Tabooo.id: Vibes – Di tengah hiruk-pikuk Kota Solo, berdiri sebuah bangunan yang tampak tenang, namun menyimpan cerita panjang tentang kekuasaan, keluarga, dan sejarah Jawa. Namanya Ndalem Kalitan. Bukan sekadar rumah tua, bangunan ini menjadi saksi perjalanan bangsawan hingga lingkaran elite nasional.
Dari Keraton ke Warisan Keluarga
Awalnya, Ndalem Kalitan merupakan kediaman Sri Sunan Pakubuwono X. Pada tahun 1874, rumah ini diwariskan kepada putri sulungnya, Kanjeng Gusti Ratu Alit. Sejak saat itu, nama “Kalitan” mulai melekat dan dikenal sebagai bagian dari sejarah keluarga Keraton Surakarta.
Peralihan ini bukan sekadar perpindahan kepemilikan. Ia menandai bagaimana sebuah rumah bisa menjadi simbol garis keturunan dan kekuasaan dalam budaya Jawa.
Era Baru: Masuk ke Lingkaran Prawironegoro
Memasuki era 1960-an, Ndalem Kalitan kembali menjadi sorotan. Rumah ini dibeli oleh keluarga Prawironegoro, yang memiliki hubungan erat dengan lingkungan bangsawan, khususnya Puro Mangkunegaran.
Sejak itu, rumah ini tidak lagi hanya menjadi simbol masa lalu Keraton, tetapi juga menjadi ruang hidup keluarga yang tetap terhubung dengan tradisi aristokrat Jawa.
Jejak Keluarga Soeharto
Kisah Ndalem Kalitan semakin menarik ketika terhubung dengan keluarga Presiden kedua Indonesia, Soeharto. Kedua orang tua Tien Soeharto, yakni KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo, menjadikan rumah ini sebagai pusat kebersamaan keluarga.
Seorang warga sekitar, Suryanto (54), mengatakan,
“Kalitan itu bukan cuma rumah tua. Dulu sering jadi tempat kumpul keluarga besar. Suasananya beda, terasa banget aura Jawanya.”
Setelah kedua orang tua Tien Soeharto wafat, Ndalem Kalitan tetap menjadi tempat singgah keluarga Soeharto setiap kali berada di Solo. Rumah ini seolah menjadi titik temu antara sejarah Keraton dan kekuasaan modern Indonesia.
Arsitektur yang Menyimpan Filosofi
Secara arsitektural, Ndalem Kalitan mempertahankan struktur rumah tradisional Jawa. Bangunan ini terdiri dari tiga bagian utama: pendapa sebagai ruang terbuka, pinggitan sebagai ruang tengah, dan senthong sebagai ruang privat.
Struktur ini bukan sekadar desain. Ia mencerminkan filosofi kehidupan Jawa yang menempatkan keseimbangan antara ruang publik, keluarga, dan privasi.
Lebih dari Sekadar Rumah Tua
Ndalem Kalitan bukan hanya bangunan bersejarah. Ia adalah ruang yang merekam perubahan zaman, dari era Keraton hingga politik modern.
Masalahnya, banyak orang melewati tempat ini tanpa benar-benar memahami kisah di baliknya. Padahal, di balik dindingnya, tersimpan cerita tentang kekuasaan, keluarga, dan identitas Jawa yang terus hidup.
Ini bukan sekadar rumah tua. Ini potongan sejarah yang masih berdiri diam, tapi penuh makna. @jeje






