Di ruang-ruang pelayanan kesehatan, batas antara belajar dan bekerja sering kali tidak lagi terlihat jelas. Sistem menyebutnya sebagai pendidikan klinis, tetapi realitas di lapangan menghadirkan ritme kerja yang tidak selalu memberi ruang jeda bagi tubuh-tubuh muda yang menjalaninya.
Tabooo.id: Deep – Data sejumlah organisasi profesi kesehatan serta catatan evaluasi program internship menunjukkan tekanan kerja yang berulang pada dokter muda di berbagai daerah. Jam kerja panjang, minim supervisi, dan beban layanan di unit gawat darurat muncul sebagai pola yang terus ditemukan dalam berbagai laporan. Kementerian Kesehatan RI kini menelusuri kasus kematian dokter internship Myta Aprilia Azmi (25) di Jambi, yang sempat mendapat perawatan lanjutan di Palembang sebelum meninggal dunia.
Myta memulai masa internship di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, pada Agustus 2025. Ia langsung bertugas di Instalasi Gawat Darurat, salah satu ruang paling padat dalam sistem rumah sakit. Di sana, pasien datang tanpa pola, sementara keputusan medis harus diambil cepat di tengah situasi yang terus berubah.
IGD tidak hanya menuntut keterampilan klinis. Ruang ini juga menuntut ketahanan fisik dan mental. Myta menjalani ritme itu sebagai bagian dari proses pembentukan seorang dokter.
Kelelahan Yang Terus Menumpuk
Dalam beberapa bulan masa tugasnya, kondisi kesehatan Myta mulai menurun. Ia mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh serta sesak napas yang muncul di tengah jadwal kerja yang padat. Meski begitu, ia tetap menjalankan tugas di IGD.
Ia mengikuti sif, menangani pasien, dan tetap berada dalam alur kerja yang tidak memberi banyak ruang untuk berhenti. Dalam sistem internship, kondisi sakit sering tidak langsung menghentikan aktivitas kerja, terutama di unit layanan kritis.
Kondisi Memburuk dan Rujukan Medis
Ketika kondisi semakin berat, keluarga membawa Myta ke fasilitas kesehatan di Palembang. Tim medis menerima ia dalam keadaan kritis dan langsung menempatkannya di ruang ICU RSUP Mohammad Hoesin.
Dokter melakukan penanganan intensif dengan dukungan alat medis. Namun kondisi tubuhnya terus menurun hingga akhirnya ia meninggal pada 1 Mei 2026.
Secara medis, tim menyebut Tuberkulosis dalam kondisi lanjut sebagai diagnosis utama. Namun penjelasan tersebut tidak sepenuhnya menghentikan pertanyaan yang muncul di luar ruang perawatan.
Pola Yang Mulai Terlihat
Kasus Myta muncul di tengah laporan lain tentang kematian dokter internship di beberapa daerah dalam periode yang berdekatan. Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi hingga kondisi medis yang memburuk secara cepat.
Sejumlah organisasi profesi menyoroti pola tekanan kerja di IGD, minimnya supervisi, serta beban layanan yang tinggi. Dalam beberapa evaluasi, kondisi tersebut berulang muncul sebagai faktor yang perlu perhatian lebih serius dalam sistem pendidikan klinis.
Investigasi Yang Masih Berjalan
Kementerian Kesehatan RI melakukan investigasi menyeluruh terhadap kasus ini. Proses penelusuran mencakup tata kelola rumah sakit, pola kerja dokter internship, serta sistem supervisi yang berjalan di lapangan. Otoritas juga meninjau kemungkinan evaluasi terhadap wahana pendidikan tempat Myta bertugas.
Hingga kini, hasil akhir investigasi belum dipublikasikan ke publik. Situasi ini membuat berbagai pihak masih menunggu kejelasan atas peristiwa yang terjadi.
Paradoks Sistem Pendidikan Klinis
Program internship dirancang untuk membentuk dokter yang siap menghadapi dunia kerja nyata. Namun dalam praktiknya, sistem ini sering berjalan di antara dua kepentingan: pendidikan dan pelayanan.
Ketika kebutuhan layanan tinggi bertemu dengan keterbatasan pengawasan, dokter muda berada di posisi yang rentan. Mereka belajar sambil bekerja, tetapi tidak selalu memiliki ruang yang cukup untuk memulihkan diri.
Penutup
Kisah Myta tidak berhenti sebagai satu kasus medis. Peristiwa ini membuka kembali pertanyaan tentang bagaimana sistem kesehatan memperlakukan mereka yang sedang belajar menjadi dokter.
Di balik ruang IGD yang terus bekerja tanpa henti, tersisa satu pertanyaan yang belum selesai dijawab: apakah sistem ini sudah benar-benar memberi ruang aman bagi mereka yang sedang dibentuk di dalamnya? @dimas





