Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan Malaka yang terbit pada 1924. Saat banyak tokoh masih berbicara tentang perbaikan nasib di bawah kolonialisme, Tan Malaka sudah berbicara tentang republik yang merdeka sepenuhnya. Ia tidak sekadar memimpikan kemerdekaan. Ia merancangnya. Dan hampir seratus tahun kemudian, buku ini masih meninggalkan pertanyaan yang sama pentingnya: setelah merdeka, apakah Indonesia telah berjalan menuju tujuan yang pernah dibayangkannya?
Tabooo.id – Salah satu bagian paling menarik dari buku ini terletak pada cara Tan Malaka melihat motor perubahan sejarah.
Ia tidak menaruh harapan pada kalangan bangsawan. Birokrasi kolonial juga bukan aktor utama dalam visinya. Bahkan kelompok elite tidak mendapatkan posisi istimewa dalam gagasannya.
Sebaliknya, Tan Malaka menempatkan rakyat sebagai kekuatan utama perubahan.
Petani memegang peran penting dalam fondasi ekonomi bangsa. Buruh menjadi penggerak produksi dan perjuangan sosial. Sementara itu, kaum muda serta kalangan intelektual yang bersedia turun dari menara gading harus ikut mengambil bagian dalam proses perubahan.
Karena itulah, Tan Malaka berkali-kali menegaskan bahwa kemerdekaan tidak boleh berubah menjadi proyek segelintir orang. Sebaliknya, rakyat yang sadar, terorganisir, dan memiliki tujuan bersama harus menjadi pemilik utama republik yang diperjuangkan.
Dengan pendekatan seperti itu, buku ini terasa lebih dekat dengan manifesto perjuangan daripada sekadar analisis politik.
Gagasan Lama yang Masih Terdengar Modern
Ketika membaca program politik yang Tan Malaka susun pada tahun 1924, banyak pembaca masa kini mungkin akan merasa terkejut.
Melalui buku ini, ia membahas berbagai gagasan yang hingga sekarang masih relevan, mulai dari wajib belajar gratis, pemerataan pendidikan, hak politik perempuan, koperasi rakyat, perlindungan buruh, reforma agraria, hingga industrialisasi nasional.
Selain itu, Tan Malaka juga membicarakan pemisahan agama dan negara dalam urusan administrasi pemerintahan.
Menariknya, sejumlah gagasan tersebut masih menjadi bahan perdebatan di Indonesia hingga hari ini.
Karena itu, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumen sejarah. Lebih jauh lagi, buku ini hadir sebagai cermin yang memantulkan persoalan bangsa dari masa ke masa.
Sering kali cermin mampu menunjukkan kenyataan dengan lebih tajam dibandingkan kritik yang paling keras sekalipun.
Membaca Tan Malaka Setelah Satu Abad
Hampir satu abad telah berlalu sejak Tan Malaka menulis buku ini.
Indonesia telah meraih kemerdekaan. Kepemimpinan nasional berganti dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sementara itu, partai politik terus berubah mengikuti dinamika zaman.
Meskipun demikian, sejumlah pertanyaan yang dia ajukan tetap bertahan hingga sekarang.
Apakah kemerdekaan sudah menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat?
Apakah negara benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat luas?
Sudahkah pendidikan menjadi alat pembebasan, bukan sekadar sarana memperoleh pekerjaan?
Ataukah politik justru berubah menjadi arena perebutan kekuasaan yang semakin menjauh dari rakyat?
Karena pertanyaan-pertanyaan itulah, buku ini tetap terasa hidup dan relevan hingga hari ini.
Bukan Sekadar Arsip Masa Lalu
Banyak pembaca melakukan satu kesalahan ketika membaca Tan Malaka: mereka menempatkannya semata-mata sebagai tokoh sejarah.
Padahal, isi Naar de Republiek Indonesia terasa sangat dekat dengan persoalan Indonesia masa kini.
Melalui buku tersebut, Tan Malaka menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengakhiri penjajahan.
Lebih dari itu, kemerdekaan merupakan keberanian untuk membayangkan masa depan, menyusun arah bangsa, dan memastikan rakyat menjadi bagian utama dari perjalanan tersebut.
Oleh sebab itu, ketika generasi sekarang membaca buku ini, yang terdengar bukan sekadar suara dari masa lalu.
Yang terdengar adalah sebuah pertanyaan yang masih relevan hingga hari ini: setelah merdeka, Indonesia sebenarnya ingin menjadi apa?
Kutipan yang Menancap
“Kemerdekaan Indonesia dengan segera dan tak terbatas.”
Bagi pembaca masa kini, kalimat itu mungkin terlihat sederhana.
Namun pada tahun 1924, pernyataan tersebut merupakan keberanian politik yang luar biasa.
Ketika banyak tokoh masih berbicara mengenai perbaikan sistem kolonial, Tan Malaka justru mendorong lahirnya sebuah republik yang merdeka sepenuhnya. @jeje
Informasi Buku
Judul: Naar de Republiek Indonesia
Penulis: Tan Malaka
Tahun Terbit Pertama: 1925 (ditulis pada 1924)
Bahasa Asli: Belanda
Genre: Politik, Sejarah, Pemikiran Kebangsaan
Tema Utama: Kemerdekaan Indonesia, Republik, Nasionalisme, Demokrasi Rakyat, Keadilan Sosial
Jumlah Halaman: Bervariasi tergantung edisi penerbit
Tingkat Bacaan: Menengah hingga Lanjutan
Tentang Buku
Naar de Republiek Indonesia merupakan salah satu karya politik terpenting Tan Malaka yang lahir jauh sebelum Indonesia merdeka. Melalui buku ini, Tan Malaka tidak hanya menyerukan kemerdekaan dari kolonialisme Belanda, tetapi juga merumuskan gambaran tentang bentuk negara Indonesia yang ingin dibangun setelah merdeka.
Di dalamnya, ia membahas berbagai isu strategis seperti pendidikan nasional, ekonomi rakyat, industrialisasi, hak politik perempuan, reforma agraria, hingga konsep perwakilan rakyat dalam pemerintahan. Karena itu, banyak sejarawan menilai buku ini sebagai salah satu cetak biru awal mengenai gagasan Republik Indonesia.
Hampir satu abad setelah ditulis, Naar de Republiek Indonesia tetap relevan karena sejumlah persoalan yang dibahas Tan Malaka masih menjadi perdebatan dalam kehidupan politik dan sosial Indonesia hingga hari ini.







