Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

KPop Demon Hunters dan Rosé BLACKPINK: Saat Dunia Fiksi Nyata di Grammy

by dimas
Mei 8, 2026
in Culture, Musik
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Musik – Ada yang bilang Grammy itu kayak “Olimpiade musik” nggak semua bisa menang, tapi semua pengin tampil di sana. Nah, tahun ini (2026), Korea Selatan datang bukan cuma buat tampil, tapi buat nge-cheat level permainan: lewat film animasi dan lagu pop yang literally fiksi, tapi efeknya real banget.

Jumat tengah malam waktu Indonesia, Recording Academy ngumumin daftar nominasi Grammy Awards 2026. Dan boom dunia musik mendadak K-poptastik. Film animasi KPop Demon Hunters bikin sejarah dengan empat nominasi sekaligus, termasuk Song of the Year buat lagu Golden yang dibawain grup fiksi bernama HUNTR/X.

Yes, kamu nggak salah baca: grup fiksi. Tapi lagunya nyata, viral, dan berhasil masuk kategori yang biasanya diisi Lady Gaga, Billie Eilish, dan Kendrick Lamar.

Rosé BLACKPINK dan Bruno Mars, Kombinasi Seoul dan Soul

Kalau itu belum cukup bikin juri Grammy keringetan, Rosé BLACKPINK juga resmi naik kasta jadi “Grammy darling.” Lagu APT. bareng Bruno Mars dapet tiga nominasi, termasuk Song of the Year dan Record of the Year. Kombinasi Seoul dan Las Vegas ini kayak gabungan antara latte aesthetic dan funky soul manis tapi punya punch.

Dan dua lagu ini Golden dan APT. jadi lagu K-pop pertama yang masuk ke kategori utama Grammy, yang biasanya dijaga ketat oleh dominasi barat. Kalau BTS dulu sukses ngebuka pintu lewat “My Universe” bareng Coldplay, Rosé dan Demon Hunters sekarang kayak ngebanting pintunya sekalian.

Ini Belum Selesai

Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Kisah Raden Ronggo dari Madiun

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Ketika Dunia Fiksi dan Realitas Mulai Kabur

Tapi mari kita jujur: ini lebih dari sekadar prestasi musik. Ini simbol pergeseran budaya global. Dulu, K-pop dianggap sekadar fenomena fandom: glitter, fancam, dan koreografi sinkron. Sekarang, mereka bukan cuma tampil di Grammy, tapi juga menulis ulang peta kekuasaan pop.

Menariknya, Golden bahkan berasal dari film animasi. Dunia digital dan dunia nyata udah mulai kabur batasnya. Karakter fiksi bisa lebih “nyata” daripada artis manusia. Lagu dari grup virtual bisa masuk nominasi Grammy. Dan yang bikin mind-blowing: para penggemar nerima itu semua kayak “ya udah, biasa aja.”

Itu tandanya kita udah hidup di era di mana imajinasi bisa lebih valid dari realitas.

Masa Depan Musik: Antara AI, Emosi, dan Ironi

Rosé mungkin nyanyi dari hati, tapi HUNTR/X nyanyi dari kode CGI dan script animasi. Dan dua-duanya diterima sejajar. Ironinya? Di tengah dunia yang makin digital, justru yang paling manusiawi emosi, makna, dan koneksi jadi mata uang paling mahal.

Jadi, kalau nanti Golden beneran menang Grammy, jangan kaget kalau di tahun depan kategori baru muncul: Best AI-Created Performance atau Most Emotional Virtual Band. Karena siapa tahu, masa depan musik bukan lagi soal siapa yang menyanyi, tapi siapa yang bikin kita merasa hidup.

Sampai saat itu, mari kita nikmati absurditas yang indah ini: saat K-pop, Bruno Mars, dan karakter animasi bisa duduk satu meja di Grammy. Dunia memang aneh, tapi kadang, justru di situ letak serunya. @dimas

Tags: Budaya Pop

Kamu Melewatkan Ini

Bento, Bongkar, dan Generasi yang Masih Marah: Mengapa SWAMI Tak Pernah Usang?

Bento, Bongkar, dan Generasi yang Masih Marah: Mengapa SWAMI Tak Pernah Usang?

by teguh
Juni 21, 2026

Tiga puluh tujuh tahun setelah SWAMI merilis album debutnya pada 1989, “Bento” dan “Bongkar” masih terdengar seperti surat terbuka untuk...

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

by teguh
Juni 4, 2026

Suara mesin bus meraung memecah siang. Debu beterbangan mengikuti langkah para penumpang yang datang dan pergi di sebuah terminal. Matahari...

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

by teguh
Juni 2, 2026

"Musik Iwan Fals bukan sekadar hiburan pop. Ia adalah dokumen sosial yang mencatat trauma ketimpangan struktural dan salah satu karya...

Next Post
Qodari Usulkan Gibran Jadi Pahlawan Nasional? Serius Nih?

Qodari Usulkan Gibran Jadi Pahlawan Nasional? Serius Nih?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id