Selasa, Mei 5, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Dari Mimpi Mengabdi ke Duka Keluarga: Kisah Tragis Dokter Myta

by dimas
Mei 5, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter
Kisah dokter muda Myta Aprilia Azmy kini bukan sekadar duka keluarga, melainkan cermin keras tentang realitas di balik pengabdian tenaga kesehatan muda di Indonesia. Di usia 25 tahun, ia membawa dua mimpi sekaligus menggantikan peran ayahnya sebagai tulang punggung keluarga dan kembali mengabdi di pelosok kampung halamannya di Ogan Komering Ulu Selatan. Namun perjalanan itu berhenti sebelum sempat ia wujudkan.

Tabooo.id: Life – Di balik kabar wafatnya dokter magang Myta Aprilia Azmy, tersimpan cerita tentang janji seorang anak kepada ayahnya yang sakit dan tekad mengabdi untuk daerah yang kekurangan tenaga medis. Ketika ia meninggal setelah menjalani perawatan intensif, kisah hidupnya membuka ruang refleksi lebih luas: tentang pengabdian, tekanan dalam sistem magang kedokteran, serta mimpi anak muda yang ingin kembali melayani wilayah pelosok.

Di sebuah rumah sederhana di Kecamatan Muaradua, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan, mimpi seorang anak tentang pengabdian di dunia kesehatan kini tinggal kenangan. Dokter muda Myta Aprilia Azmy (25) pernah berjanji pada dirinya sendiri: ia ingin menggantikan peran ayahnya sebagai kepala keluarga sekaligus mengabdi bagi masyarakat di daerah pelosok tempat ia tumbuh.

Namun janji itu berhenti di tengah jalan.

Myta menjalani program dokter magang di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Ia meninggal pada Jumat (1/5/2026) setelah dokter merawatnya secara intensif di RSUP Mohammad Hoesin, Palembang. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga sekaligus memunculkan pertanyaan tentang kondisi kerja dokter magang di Indonesia.

Di balik kabar wafatnya itu, tersimpan kisah tentang seorang anak yang ingin membalas perjuangan orang tuanya.

Ini Belum Selesai

Menahan Sperma Demi Energi? Atau Melepasnya Demi Prostat?

Sampai Kapan Guru Honorer dan PPPK Paruh Waktu Mengajar Tanpa Kepastian?

Janji pada ayah yang sakit

Bagi Myta, profesi dokter bukan sekadar cita-cita. Ia memandang profesi itu sebagai tanggung jawab keluarga.

Pamannya, Febrinata Mahadika, mengenang percakapan terakhir tentang rencana hidup Myta. Ia ingin segera bekerja setelah menyelesaikan program magangnya agar ayahnya tidak lagi harus bekerja.

Ayah Myta, Khadriatul Azmy, bekerja sebagai perawat di Puskesmas Buay Runjung, OKU Selatan. Ia dua kali mengalami pendarahan otak akibat tekanan darah tinggi—pertama sekitar tiga tahun lalu dan kembali kambuh setahun terakhir.

Peristiwa itu menguatkan tekad Myta.

Ia ingin menjadi penopang keluarga.

“Tiga tahun lalu saat Myta masih koas, ayahnya mengalami pendarahan otak. Sejak itu Myta ingin cepat menyelesaikan pendidikan dan bekerja agar bisa menggantikan ayahnya sebagai kepala keluarga,” ujar Febrinata.

Program magang Myta sebenarnya akan berakhir pada Agustus 2026. Ia hanya membutuhkan beberapa bulan lagi untuk memulai karier sebagai dokter.

Namun kesempatan itu tidak pernah datang.

Tumbuh dari keluarga tenaga kesehatan

Myta tumbuh dalam keluarga sederhana yang dekat dengan dunia pelayanan kesehatan. Ayah dan ibunya sama-sama bekerja sebagai perawat di puskesmas wilayah pedalaman OKU Selatan.

Ayahnya bertugas di Buay Runjung, sedangkan ibunya, Okta Yusri, melayani pasien di Puskesmas Mekakau Ilir. Setiap hari mereka menempuh perjalanan melalui jalan perbukitan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat desa.

Sejak kecil Myta menyaksikan pengabdian itu.

Pengalaman tersebut menumbuhkan keinginannya menjadi dokter.

Pada 2019 ia masuk Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana kedokteran pada 2023, lalu melanjutkan pendidikan profesi dokter hingga 2025. Setelah itu ia menjalani program internship di Jambi sejak Agustus 2025.

Selain bercita-cita menjadi dokter spesialis, Myta juga ingin kembali ke Muaradua.

Wilayah itu masih membutuhkan pemerataan layanan kesehatan.

“Dia ingin suatu hari kembali ke sana, lebih dekat dengan keluarga sekaligus membantu masyarakat,” kata Febrinata.

Sosok yang tidak pernah mengeluh

Keluarga dan teman-temannya mengenal Myta sebagai pribadi ramah, mandiri, dan tidak suka menyusahkan orang lain.

Meski memiliki paman seorang dokter spesialis, ia tidak pernah memanfaatkan hubungan tersebut untuk mempermudah studinya.

Ia memilih menghadapi semua tantangan sendiri.

Bahkan ketika sakit, Myta tetap menunjukkan sikap yang sama.

Saat kondisinya semakin lemah karena sesak napas dan ia membutuhkan bantuan oksigen, Myta masih berusaha menyalami orang-orang yang datang menjenguknya.

“Padahal saat itu kondisinya sudah sangat lemah,” kata Febrinata.

Dugaan beban kerja berlebih

Kepergian Myta memunculkan dugaan adanya beban kerja berlebih selama program internship.

Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya mencatat Myta bertugas di instalasi gawat darurat dengan jam kerja sekitar 12 jam setiap hari. Jam kerja itu sering bertambah jika pasien yang ia tangani belum selesai saat pergantian sif.

Padahal Kementerian Kesehatan menetapkan jam kerja dokter magang sekitar 40–48 jam per minggu atau rata-rata delapan jam per hari.

Kelelahan berkepanjangan diduga memperburuk kondisi kesehatannya.

Myta sempat mengalami batuk dan sesak napas. Dokter kemudian menemukan bahwa ia menderita tuberkulosis (TBC). Ketika kondisinya memburuk, keluarga membawa Myta ke Palembang untuk mendapatkan perawatan intensif.

Namun kondisinya terus menurun hingga akhirnya ia meninggal.

Alarm bagi sistem magang dokter

Kasus Myta bukan satu-satunya.

Sepanjang awal 2026, sedikitnya empat dokter magang meninggal dunia dalam rentang tiga bulan di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa kasus berkaitan dengan penyakit serius yang muncul selama masa tugas mereka.

Keluarga Myta berharap pemerintah melakukan investigasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami berharap tidak ada Myta-Myta lainnya. Semoga peristiwa ini menjadi evaluasi agar program dokter magang bisa lebih baik lagi,” kata Febrinata.

Kini mimpi Myta untuk mengabdi di pelosok Muaradua tidak pernah benar-benar dimulai.

Namun kisahnya meninggalkan satu pesan kuat: pengabdian sering lahir dari keluarga sederhana yang percaya bahwa merawat sesama adalah panggilan hidup. @dimas

Tags: alarm kedokteranBeban Kerja Dokterdokter magangdokter mytainternship kedokterankrisis dokter mudapengabdian dokterSistem Kesehatantenaga kesehatan

Kamu Melewatkan Ini

Dokter Semakin Banyak, Tapi Mengapa Kesejahteraan Semakin Tipis?

Dokter Semakin Banyak, Tapi Mengapa Kesejahteraan Semakin Tipis?

by dimas
Mei 5, 2026

Tidak ada sirene darurat. Tidak ada antrean pasien yang membludak di lorong rumah sakit. Yang ada justru sesuatu yang lebih...

Dokter Internship Tanpa Libur, Apakah Sistem Kesehatan Mengorbankan Dokter Muda?

Dokter Internship Tanpa Libur, Apakah Sistem Kesehatan Mengorbankan Dokter Muda?

by dimas
Mei 3, 2026

Seorang dokter muda meninggal di tengah masa pengabdian seharusnya menjadi alarm keras bagi sistem kesehatan. Namun ketika muncul laporan tentang...

Dokter Muda Dipaksa Kerja Saat Sakit hingga Meninggal, Di Mana Perlindungan Negara?

Dokter Muda Dipaksa Kerja Saat Sakit hingga Meninggal, Di Mana Perlindungan Negara?

by dimas
Mei 3, 2026

Kematian seorang dokter muda di tengah pengabdian seharusnya tidak menjadi bagian dari cerita sistem kesehatan. Namun ketika laporan menyebut jam...

Next Post
Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Pilihan Tabooo

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Mei 3, 2026

Realita Hari Ini

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Mei 5, 2026

Jurnalis di Papua Terus Diteror, Kebebasan Pers Masih Sekadar Janji?

Mei 5, 2026

Virus Langka Pecah di Laut: 3 Tewas, Dunia Mulai Khawatir

Mei 5, 2026

Saat Dunia Guncang, Barito Pacific Justru Tancap Gas 200% Lebih

Mei 5, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id