Di tengah lalu lintas yang terus bergerak dan hiruk-pikuk kehidupan modern, sebuah patung Mahapatih Gajah Mada berdiri tegak di salah satu sudut Kota Mojokerto. Tangan kanannya mengepal ke langit. Tatapannya lurus menembus cakrawala. Seolah ada pesan yang terus ia sampaikan kepada setiap orang yang melintas. Dia Mengingatkan Bahwa ancaman terbesar bangsa datang dari dalam.
Tabooo.id – Pesan dari patung Mahapatih Gajah Mada tersebut bukan tanpa alasan karena Pesan itu ada karena kisah nyata masa lalu. Sebaliknya, pesan itu berbicara sebagai alarm tentang masa depan.
Karena itu, muncul satu pertanyaan yang terasa semakin relevan untuk Indonesia hari ini:
“Apakah ancaman terbesar sebuah bangsa datang dari luar, atau justru lahir dari konflik yang tumbuh di dalam dirinya sendiri”?
Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa banyak peradaban besar tidak tumbang karena invasi asing. Sebaliknya, mereka kehilangan kekuatan ketika perebutan kepentingan, ego kekuasaan, dan perpecahan internal mulai menggerogoti fondasi yang selama ini menopangnya.
Majapahit pernah mengalami hal itu dan Indonesia memang bukan Majapahit. Namun demikian, sejarah sering meninggalkan pola yang layak kita renungkan bersama.
Kerajaan Besar yang Kalah oleh Retakan dari Dalam
Pada abad ke-14, Majapahit menjelma menjadi salah satu kekuatan terbesar yang pernah lahir di Nusantara.
Di bawah kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, wilayah kekuasaannya membentang luas. Jalur perdagangan berkembang pesat. Stabilitas politik relatif terjaga. Selain itu, pengaruhnya menjangkau berbagai wilayah Asia Tenggara.
Sumpah Palapa yang diikrarkan Gajah Mada bukan sekadar ambisi politik.
Sebaliknya, banyak sejarawan melihat sumpah tersebut sebagai visi besar untuk menyatukan wilayah Nusantara sekaligus memperkuat posisi kawasan dalam percaturan geopolitik saat itu.
Namun kejayaan tidak pernah berlangsung selamanya. Setelah Hayam Wuruk wafat dan Gajah Mada meninggalkan panggung sejarah, konflik mulai muncul di dalam lingkungan kerajaan.
Puncaknya terjadi ketika Perang Paregreg pecah akibat perebutan kekuasaan di antara keluarga kerajaan. Saat para elite sibuk memperebutkan tahta, kekuatan Majapahit perlahan melemah.
Akibatnya, wilayah-wilayah bawahan mulai melepaskan diri. Sementara itu, otoritas pusat kehilangan pengaruhnya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, kerajaan yang pernah berdiri kokoh itu memasuki fase kemunduran yang sulit dihentikan.
Ketika Elite Bertarung, Rakyat yang Membayar Harganya
Ada satu pelajaran yang terus berulang dalam sejarah. Ketika elite bertarung, rakyat hampir selalu menanggung dampaknya.
Masyarakat biasa tidak duduk di meja perundingan kekuasaan. Mereka juga tidak menentukan arah pertarungan politik yang terjadi di level atas.
Meski demikian, konsekuensi dari setiap konflik justru paling sering jatuh ke pundak mereka, Pembangunan melambat, Pelayanan publik terganggu. Sementara itu, energi bangsa habis untuk pertikaian yang tidak selalu menyentuh kebutuhan masyarakat.
Sejarawan Universitas Indonesia, Dr. Agus Munandar, M.Hum., pernah mengingatkan bahwa keruntuhan Majapahit bukan semata persoalan kekuatan militer.
“Majapahit hancur bukan karena armada lautnya kalah bertempur, melainkan karena istananya retak dari dalam akibat perebutan kekuasaan. Patung Gajah Mada di era modern harus dibaca sebagai pengingat: kedaulatan sebuah bangsa rapuh jika elitnya sibuk bertikai demi kepentingan kelompok.”
(12 Oktober 2024)
Pernyataan tersebut terasa relevan ketika masyarakat menyaksikan berbagai bentuk polarisasi yang terus muncul dalam ruang publik modern.
Lalu pertanyaannya, apakah Indonesia sedang menghadapi gejala yang sama dalam bentuk yang berbeda?
Paregreg Digital dan Indonesia Hari Ini
Indonesia memang tidak sedang menghadapi perang saudara. Namun, bukan berarti ancaman perpecahan menghilang begitu saja.
Media sosial kini menjadi arena baru tempat berbagai opini saling berbenturan setiap hari.
Di satu sisi, ruang digital memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.
Di sisi lain, ruang yang sama sering berubah menjadi medan pertarungan identitas dan kepentingan politik.
Perbedaan pandangan yang seharusnya memperkaya diskusi publik justru kerap memicu permusuhan.
Bahkan, dalam banyak kasus, orang lebih sibuk memenangkan argumen daripada mencari jalan keluar bersama.
Sosiolog Prof. Dr. Rahmawati Widjaja melihat fenomena tersebut sebagai bentuk baru konflik yang pernah muncul dalam sejarah.
“Konflik Paregreg di masa lalu adalah potret nyata bagaimana polarisasi sosial-politik bisa menghancurkan peradaban besar. Hari ini, media sosial sering kali menjadi medan Paregreg digital. Jika generasi muda tidak dewasa menyikapi perbedaan, kita sedang menabung bahan bakar untuk keruntuhan kita sendiri.”
(7 Januari 2026)
Istilah Paregreg Digital memang terdengar keras.
Meski demikian, ada pola yang sulit diabaikan ketika kita melihat perkembangan ruang publik beberapa tahun terakhir.
Ketika identitas politik menjadi lebih penting daripada kepentingan bersama, ruang dialog perlahan menyempit.
Akibatnya, masyarakat semakin sulit menemukan titik temu. Lebih jauh lagi, kompromi sering dianggap sebagai kelemahan, bukan sebagai jalan menuju solusi.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, konflik tidak lagi sekadar menjadi perbedaan pendapat. Konflik bisa berubah menjadi jurang yang memisahkan sesama warga bangsa.
Gajah Mada dan Pelajaran yang Sering Terlupakan
Banyak orang mengenal Gajah Mada sebagai tokoh yang berhasil mempersatukan Nusantara. Namun, ada sisi lain yang sering luput dari perhatian yaitu, Ia tidak lahir sebagai penguasa besar.
Sebaliknya, ia membangun pengaruh melalui kemampuan, disiplin, loyalitas, dan visi yang jauh melampaui zamannya.
Akademisi sekaligus rektor, Dr. Ir. Ahmad Fauzi, M.T., menilai generasi muda perlu melihat Gajah Mada lebih dari sekadar simbol sejarah.
“Gajah Mada adalah representasi dari teknokrat kuno yang menguasai manajemen strategi, hukum, dan geopolitik. Generasi muda saat ini tidak boleh hanya romantis terhadap masa lalu, melainkan harus meniru etos kerja dan ketajaman berpikir sang Mahapatih untuk memenangkan persaingan global.”
(17 Agustus 2025)
Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya mengagumi kejayaan masa lalu. Mereka perlu meneladani nilai yang pernah melahirkan kejayaan tersebut.
Selain itu, mereka juga harus menjawab tantangan zaman dengan kemampuan yang relevan dan pola pikir yang terbuka.
Dengan kata lain, generasi muda membutuhkan “Sumpah Palapa Modern”. Bukan untuk menaklukkan wilayah.
Melainkan untuk menaklukkan ketertinggalan teknologi, kemiskinan, korupsi, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia.
Majapahit Sudah Memberi Peringatan, Apakah Kita Mau Mendengar?
Patung Gajah Mada di Mojokerto tidak pernah berpidato, Ia tidak berbicara di televisi, Ia juga tidak mengunggah pendapat di media sosial. Namun, justru karena itulah pesan yang dibawanya terasa lebih kuat.
Budayawan Jawa Ki Sujarwo Hadi melihat simbolisme patung tersebut sebagai pesan tentang penyatuan tekad dan kebijaksanaan.
“Mengepalnya tangan Gajah Mada itu bukan simbol arogansi atau amarah, melainkan nyawiji, penyatuan rasa dan tekad. Keris di pinggangnya tidak terhunus, artinya kekuatan militer dan kekuasaan harus selalu dikendalikan oleh kebijaksanaan nurani.”
(20 Mei 2025)
Karena itu, muncul pertanyaan yang layak direnungkan bersama.
Jika Majapahit yang begitu besar bisa runtuh karena konflik internal, apakah Indonesia sudah cukup belajar dari sejarah?
Atau sebaliknya, kita justru sedang mengulang pola yang sama dengan kemasan yang lebih modern? Jawabannya tentu tidak sederhana.
Namun, sejarah telah memberi satu pelajaran yang sangat jelas. Bangsa besar jarang runtuh karena musuh yang datang dari luar.
Sebaliknya, banyak bangsa kehilangan kekuatannya ketika konflik internal mengalahkan kepentingan bersama.
Jangan Sampai Kita Mengulangi Bab yang Sama
Kisah Majapahit bukan hanya catatan sejarah yang tersimpan di buku-buku lama. Patung Gajah Mada di Mojokerto juga bukan sekadar monumen yang menghiasi sudut kota.
Sebaliknya, keduanya menghadirkan refleksi yang relevan untuk Indonesia hari ini. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, ancaman terbesar belum tentu datang dari luar negeri.
Justru, ancaman itu bisa muncul ketika polarisasi menggantikan persatuan. Selain itu, ancaman juga dapat tumbuh ketika kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan bangsa.
Ironisnya, banyak peradaban besar dalam sejarah mengalami kemunduran melalui pola yang hampir serupa. Mereka tidak kalah saat menghadapi lawan dari luar.
Mereka kehilangan kekuatan ketika gagal menjaga persatuan di dalam. Pada akhirnya, sejarah tidak pernah memaksa siapa pun untuk mengulang kesalahan yang sama.
Namun, sejarah selalu memberikan pilihan: belajar atau mengabaikan pelajaran yang sudah tersedia. Majapahit sudah memberi peringatan.
Sekarang pertanyaannya bukan apakah peringatannya cukup jelas. Pertanyaannya, apakah kita mau mendengarnya?
Pertanyaan Publik
Menurutmu, Indonesia saat ini lebih terancam oleh faktor luar atau konflik internal?
Apakah polarisasi politik, korupsi, dan pertarungan elite lebih berbahaya daripada ancaman asing?
Atau justru keduanya saling berkaitan dan sama-sama perlu diwaspadai?. @teguh






