Dulu mahasiswa turun ke jalan sambil meneriakkan satu musuh utama: KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Sekarang? Nepotisme tampil lebih rapi. Lebih modern. Bahkan kadang tampil sambil senyum di podcast dan media sosial. Ironisnya, publik tidak selalu marah lagi. Sebagian malah menganggapnya normal.
Tabooo.id: Pada era Orde Baru, nepotisme terlihat terang-terangan. Kekuasaan berputar di lingkar keluarga dan kroni dekat. Karena itu, Reformasi 1998 lahir untuk memotong pola tersebut.
Namun sekarang, pola lama muncul lagi dengan wajah baru.
Bedanya, elite politik hari ini memakai istilah yang lebih halus:
“regenerasi,”
“anak muda potensial,”
atau “pemimpin masa depan.”
Padahal pola dasarnya sering tetap sama:
akses keluarga membuka jalan kekuasaan lebih cepat daripada kapasitas.
Politik Dinasti Sudah Jadi Budaya Pop Politik
Hari ini, publik menyaksikan anak, menantu, saudara, hingga kerabat elite politik masuk ke panggung kekuasaan hampir tanpa jeda.
Lucunya, semua tetap dibungkus narasi meritokrasi.
Kalau dulu nepotisme terasa memalukan, sekarang ia tampil percaya diri di baliho dan konten TikTok.
Bahkan sebagian pendukung menganggap kritik terhadap politik dinasti sebagai bentuk iri hati politik.
Padahal pertanyaannya sederhana:
kalau akses kekuasaan terus diwariskan, kapan publik biasa benar-benar punya ruang yang setara?
Demokrasi Pelan-Pelan Berubah Jadi Bisnis Keluarga
Masalah politik dinasti bukan cuma soal nama keluarga.
Masalahnya ada pada distribusi kekuasaan.
Ketika lingkar elite terus saling menggantikan, demokrasi kehilangan kompetisi sehat. Akibatnya, politik berubah jadi arena yang sulit ditembus orang biasa.
Akhirnya, publik hanya memilih dari nama-nama yang sudah punya akses sejak lahir.
Sementara itu, anak muda tanpa koneksi politik harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk dilirik partai.
Ironisnya, partai sering bicara soal demokrasi internal sambil sibuk menjaga garis keturunan kekuasaan.
Media Sosial Membantu Nepotisme Terlihat “Relatable”
Dulu elite politik terlihat jauh dan formal.
Sekarang mereka muncul di TikTok, vlog, podcast, bahkan konten masak.
Akibatnya, citra publik berubah.
Netizen lebih mudah melihat sisi personal dibanding memeriksa struktur kekuasaan di belakangnya.
Politik akhirnya terasa seperti industri entertainment.
Yang penting lucu.
Penting viral.
Yang penting relatable.
Sementara pertanyaan tentang akses, privilese, dan fairness pelan-pelan tenggelam di kolom komentar.
Ini Bukan Sekadar Soal Anak Pejabat
Masalah terbesar bukan karena seseorang lahir dari keluarga politik.
Masalah terbesar muncul ketika sistem memberi jalur istimewa pada nama tertentu, sementara publik lain harus antre dari nol.
Di situlah demokrasi mulai timpang.
Karena pada akhirnya, politik bukan cuma soal siapa yang menang pemilu.
Politik juga soal siapa yang selalu punya kesempatan untuk ikut bermain.
Human Impact
Ketika politik dikuasai lingkar keluarga yang sama, keputusan publik berisiko makin jauh dari kebutuhan masyarakat biasa.
Akibatnya, rakyat hanya menjadi penonton pergantian elite.
Nama berubah.
Wajah berganti.
Namun sistemnya tetap berputar di lingkar yang sama.
Anak muda akhirnya makin sinis terhadap politik karena merasa permainan sudah diatur sejak awal.
Reformasi dulu melawan nepotisme karena publik percaya kekuasaan tidak boleh diwariskan seperti bisnis keluarga.
Sekarang, nepotisme tidak hilang.
Ia cuma belajar rebranding.
Dan pertanyaannya tinggal satu:
Kalau semua terlihat normal, apakah publik masih sadar sedang menyaksikan pola lama yang kembali hidup? @waras





