Tabooo.id: Deep – Di banyak kampus Indonesia, ide-ide besar sering lahir dalam diam. Mereka muncul di ruang laboratorium, tumbuh di meja penelitian, lalu selesai sebagai file PDF yang rapi di perpustakaan digital. Judulnya canggih. Datanya lengkap. Metodenya sahih. Namun nasibnya sama dibaca segelintir orang, lalu perlahan hilang dari percakapan publik. Riset kita sering cemerlang di seminar, tetapi sunyi di pasar.
Karena itu, langkah Institut Teknologi Sepuluh Nopember pada Senin, 13/04/2026, patut dibaca lebih dari sekadar seremoni kampus. ITS melakukan soft launching New Sains Techno Park (STP) ITS 2027 kawasan inovasi seluas 10 hektare yang ingin menjembatani hasil riset dengan kebutuhan nyata industri.
Pertanyaannya sederhana, tetapi tajam apakah ini titik balik, atau hanya gedung baru dengan spanduk baru?
Penyakit Lama: Kampus Pintar, Sistem Lambat
Indonesia bukan kekurangan otak. Negeri ini punya ribuan dosen, peneliti, mahasiswa, dan insinyur muda. Namun, ekosistem yang menghubungkan pengetahuan ke industri sering pincang.
Akademisi Anies Baswedan pernah menyinggung pentingnya relevansi pendidikan tinggi.
“Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari realitas masyarakat,” ujar Anies dalam forum pendidikan nasional, 21/10/2016.
Kalimat itu masih relevan hari ini. Banyak kampus menghasilkan skripsi, tesis, disertasi, tetapi sedikit yang berubah menjadi mesin produksi, layanan publik, atau startup yang hidup.
Sosiolog Robertus Robet dalam berbagai diskusi akademik juga kerap menyoroti jarak antara institusi pengetahuan dan kebutuhan sosial. Kampus sering hebat membahas masalah, tetapi lambat menciptakan solusi yang bisa dipakai rakyat.
Masalahnya bukan cuma dana. Masalahnya ada pada budaya birokrasi, ego sektoral, dan minimnya keberanian mengambil risiko.
ITS Sedang Mencoba Memutus Kutukan Itu
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyebut STP ITS sebagai modal awal hilirisasi riset.
“Sudah waktunya ke depan kita membangun ekonomi yang berbasis pengetahuan dan teknologi, dan operasionalisasi STP ini bisa dimaknai sebagai penanaman modal bagi pengembangan startup baru di perguruan tinggi negeri,” kata Rachmat pada 13/04/2026.
Kalimat “sudah waktunya” terasa penting. Sebab artinya kita terlalu lama menunda.
Rektor ITS Bambang Pramujati menegaskan kawasan ini bukan proyek kosmetik.
“Termasuk secara nyata memperkuat dan membangun kapasitas STP, baik dalam infrastruktur maupun pengembangan sumber daya manusia itu sendiri,” ujarnya pada 13/04/2026.
ITS kini mengelola empat klaster utama:
- Maritim
- Otomotif
- Teknologi Informasi dan Komunikasi / Robotika
- Industri Kreatif
Ini pilihan strategis. Indonesia negara kepulauan, pasar otomotif besar, pengguna digital masif, dan ekonomi kreatif terus tumbuh. Jika riset diarahkan ke empat sektor itu, peluang dampaknya nyata.
Dari Robot Hingga Kapal Otonom
Bambang juga membeberkan sejumlah inovasi yang sudah muncul dari kampus:
“Seperti munculnya berbagai alat kesehatan, robot RAISA, produk kendaraan listrik, kapal otonom kita yaitu i-Boat, dan berbagai produk kreatif untuk membantu UMKM,” katanya, 13 April 2026.
Di sinilah perbedaan mulai terasa. Kampus tidak hanya bicara teori robotika, tetapi membuat robot. Tidak hanya mengajar transportasi masa depan, tetapi merancang kendaraan listrik. Tidak hanya menulis soal maritim, tetapi menciptakan kapal otonom. Itulah ilmu yang turun dari menara gading.
Dampak Besar bagi Bangsa dan Umat
Jika proyek ini berjalan serius, dampaknya bisa jauh melampaui pagar kampus.
1. Lapangan Kerja Baru
Startup berbasis teknologi bisa menyerap talenta muda. Lulusan teknik tidak harus menunggu lowongan lama.
2. Kemandirian Nasional
Indonesia terlalu lama menjadi pasar produk asing. Tech park membuka peluang menjadi produsen.
3. Solusi Sosial
Alat kesehatan murah, teknologi UMKM, kapal pintar, kendaraan ramah lingkungan semuanya bisa menyentuh kebutuhan rakyat.
4. Reformasi Pendidikan
Mahasiswa belajar bukan hanya untuk nilai, tetapi untuk memecahkan masalah nyata.
Tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan:
“Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak.” (dikutip luas dalam warisan pemikiran pendidikan Indonesia)
Kalau diterjemahkan hari ini kampus harus menuntun bakat menjadi manfaat.
Namun Ada Sisi Gelap yang Perlu Dijaga
Setiap proyek ambisius membawa risiko. Tech park bukan pengecualian.
1. Gedung Megah, Isi Kosong
Banyak proyek gagal bukan karena konsep buruk, tetapi karena manajemen lemah. Bangunan berdiri, aktivitas sepi.
2. Riset Dikuasai Pasar
Jika terlalu mengejar komersialisasi, kampus bisa melupakan riset dasar yang penting tetapi tidak cepat untung.
3. Ketimpangan Antar Kampus
Kampus besar maju pesat, kampus kecil tertinggal. Akibatnya, inovasi hanya berputar di kota besar.
4. Brain Drain
Talenta terbaik bisa dibajak perusahaan luar negeri jika ekosistem lokal tidak kompetitif.
Ekonom Mari Elka Pangestu pernah menekankan dalam forum industri bahwa inovasi membutuhkan ekosistem, bukan sekadar investasi fisik. Gedung tanpa jejaring industri hanya akan menjadi monumen mahal.
Rp650 Miliar dan Ujian Serius
ITS menyebut pengembangan ini mendapat dukungan program HETI yang didanai Asian Development Bank.
“Negara telah memfasilitasi pembangunan STP sejak tahun 2022 lalu, di antaranya melalui program HETI-ADB dengan alokasi dana mencapai Rp650 miliar,” ungkap Bambang.
Angka itu besar. Tetapi ukuran keberhasilan bukan pada nominalnya. Ukurannya adalah:
- berapa produk dipakai masyarakat
- berapa startup bertahan lima tahun
- berapa paten masuk industri
- berapa masalah rakyat terselesaikan
Jika tidak, dana besar hanya menjadi statistik rapat.
Tabooology: Bangsa Ini Tidak Kekurangan Ide, Hanya Kekurangan Jembatan
Indonesia punya banyak orang pintar. Yang sering kurang adalah sistem yang mempertemukan ilmu dengan kebutuhan rakyat. ITS sedang mencoba membangun jembatan itu.
Namun jembatan tak berguna bila tak ada yang melintas. Pemerintah harus konsisten. Industri harus percaya. Kampus harus rendah hati. Mahasiswa harus berani gagal.
Jika semua itu bertemu, riset tak lagi mati di rak. Ia hidup di rumah sakit, di pelabuhan, di bengkel UMKM, di pabrik nasional, dan di tangan rakyat yang selama ini menunggu manfaat ilmu pengetahuan. Kalau tidak? Kita hanya akan punya gedung baru, dengan masalah lama. @teguh
![[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?](https://tabooo.id/wp-content/uploads/2026/04/Polling-Perempuan-Sudah-Merdeka-atau-Cuma-Terlihat-Merdeka-350x250.jpg)





