Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Soeharto Dapat Gelar Pahlawan: Antara Lupa, Luka, dan Logika Politik

by dimas
November 8, 2025
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Edge – Pagi ini Indonesia terasa absurd. Di timeline Twitter, dua kubu debat sengit: “Soeharto pahlawan nasional” versus “Soeharto bukan pahlawan nasional… tapi di level hard mode.” Di tengah netizen yang sibuk ngopi sachet, MPR dan pemerintah tampak asyik mengutak-atik masa lalu seperti mantan yang tiba-tiba buka chat lama.

Soeharto, sang bapak pembangunan sekaligus bapak segala bapak-bapak berkuasa, kembali jadi trending. Bukan karena nostalgia harga BBM Rp600, tapi karena pemerintah kabarnya serius mau memberinya gelar Pahlawan Nasional.

“TAP MPR: KKN? Oh, Itu Cuma Typo.”

Kalau hidup ini game, Tap MPR 11/1998 mungkin jadi achievement lock yang mustahil dihapus. Tapi entah bagaimana, MPR era Bamsoet menemukan tombol “edit” dan voilà nama Soeharto lenyap dari daftar KKN. Alasannya sederhana: “orangnya sudah meninggal.”

Lucunya, MPR tidak mencabut Tap-nya, hanya menghapus namanya. Jadi, seperti tugas kelompok yang nilainya diperbaiki dengan cara menghapus anggota paling bermasalah.

Padahal para ahli hukum tata negara sudah berkali-kali menjelaskan bahwa MPR tidak bisa lagi bikin atau mencabut Tap sejak 2002. Tapi di negeri +62, “nggak bisa” sering berubah jadi “bisa kok, asal rapatnya sepakat dan mic-nya nyala.”

Ini Belum Selesai

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Dari “Bapak KKN” ke “Bapak Pahlawan”

Pemerintah menganggap Soeharto memenuhi syarat jadi pahlawan karena “jasanya besar bagi bangsa.” Ya, benar jalan tol, swasembada beras, dan tentu saja: warisan trauma politik tiga generasi.

Ketua Dewan Gelar, Fadli Zon, menyebut tidak ada bukti bahwa Soeharto terlibat genosida. “Enggak pernah terbukti,” ujarnya.
Netizen langsung nyaut: “Iya, karena yang bisa membuktikan udah lama dibungkam, Pak.”

Para pegiat HAM menilai sejarah bukan Google Docs. Kita tidak bisa mengedit masa lalu sesuka hati. Luka, darah, dan 32 tahun bayang-bayang otoritarianisme tidak bisa hilang hanya dengan menekan tombol “delete row” di Tap MPR.

Plot Twist: Legalitas yang Ilegal

Dua pakar hukum, Bivitri Susanti dan Saldi Isra, mengingatkan bahwa Tap MPR tersebut masih berlaku dan tidak bisa dihapus begitu saja. Menurut mereka, pencabutan nama Soeharto justru melanggar hukum karena MPR tidak lagi punya wewenang mengubah Tap setelah 2002.

Namun realitas politik berkata lain. Pencabutan nama Soeharto tetap terjadi, seolah negara sedang memainkan illegal move tapi menamakannya “inisiatif konstitusional.”

Kalau tren ini berlanjut, jangan kaget kalau suatu hari muncul berita seperti:

“Koruptor jadi ikon anti-korupsi karena sudah menyesal dan rajin bayar pajak.” @dimas

Kamu Melewatkan Ini

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

by teguh
Oktober 19, 2026

BBM tersendat Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Jember kembali mengganggu mobilitas masyarakat. Di...

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

by teguh
Oktober 19, 2026

Antrean BBM belum normal, aktivitas masyarakat ikut terganggu. Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, kembali menerapkan kebijakan untuk ASN Jember WFH...

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

by teguh
Oktober 19, 2026

Diplomasi sering dimulai dari sebuah jabat tangan. Dua tokoh bertemu yaitu, Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang kamera merekam, lalu pernyataan...

Next Post
KPop Demon Hunters dan Rosé BLACKPINK: Saat Dunia Fiksi Nyata di Grammy

KPop Demon Hunters dan Rosé BLACKPINK: Saat Dunia Fiksi Nyata di Grammy

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id