Kendaraan melintas tanpa henti. Klakson bersahutan di bawah terik matahari. Aktivitas ekonomi bergerak seperti biasa. Di tengah kesibukan itu, satu sosok tetap berdiri tegak seolah menolak tunduk kepada waktu. Gajah Mada Mahapatih kerjaaan Majapahit yang runtuh akibat ego elitnya sendiri
Tabooo.id – Kepalan tangannya mengarah ke langit. Tatapannya menembus jalan raya yang sibuk. Sosok itu seakan tidak sedang mengawasi Kota Mojokerto, melainkan mengamati perjalanan panjang sebuah bangsa yang terus mencari arah di tengah perubahan zaman. patung itu seakan memperingatkan kita akan sejarah majapahit yang runtuh karena ego elitnya sendiri
Sebagian orang datang untuk mengenang kejayaan Majapahit. Sebagian lainnya menjadikan monumen itu sebagai latar foto atau penanda sejarah. Namun bagi siapa pun yang mau berhenti sejenak dan memperhatikannya lebih lama, patung itu menyimpan pesan yang jauh lebih dalam.
Pesan tersebut tidak berbicara tentang kemenangan. Monumen itu juga tidak membahas luas wilayah atau kebesaran kekuasaan.
Sebaliknya, patung tersebut mengingatkan satu kenyataan yang sering diabaikan oleh banyak bangsa: sebuah peradaban besar dapat runtuh ketika para pemimpinnya kehilangan kemampuan menjaga persatuan.
Ketika Nusantara Memiliki Mimpi yang Sama
Pada abad ke-14, Majapahit tumbuh menjadi salah satu kekuatan terbesar yang pernah muncul di Asia Tenggara.
Kerajaan itu membangun jaringan politik, ekonomi, dan budaya yang menghubungkan berbagai wilayah Nusantara. Di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, pengaruh Majapahit menjangkau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku, hingga sebagian Semenanjung Malaya.
Keberhasilan tersebut lahir dari sebuah visi yang jelas.
Gajah Mada memahami bahwa wilayah yang luas tidak akan bertahan tanpa tujuan bersama. Karena itulah ia mengucapkan Sumpah Palapa, sebuah tekad politik yang berupaya menyatukan berbagai kekuatan di bawah satu arah yang sama.
Persatuan melahirkan stabilitas dan Stabilitas kemudian mendorong perdagangan. Dari aktivitas perdagangan itulah ekonomi kerajaan berkembang semakin kuat.
Kemajuan ekonomi lalu menopang kejayaan Majapahit selama puluhan tahun.
Selama para pemimpin menjaga tujuan yang sama, kerajaan itu berkembang menjadi pusat kekuatan maritim dan kebudayaan yang disegani.
Namun sejarah memiliki kebiasaan yang tidak pernah berubah. Banyak peradaban mulai rapuh justru ketika mereka mencapai puncak kejayaan.
Saat Ambisi Mengalahkan Kepentingan Bersama
Sebagian masyarakat percaya bahwa kekuatan asing menghancurkan Majapahit dan Anggapan itu terdengar logis. Namun fakta sejarah menunjukkan cerita yang berbeda.
Kemunduran Majapahit bermula dari pusat kekuasaan sendiri. Perang Paregreg yang pecah pada awal abad ke-15 mengubah arah perjalanan kerajaan tersebut secara drastis.
Tidak ada pasukan asing yang berhasil menaklukkan ibu kota kerajaan. Tidak ada armada luar yang memporak-porandakan fondasi pemerintahan.
Sebaliknya, para elite kerajaan saling bertarung untuk memperebutkan takhta. Mereka menghabiskan tenaga, sumber daya, dan pengaruh politik untuk memenangkan konflik internal.
Akibatnya, kekuatan pemerintahan pusat terus melemah. Wilayah-wilayah bawahan mulai mengambil jarak.
Kepercayaan terhadap otoritas kerajaan perlahan menurun. Sedikit demi sedikit, fondasi yang selama ini menopang kejayaan Majapahit kehilangan kekuatannya.
Sejarawan Universitas Indonesia, Dr. Agus Aris Munandar, pernah mengingatkan bahwa konflik internal memainkan peran besar dalam kemunduran Majapahit.
“Majapahit hancur bukan karena armada lautnya kalah bertempur, melainkan karena istananya retak dari dalam akibat perebutan kekuasaan. Patung Gajah Mada di era modern harus dibaca sebagai pengingat bahwa kedaulatan bangsa akan rapuh jika elitnya sibuk bertikai demi kepentingan kelompok.”
Kutipan itu memang berbicara tentang masa lalu. Namun maknanya terasa sangat dekat dengan kondisi hari ini.
Paregreg Modern Bernama Polarisasi
Sejarah tidak pernah hadir dalam bentuk yang sama. Meski begitu, pola yang muncul sering kali memiliki kemiripan.
Jika konflik Majapahit berlangsung di lingkungan istana, konflik modern berkembang melalui ruang digital yang jauh lebih luas.
Masyarakat tidak lagi menghunus keris untuk menghadapi lawan. Sebagian orang menggunakan narasi untuk menyerang pihak yang berbeda pandangan.
Identitas politik kemudian berubah menjadi alat pembeda yang semakin tajam.
Pada saat yang sama, algoritma media sosial memperkuat kelompok masing-masing melalui ruang gema yang terus mengulang keyakinan serupa.
Situasi itu membuat ruang publik semakin mudah terpecah. Perdebatan berubah menjadi permusuhan.
Perbedaan pandangan berkembang menjadi kecurigaan. Lawan politik sering dianggap musuh yang harus disingkirkan, bukan warga negara yang memiliki hak untuk berbeda.
Sosiolog Prof. Dr. Rahmawati Widjaja melihat fenomena tersebut sebagai bentuk baru konflik sosial yang patut diwaspadai.
“Konflik Paregreg di masa lalu adalah potret nyata bagaimana polarisasi sosial-politik bisa menghancurkan peradaban besar. Hari ini, media sosial sering kali menjadi medan Paregreg digital. Jika generasi muda tidak dewasa menyikapi perbedaan, kita sedang menabung bahan bakar untuk keruntuhan kita sendiri.”
Peringatan itu terasa keras. Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa perpecahan yang dibiarkan tumbuh selalu menghasilkan harga yang mahal.
Musuh Terbesar Tidak Selalu Datang dari Luar
Patung Gajah Mada berdiri di tengah kota modern yang penuh kendaraan, pertokoan, kantor pemerintahan, dan pusat aktivitas masyarakat.
Pemandangan tersebut mempertemukan dua dunia dalam satu ruang. Masa lalu hadir di tengah kehidupan masa kini.
Dari sudut itu, sejarah seperti sedang berbicara langsung kepada Indonesia. Ancaman terbesar sebuah bangsa tidak selalu datang dari negara lain.
Sering kali ancaman justru muncul dari dalam rumah sendiri.
Keserakahan, ego politik, korupsi, polarisasi, dan kegagalan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok kerap menjadi pintu masuk kemunduran sebuah negara.
Budayawan Jawa Ki Sujarwo Hadi memaknai kepalan tangan Gajah Mada sebagai simbol penyatuan tekad.
“Mengepalnya tangan Gajah Mada itu bukan simbol arogansi atau amarah, melainkan nyawiji, penyatuan rasa dan tekad. Keris di pinggangnya tidak terhunus. Itu berarti kekuatan harus selalu dikendalikan oleh kebijaksanaan.”
Pesan tersebut terdengar sederhana. Namun banyak peradaban besar kehilangan kejayaannya ketika para pemimpin lebih sibuk mengelola ambisi daripada menjaga persatuan.
Jangan Warisi Abunya, Warisi Apinya
Generasi muda Indonesia tumbuh bersama cerita tentang kebesaran Majapahit.
Buku sejarah, monumen, dan berbagai simbol budaya terus menghidupkan ingatan mengenai masa keemasan Nusantara.
Sayangnya, banyak orang berhenti pada rasa bangga. Mereka mengagumi kejayaan masa lalu tanpa mempelajari penyebab keruntuhannya.
Akademisi Dr. Ir. Ahmad Fauzi, M.T. menilai generasi muda perlu meneladani cara berpikir Gajah Mada, bukan sekadar mengingat namanya.
“Generasi muda tidak boleh hanya romantis terhadap masa lalu. Mereka harus meniru etos kerja, kemampuan berpikir strategis, dan keberanian melihat masa depan seperti yang dilakukan Gajah Mada.”
Pesan itu relevan di tengah persaingan global yang semakin ketat. Beberapa negara memfokuskan energi mereka pada pengembangan teknologi.
Negara lain mempercepat peningkatan kualitas pendidikan untuk memperkuat daya saing. Banyak pemerintah juga mendorong lahirnya inovasi sebagai mesin pertumbuhan baru.
Pada saat yang sama, mereka berupaya menjaga kohesi sosial di tengah masyarakat yang semakin beragam dan kompleks.
Karena itu, Sumpah Palapa modern tidak lagi berbicara tentang penaklukan wilayah.
Sumpah tersebut kini berbicara tentang keberanian menaklukkan kemiskinan, korupsi, ketertinggalan teknologi, kebodohan, dan perpecahan.
Ini Bukan Sekadar Cerita tentang Gajah Mada
Patung di Mojokerto itu bukan sekadar peninggalan sejarah.
Monumen tersebut berfungsi sebagai cermin yang memantulkan pelajaran penting bagi bangsa modern.
Catatan peradaban dunia menunjukkan bahwa sebesar apa pun sebuah negara, keruntuhan tetap mungkin terjadi.
Pengalaman berbagai imperium juga membuktikan bahwa kekuasaan tidak pernah kebal terhadap kesalahan yang berulang.
Kekaisaran Romawi mengalami kemunduran akibat konflik internal yang berkepanjangan.
Kesultanan Ottoman menghadapi persoalan serupa ketika perebutan pengaruh melemahkan pusat kekuasaan.
Uni Soviet kehilangan kekuatannya setelah retakan politik dan sosial terus membesar. Majapahit mengikuti pola yang hampir sama.
Ketika persatuan mulai melemah, kepercayaan publik ikut menurun.
Kondisi tersebut mendorong sebagian elite lebih fokus memperjuangkan kepentingan kelompok dibandingkan kepentingan bangsa.
Akibatnya, fondasi yang selama ini menopang kekuatan negara perlahan kehilangan daya tahannya.
Pada titik itu, ancaman dari luar tidak lagi menjadi faktor utama. Keruntuhan bergerak dari dalam dan menghancurkan struktur yang sebelumnya terlihat kokoh.
Itulah sebabnya patung Gajah Mada tetap relevan hingga hari ini. Setiap orang yang melintas sebenarnya tidak hanya melihat sebuah monumen.
Mereka sedang berhadapan dengan pengingat tentang harga mahal dari perpecahan. Peradaban besar jarang runtuh dalam satu malam.
Retakan kecil yang terus dibiarkan tumbuh sering membuka jalan menuju kehancuran yang lebih besar.
Karena itu, pertanyaan yang ditinggalkan sejarah masih terdengar jelas hingga sekarang.
Apakah Indonesia sedang belajar dari sejarah Majapahit, atau justru sedang mengulang kesalahan yang sama dengan cara yang berbeda?. @teguh







