Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Demokrasi Modern atau Politik Keluarga? Gugatan Nepotisme ke MK

by dimas
Februari 27, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangkan ini kamu lagi buka lowongan kerja. Syaratnya simpel, CV oke, pengalaman cukup, visi-misi mantap. Eh pas pengumuman, yang lolos ternyata anak bos sendiri. Kamu bengong. HRD bilang, “Ini bukan nepotisme ya, ini demokrasi modern.”

Kurang lebih vibe-nya lagi seperti itu di panggung politik kita.

Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Hermawi Taslim, menilai Undang-Undang Pemilu yang berlaku saat ini tidak melanggengkan nepotisme. Ia menyebut aturan tersebut sudah “bernapaskan demokrasi modern.” Pernyataan itu ia sampaikan saat merespons gugatan ke Mahkamah Konstitusi yang meminta larangan bagi anak presiden atau wakil presiden yang sedang menjabat untuk maju sebagai capres atau cawapres.

Menurut Hermawi, setiap warga negara berhak menggugat. Namun pada akhirnya, ia menyerahkan sepenuhnya kepada para hakim MK untuk menilai seberapa “urgent” substansi gugatan itu bagi demokrasi Indonesia.

Secara hukum, memang begitu. Semua orang boleh mendaftar. Semua orang punya hak politik. Demokrasi kan soal kesempatan yang sama. Tapi masalahnya, publik tidak cuma membaca teks undang-undang. Publik juga membaca konteks.

Ini Belum Selesai

Bayar Tepat Waktu, Layanan Kapan Tepat?

Reformati: Ketika Jalanan Menjadi Pengadilan Kekuasaan

Gugatan yang Bikin Timeline Panas

Dua advokat, Raden Nuh dan Dian Amalia, mengajukan uji materi Pasal 169 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Perkara itu sudah terdaftar dengan nomor 81/PUU-XXIV/2026 di MK.

Mereka meminta MK melarang keluarga sedarah atau semenda presiden dan wakil presiden yang sedang menjabat untuk ikut kontestasi pilpres. Alasannya sederhana tapi sensitif: konflik kepentingan.

Para pemohon menilai aturan yang tidak mengatur soal relasi keluarga berpotensi membuka ruang nepotisme dan penyalahgunaan kekuasaan. Mereka khawatir prinsip negara hukum demokratis bisa goyah jika akses kekuasaan terasa terlalu “akrab secara genetik.”

Di atas kertas, tidak ada larangan. Namun dalam politik, persepsi sering kali lebih berisik daripada pasal.

Demokrasi Modern vs Dinasti Rasa Tradisional

Di sinilah dramanya.

Sebagian pihak melihat hak konstitusional semua warga negara punya hak yang sama untuk dipilih dan memilih. Selesai. Clear. No debat.

Namun di sisi lain, publik bertanya pelan-pelan tapi nyinyir apakah semua orang benar-benar punya titik start yang sama? Atau ada yang sudah berdiri di garis 100 meter karena kebetulan lahir di rumah tertentu?

Inilah dilema demokrasi kita. Secara prosedural, semuanya sah. Secara etis, diskusinya panjang. Demokrasi modern sering berbenturan dengan kultur patronase yang masih kuat. Sistemnya republik, tapi vibes-nya kadang mirip kerajaan extended universe.

Dan setiap kali isu ini muncul, media sosial langsung berubah jadi warung kopi digital. Ada yang bilang ini pembatasan hak politik. Ada juga yang bilang ini pencegahan konflik kepentingan. Dua-duanya merasa paling demokratis.

MK di Tengah Drama Keluarga Nasional

Hermawi Taslim menyebut para hakim MK sebagai negarawan dan meminta publik mempercayakan putusan kepada mereka. Secara institusional, memang MK yang punya palu.

Sekarang bola ada di tangan sembilan hakim konstitusi. Mereka bukan cuma membaca pasal, tapi juga membaca arah demokrasi.

Apakah konflik kepentingan harus diatur eksplisit? Atau cukup diserahkan pada etika dan pilihan rakyat di bilik suara?

Di atas kertas, ini soal tafsir hukum. Di bawah permukaan, ini soal masa depan politik dinasti di Indonesia.

Punchline: Kita Ini Demokrasi atau Family Gathering?

Pada akhirnya, semua kembali ke pertanyaan klasik: demokrasi itu soal hak formal atau juga soal rasa keadilan?

Kalau semua sah secara aturan, publik tetap boleh bertanya. Kalau semua legal, publik tetap boleh curiga. Karena demokrasi bukan cuma soal boleh atau tidak boleh tapi juga soal pantas atau tidak pantas.

Dan mungkin yang paling absurd bukan soal anak presiden boleh nyapres atau tidak. Tapi soal kita yang setiap lima tahun terkejut pada isu yang sama, lalu berkata, “Loh, kok begini lagi?”

Demokrasi kita memang modern. Cuma kadang, algoritmanya masih terasa kekeluargaan banget. @dimas

Tags: DemokrasiHakIsuKepentinganKonflik DuniaMahkamah KonstitusiNasionalPemiluPolitik Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

by teguh
Juni 25, 2026

Presiden Prabowo Subianto mengaku mengetahui pihak yang diduga membiayai sejumlah aksi demonstrasi. Ia menyampaikan klaim itu saat menghadiri Puncak Pekan...

RUU Pemilu dan Ancaman Penyempitan Ruang Demokrasi

RUU Pemilu dan Ancaman Penyempitan Ruang Demokrasi

by dimas
Juni 21, 2026

RUU Pemilu memicu kekhawatiran atas penyempitan hak pilih rakyat. Benarkah regulasi baru menjaga demokrasi, atau justru menguntungkan elite politik? Tabooo.id...

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

by dimas
Juni 21, 2026

Memuliakan kekuasaan atau memuliakan manusia? Ketika rakyat merasa terabaikan, kontrak sosial mulai retak, kepercayaan publik memudar, dan demokrasi kehilangan fondasi...

Next Post
Sidak Pasar Johar, Dirut Bulog Klaim Stok Aman dan Harga Terkendali

Jelang Lebaran, Bulog Pastikan Harga Pangan di Semarang Stabil

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id