukan hanya sebagai nasionalis. Tapi juga sebagai intelektual yang percaya bahwa ketimpangan sosial tidak bisa selesai setengah-setengah.
Ketika Kristen dan Revolusi Masuk ke Tubuh yang Sama
Bagian paling mengganggu dari kisah Amir mungkin bukan soal PKI.
Tapi soal agama.
Pada 1931, Amir memutuskan masuk Kristen Protestan di tengah aktivitas politik kirinya yang semakin radikal.
Banyak orang melihat ini sebagai kontradiksi.
Komunisme identik dengan ateisme. Sementara Amir justru aktif di gereja.
Ia membaca Alkitab setiap pagi. Ia ikut perkumpulan doa. Bahkan beberapa sumber menyebut ia sering memberikan khotbah di HKBP Batavia.
Namun bagi Amir, komunisme bukan soal menolak Tuhan.
Ia melihat sosialisme sebagai bentuk perjuangan terhadap ketidakadilan. Semacam penerjemahan politik dari gagasan tentang pembelaan terhadap kaum tertindas.
Aneh memang.
Namun sejarah sering bergerak melalui orang-orang yang identitasnya terlalu rumit untuk disederhanakan.
Indonesia Sering Gelisah dengan Orang yang Terlalu Kompleks
Masalahnya bukan cuma pada Amir.
Masalahnya, publik cenderung lebih nyaman dengan identitas yang sederhana.
Masyarakat sering menuntut tokoh religius untuk menjauh dari gagasan kiri. Banyak orang juga ingin nasionalisme tampil rapi tanpa aroma revolusi yang terlalu keras. Pada akhirnya, publik lebih mudah menerima figur negara yang identitasnya terasa sederhana dan gampang dipahami.
Padahal manusia nyata jarang sesederhana slogan politik.
Amir menjadi contoh bagaimana Indonesia pernah melahirkan tokoh dengan identitas yang bertumpuk sekaligus. Ia seorang nasionalis, Kristen Protestan, sosialis, anti-fasis, intelektual didikan Barat, dan tetap berdiri sebagai tokoh revolusi dalam satu waktu.
Dan semuanya ada dalam satu tubuh. Kerumitan identitas itulah yang membuat banyak kelompok tidak pernah benar-benar sepenuhnya menerima Amir.
Melawan Jepang Saat Banyak Tokoh Memilih Kolaborasi
Ketika Jepang datang pada 1942, banyak tokoh nasional memilih bekerja sama demi membuka peluang kemerdekaan.
Namun Amir mengambil jalur berbeda.
Ia membentuk gerakan bawah tanah anti-fasis dan menjalankan perlawanan rahasia terhadap Jepang. Langkah itu membuat Kenpeitai menangkapnya dan menyeretnya ke proses interogasi brutal.
Amir menanggung penyiksaan, menerima vonis mati, lalu tinggal selangkah lagi menuju eksekusi sebelum Soekarno dan Mohammad Hatta turun tangan menyelamatkan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, Amir justru mati sebagai musuh negara yang ikut ia bangun.
Dari Perdana Menteri ke Tokoh Kiri Radikal
Setelah Indonesia merdeka, karier politik Amir melesat cepat.
Ia menjadi Menteri Pertahanan, lalu Perdana Menteri kedua Republik Indonesia pada 1947.
Namun konflik mulai membesar setelah Perjanjian Renville.
Banyak pihak menganggap diplomasi itu terlalu mengalah kepada Belanda. Dukungan politik terhadap Amir runtuh perlahan.
Di titik ini, Amir bergerak semakin jauh ke kiri.
Ia kemudian membentuk Front Demokrasi Rakyat, semakin dekat dengan PKI, dan pada akhirnya secara terbuka mengakui keterlibatannya dalam gerakan komunis sejak lama.
Revolusi Indonesia mulai berubah arah.
Bukan lagi sekadar perang melawan penjajah. Tapi juga perebutan tentang kemana arah Indonesia.
Malam Ketika Injil dan Internasionale Bertemu
Pada Desember 1948, pasukan pemerintah menangkap Amir Syarifuddin setelah pecahnya Peristiwa Madiun.
Aparat kemudian membawanya ke Desa Ngalihan, Solo, tempat sebuah lubang eksekusi telah menunggu.
Menjelang regu tembak menjalankan perintah, Amir meminta waktu untuk bernyanyi bersama rekan-rekannya.
Mereka menyanyikan Indonesia Raya, kemudian lagu Internasionale.
Menurut berbagai catatan, Amir juga membawa Injil saat menghadapi regu tembak.
Di momen itu, semua identitas yang selama ini orang anggap saling bertabrakan justru hadir dalam satu tubuh seorang Amir Syarifuddin, yaitu nasionalisme, Kristen, komunisme, dan revolusi.
Sampai hari ini, Indonesia mungkin masih belum benar-benar selesai memahami bagaimana semua hal itu pernah hidup bersamaan dalam diri satu tokoh.
Tokoh yang Tidak Pernah Selesai Diperdebatkan
Sejarah Indonesia sempat menyingkirkan nama Amir Syarifuddin dari narasi besarnya. Sekolah jarang membahas perannya, sementara peringatan nasional hampir tidak pernah menyebut namanya.
Padahal Amir ikut terlibat dalam Sumpah Pemuda, membangun perlawanan anti-fasis, menyusun pertahanan republik, hingga membawa Indonesia masuk ke arena diplomasi internasional.
Mungkin karena tokoh seperti Amir terlalu sulit dijadikan simbol yang bersih. Ia tidak sepenuhnya cocok untuk semua kubu. Dan sejarah sering lebih nyaman dengan tokoh yang mudah dijelaskan.
Manusia Tidak Sesederhana Ideologi
Amir Syarifuddin mungkin bukan tokoh paling populer dalam sejarah Indonesia. Namun justru di situlah bagian pentingnya.
Ia mengingatkan bahwa manusia bisa jauh lebih rumit daripada label politik yang ditempelkan kepadanya.
Kadang seseorang bisa percaya pada revolusi dan Tuhan sekaligus, dan kadang, justru orang-orang seperti itu yang paling cepat dihapus dari ingatan publik. @tabooo





