Malam perlahan menyelimuti Kota Mojokerto. Sisa cahaya senja tenggelam di balik cakrawala. Lampu-lampu jalan mulai mengambil alih tugas matahari dan memantulkan warna keemasan disebuah monumen perahu yang berdiri diatas aspal yang masih menyimpan panas siang hari. Kendaraan terus bergerak, sementara klakson sesekali memecah suasana.
Tabooo.id – Di tengah denyut kehidupan itu, ada sebuah Monumen perahu berdiri tegak. Monumen tersebut tidak mengangkut penumpang. Ia juga tidak berlayar menuju pelabuhan mana pun. Namun justru karena keheningannya, simbol itu terus menyampaikan pesan kepada siapa saja yang melintas.
Monumen Perahu Mojokerto bukan sekadar penghias ruang kota. Sebaliknya, ia menjadi penanda bahwa tanah yang kini dipenuhi kendaraan dan bangunan modern pernah melahirkan salah satu peradaban terbesar di Nusantara.
Banyak warga melintas setiap hari tanpa benar-benar memperhatikannya. Padahal di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan kisah panjang tentang identitas, sejarah, dan memori kolektif sebuah bangsa.
Kota yang Tumbuh Bersama Warisan Majapahit
Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki hubungan emosional sekuat Mojokerto dengan sejarahnya.
Sejak lama, masyarakat mengenal wilayah ini sebagai kawasan yang berkaitan erat dengan Kerajaan Majapahit. Karena itu, jejak kerajaan tersebut masih hadir dalam berbagai aspek kehidupan kota, mulai dari arsitektur, ruang publik, hingga agenda kebudayaan.
Akibatnya, simbol-simbol Majapahit terus muncul di berbagai sudut kota. Salah satunya adalah Monumen Perahu.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari atau Ning Ita, pernah menjelaskan bahwa pembangunan kota berangkat dari nilai-nilai yang diwariskan Majapahit. Dalam Podcast Permata Talks pada 8 Maret 2022, ia menegaskan bahwa semangat pembangunan Mojokerto mengacu pada konsep Spirit of Mojopahit.
“Spirit of Mojopahit menjadi identitas pembangunan Kota Mojokerto yang berangkat dari nilai kejayaan, persatuan, dan kemajuan peradaban yang pernah lahir dari tanah ini.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Majapahit bukan sekadar bab dalam buku sejarah. Sebaliknya, warisan itu terus menjadi sumber inspirasi pembangunan kota hingga hari ini.
Simbol Laut yang Menghubungkan Nusantara
Ketika mendengar nama Majapahit, sebagian besar orang langsung membayangkan istana kerajaan, Gajah Mada, atau Sumpah Palapa. Namun ada satu unsur penting yang sering luput dari perhatian yaitu, Laut.
Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Agus Aris Munandar, dalam berbagai kajiannya menjelaskan bahwa Majapahit berkembang sebagai kekuatan agraris sekaligus maritim. Melalui jalur pelayaran dan perdagangan, kerajaan ini membangun hubungan dengan berbagai wilayah Nusantara.
Karena itu, keberadaan perahu di tengah Kota Mojokerto bukanlah pilihan yang kebetulan.
Simbol tersebut mewakili keberanian menjelajah, kemampuan membangun hubungan, dan semangat menyatukan wilayah yang terpisah oleh lautan.
Lebih dari itu, perahu menjadi representasi sebuah peradaban yang tumbuh melalui keterhubungan, bukan keterasingan.
Bata Merah dan Akar Peradaban
Monumen ini berdiri di atas susunan bata merah yang langsung mengingatkan publik pada arsitektur Majapahit. Pilihan itu tentu bukan tanpa alasan.
Hingga sekarang, masyarakat masih dapat menemukan struktur bata merah di berbagai situs sejarah kawasan Trowulan. Oleh sebab itu, bata merah telah menjadi identitas visual yang kuat bagi warisan Majapahit.
Perpaduan antara perahu dan bata merah menghadirkan pesan yang menarik. Di satu sisi, perahu melambangkan perjalanan dan perubahan. Di sisi lain, bata merah melambangkan akar yang menjaga arah perjalanan tersebut.
Melalui simbol itu, monumen seolah mengingatkan bahwa manusia boleh melangkah jauh, tetapi tidak boleh kehilangan asal-usulnya.
Ruang Publik yang Menyimpan Memori Kolektif
Pada siang hari, monumen ini menyatu dengan aktivitas kota yang sibuk. Namun ketika malam tiba, suasananya berubah.
Sorot lampu yang mengenai badan perahu menciptakan siluet dramatis. Sementara itu, langit gelap di sekitarnya menghadirkan kesan tenang sekaligus monumental.
Pada titik inilah fungsi sebuah monumen melampaui aspek visual. Ia berubah menjadi ruang ingatan.
Sosiolog Maurice Halbwachs menjelaskan bahwa memori kolektif membutuhkan simbol agar dapat bertahan dari generasi ke generasi. Tanpa simbol, masyarakat perlahan kehilangan hubungan dengan masa lalunya.
Dalam konteks itu, Monumen Perahu berfungsi sebagai jangkar sosial yang membantu warga Mojokerto mengingat identitas kotanya.
Selain itu, keberadaan simbol sejarah di ruang publik juga membantu generasi muda memahami bahwa kota mereka memiliki akar peradaban yang panjang.
Ketika Masa Lalu Berbicara kepada Masa Kini
Makna monumen ini tidak berhenti pada romantisme sejarah. Sebaliknya, simbol tersebut menawarkan refleksi yang sangat relevan bagi kehidupan saat ini.
Perahu selalu membutuhkan tujuan. Selain itu, perjalanan hanya akan berhasil ketika seluruh awak bekerja dalam arah yang sama. Tidak ada kapal yang mencapai pelabuhan jika awaknya saling menjatuhkan.
Sebaliknya, kapal akan bergerak lebih jauh ketika semua pihak memahami tujuan yang ingin dicapai bersama. Pesan itu terasa sangat dekat dengan kondisi Indonesia hari ini.
Bangsa ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari polarisasi sosial hingga derasnya arus informasi digital yang sering memecah perhatian publik. Sementara itu, tantangan ekonomi global juga menuntut kemampuan beradaptasi yang semakin besar.
Dalam situasi tersebut, Indonesia ibarat kapal besar yang sedang menghadapi ombak dari berbagai arah.
Namun sejarah Majapahit menunjukkan bahwa perbedaan bukan hambatan utama bagi sebuah peradaban.
Justru kemampuan menyatukan perbedaanlah yang menjadi sumber kekuatan.
Ini Bukan Sekadar Monumen
Pada akhirnya, Monumen Perahu Mojokerto bukan hanya karya seni ruang publik. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat tentang perjalanan panjang sebuah bangsa.
Malam akan terus berganti. Lampu kota akan terus menyala. Kendaraan juga akan terus berlalu-lalang di sekitarnya.
Meski demikian, perahu itu tetap berdiri di tempat yang sama. Keheningannya menyimpan pesan yang terus hidup.
Bahwa bangsa besar tidak lahir karena melupakan sejarahnya. Sebaliknya, bangsa besar tumbuh karena mampu membawa sejarah itu ikut berlayar menuju masa depan.
Selama perahu tersebut masih berdiri di jantung Mojokerto, ia akan terus mengingatkan siapa pun yang melintas bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi.
Waktu memang bergerak maju. Namun jejak peradaban selalu menemukan cara untuk tetap hidup melalui simbol, ingatan, dan harapan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. @teguh







