Tabooo.id: Regional – Maidi paham sistem dari dalam. Tapi justru di situlah semuanya mulai runtuh Dari guru, birokrat, hingga pucuk kekuasaan, lalu jatuh di titik yang sama, kekuasaan itu sendiri.
Dari Guru ke Birokrat
Maidi tidak muncul tiba-tiba di panggung kekuasaan. Ia memulai dari profesi sebagai guru Geografi.
Namun, tidak berhenti di situ. Kemudian, posisinya naik menjadi Kepala SMAN 2 Madiun, lalu masuk ke struktur pemerintahan.
Di titik ini, arah hidupnya berubah. Maidi tidak lagi hanya mengajar, tapi mulai memahami bagaimana sistem bekerja dari dalam.
Masuk ke Inti Kekuasaan
Kariernya terus melejit. Maidi menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan, lalu Kepala Dinas Pendapatan Daerah.
Namun, tak bisa dipungkiri, yang paling menentukan langkahnya adalah saat ia menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Madiun selama hampir sembilan tahun.
Posisi ini bukan sekadar jabatan administratif. Sekretaris Daerah adalah pusat kendali birokrasi.
Semua aliran anggaran, kebijakan, dan keputusan strategis melewati posisi ini. Dan Maidi ada di tengahnya.
Dari Birokrat Menjadi Wali Kota
Setelah memahami sistem, Maidi pun melangkah masuk ke dunia politik. Ia maju sebagai Wali Kota dan berhasil menang.
Ia memimpin periode 2019–2024. Kemudian, ia kembali terpilih untuk periode kedua 2025–2030.
Publik melihat Maidi sebagai pemimpin berpengalaman. Ia punya rekam jejak panjang dan gelar akademik lengkap.
Maidi dipandang seperti sosok yang “paling siap” memimpin Kota Madiun.
Citra, Kekayaan, dan Kekuasaan
Tentu saja, ini memperkuat citranya sebagai pejabat mapan. Namun di sisi lain, angka ini juga memunculkan pertanyaan, apakah semua itu murni hasil kerja, atau ada cerita lain di baliknya?
Titik Jatuh: OTT KPK
Semua berubah pada 19 Januari 2026. KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Maidi.
Statusnya sebagai wali kota aktif membuat kasus ini langsung mengguncang publik. Seorang birokrat senior yang memahami sistem justru terjerat oleh sistem itu sendiri.
Ironisnya, ini bukan pertama kalinya. Ia menjadi wali kota ketiga di Madiun yang terseret kasus korupsi.
Bukan Sekadar Cerita Maidi
Ini bukan sekadar cerita jatuhnya seorang Maidi, Karena bagaimanapun juga, ini adalah pola yang terus berulang.
Semakin lama seseorang berada dalam sistem, semakin ia memahami celahnya. Dan di titik tertentu, celah itu berubah jadi kekuasaan.
Masalahnya, kekuasaan tanpa kontrol hampir selalu berakhir sama.
Dan permasalahan-permasalahan “biasa” semacam ini, sebenarnya berdampak buat kamu.
Anggaran publik bisa tidak berjalan maksimal. Program yang seharusnya kamu rasakan jadi tidak sampai.
Namun yang lebih dalam, kepercayaan kamu ikut terkikis. Dan ketika kepercayaan hilang, sistem kehilangan fondasinya.
Masalahnya Bukan Hanya Maidi.
Masalahnya bukan hanya Maidi, tetapi juga pada sistem yang memberi ruang terlalu besar tanpa pengawasan kuat.
Ironisnya, orang yang paling paham sistem justru punya peluang terbesar untuk menyalahgunakannya.
Semakin berpengalaman seseorang di dalam sistem, semakin besar risikonya menjadi bagian dari masalah.
Maidi memulai dari bawah. Ia naik perlahan, memahami sistem, lalu memimpin kota.
Namun akhirnya, ia jatuh di titik yang sama, kekuasaan.
Sekarang pertanyaannya bukan lagi tentang dia. Tapi tentang kita semua.
Kalau pola ini terus berulang, siapa berikutnya? @tabooo






