Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026
in Culture, Tabooo Book Club
A A
Home Culture Tabooo Book Club
Share on FacebookShare on Twitter
Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan Malaka yang terbit pada 1924. Saat banyak tokoh masih berbicara tentang perbaikan nasib di bawah kolonialisme, Tan Malaka sudah berbicara tentang republik yang merdeka sepenuhnya. Ia tidak sekadar memimpikan kemerdekaan. Ia merancangnya. Dan hampir seratus tahun kemudian, buku ini masih meninggalkan pertanyaan yang sama pentingnya: setelah merdeka, apakah Indonesia telah berjalan menuju tujuan yang pernah dibayangkannya?

Tabooo.id – Salah satu bagian paling menarik dari buku ini terletak pada cara Tan Malaka melihat motor perubahan sejarah.

Ia tidak menaruh harapan pada kalangan bangsawan. Birokrasi kolonial juga bukan aktor utama dalam visinya. Bahkan kelompok elite tidak mendapatkan posisi istimewa dalam gagasannya.

Sebaliknya, Tan Malaka menempatkan rakyat sebagai kekuatan utama perubahan.

Petani memegang peran penting dalam fondasi ekonomi bangsa. Buruh menjadi penggerak produksi dan perjuangan sosial. Sementara itu, kaum muda serta kalangan intelektual yang bersedia turun dari menara gading harus ikut mengambil bagian dalam proses perubahan.

Karena itulah, Tan Malaka berkali-kali menegaskan bahwa kemerdekaan tidak boleh berubah menjadi proyek segelintir orang. Sebaliknya, rakyat yang sadar, terorganisir, dan memiliki tujuan bersama harus menjadi pemilik utama republik yang diperjuangkan.

Ini Belum Selesai

Nasi Tumpeng: Makanan yang Menyatukan Animisme, Hindu-Budha, dan Islam

Paket Santet: Teror Tidak Mengetuk Pintu, Ia Datang Sebagai Kiriman

Dengan pendekatan seperti itu, buku ini terasa lebih dekat dengan manifesto perjuangan daripada sekadar analisis politik.

Gagasan Lama yang Masih Terdengar Modern

Ketika membaca program politik yang Tan Malaka susun pada tahun 1924, banyak pembaca masa kini mungkin akan merasa terkejut.

Melalui buku ini, ia membahas berbagai gagasan yang hingga sekarang masih relevan, mulai dari wajib belajar gratis, pemerataan pendidikan, hak politik perempuan, koperasi rakyat, perlindungan buruh, reforma agraria, hingga industrialisasi nasional.

Selain itu, Tan Malaka juga membicarakan pemisahan agama dan negara dalam urusan administrasi pemerintahan.

Menariknya, sejumlah gagasan tersebut masih menjadi bahan perdebatan di Indonesia hingga hari ini.

Karena itu, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumen sejarah. Lebih jauh lagi, buku ini hadir sebagai cermin yang memantulkan persoalan bangsa dari masa ke masa.

Sering kali cermin mampu menunjukkan kenyataan dengan lebih tajam dibandingkan kritik yang paling keras sekalipun.

Membaca Tan Malaka Setelah Satu Abad

Hampir satu abad telah berlalu sejak Tan Malaka menulis buku ini.

Indonesia telah meraih kemerdekaan. Kepemimpinan nasional berganti dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sementara itu, partai politik terus berubah mengikuti dinamika zaman.

Meskipun demikian, sejumlah pertanyaan yang dia ajukan tetap bertahan hingga sekarang.

Apakah kemerdekaan sudah menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat?

Apakah negara benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat luas?

Sudahkah pendidikan menjadi alat pembebasan, bukan sekadar sarana memperoleh pekerjaan?

Ataukah politik justru berubah menjadi arena perebutan kekuasaan yang semakin menjauh dari rakyat?

Karena pertanyaan-pertanyaan itulah, buku ini tetap terasa hidup dan relevan hingga hari ini.

Bukan Sekadar Arsip Masa Lalu

Banyak pembaca melakukan satu kesalahan ketika membaca Tan Malaka: mereka menempatkannya semata-mata sebagai tokoh sejarah.

Padahal, isi Naar de Republiek Indonesia terasa sangat dekat dengan persoalan Indonesia masa kini.

Melalui buku tersebut, Tan Malaka menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengakhiri penjajahan.

Lebih dari itu, kemerdekaan merupakan keberanian untuk membayangkan masa depan, menyusun arah bangsa, dan memastikan rakyat menjadi bagian utama dari perjalanan tersebut.

Oleh sebab itu, ketika generasi sekarang membaca buku ini, yang terdengar bukan sekadar suara dari masa lalu.

Yang terdengar adalah sebuah pertanyaan yang masih relevan hingga hari ini: setelah merdeka, Indonesia sebenarnya ingin menjadi apa?

Kutipan yang Menancap

“Kemerdekaan Indonesia dengan segera dan tak terbatas.”

Bagi pembaca masa kini, kalimat itu mungkin terlihat sederhana.

Namun pada tahun 1924, pernyataan tersebut merupakan keberanian politik yang luar biasa.

Ketika banyak tokoh masih berbicara mengenai perbaikan sistem kolonial, Tan Malaka justru mendorong lahirnya sebuah republik yang merdeka sepenuhnya. @jeje

Informasi Buku

Judul: Naar de Republiek Indonesia
Penulis: Tan Malaka
Tahun Terbit Pertama: 1925 (ditulis pada 1924)
Bahasa Asli: Belanda
Genre: Politik, Sejarah, Pemikiran Kebangsaan
Tema Utama: Kemerdekaan Indonesia, Republik, Nasionalisme, Demokrasi Rakyat, Keadilan Sosial
Jumlah Halaman: Bervariasi tergantung edisi penerbit
Tingkat Bacaan: Menengah hingga Lanjutan

Tentang Buku

Naar de Republiek Indonesia merupakan salah satu karya politik terpenting Tan Malaka yang lahir jauh sebelum Indonesia merdeka. Melalui buku ini, Tan Malaka tidak hanya menyerukan kemerdekaan dari kolonialisme Belanda, tetapi juga merumuskan gambaran tentang bentuk negara Indonesia yang ingin dibangun setelah merdeka.

Di dalamnya, ia membahas berbagai isu strategis seperti pendidikan nasional, ekonomi rakyat, industrialisasi, hak politik perempuan, reforma agraria, hingga konsep perwakilan rakyat dalam pemerintahan. Karena itu, banyak sejarawan menilai buku ini sebagai salah satu cetak biru awal mengenai gagasan Republik Indonesia.

Hampir satu abad setelah ditulis, Naar de Republiek Indonesia tetap relevan karena sejumlah persoalan yang dibahas Tan Malaka masih menjadi perdebatan dalam kehidupan politik dan sosial Indonesia hingga hari ini.

Tags: Demokrasi IndonesiaKeadilan IndonesiaKemerdekaanNasionalNasionalisme IndonesiaPemikiran Tan MalakapolitikPolitik IndonesiaTan Malaka

Kamu Melewatkan Ini

Istana Pastikan Belum Ada Reshuffle, Presiden Terus Evaluasi Kinerja Menteri

Istana Pastikan Belum Ada Reshuffle, Presiden Terus Evaluasi Kinerja Menteri

by teguh
Juli 21, 2026

Spekulasi perombakan kabinet atau Reshuffle kembali mencuat. Namun, Istana memastikan Presiden Prabowo Subianto belum mengambil langkah itu. Sebaliknya, Presiden memilih...

Divide et Impera: Warisan Kolonial yang Masih Membelah Indonesia

Divide et Impera: Warisan Kolonial yang Masih Membelah Indonesia

by dimas
Juli 21, 2026

Divide et impera bukan sekadar strategi kolonial, tetapi pola kekuasaan yang masih hidup melalui politik identitas. Mengapa politik pecah belah...

Gerpolek: Saat Kemerdekaan Tidak Berhenti pada Proklamasi

Gerpolek: Saat Kemerdekaan Tidak Berhenti pada Proklamasi

by dimas
Juli 20, 2026

Gerpolek karya Tan Malaka mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada Proklamasi 1945. Revolusi harus menghadirkan kedaulatan politik, ekonomi, dan keadilan...

Next Post
Musso dan Doktrin Jalan Baru: Kritik Keras atas Revolusi Indonesia

Musso dan Doktrin Jalan Baru: Kritik Keras atas Revolusi Indonesia

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id