Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sampai Kapan Guru Honorer dan PPPK Paruh Waktu Mengajar Tanpa Kepastian?

by dimas
Mei 3, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Semangat pengabdian guru sering dipuji sebagai fondasi pendidikan. Namun ketika para pendidik masih harus bertahan dengan penghasilan minim, jam mengajar yang tidak diakui, hingga status kerja yang tak pasti, pertanyaan yang muncul bukan hanya tentang dedikasi pribadi, melainkan tentang sejauh mana sistem pendidikan benar-benar melindungi mereka yang setiap hari mencerdaskan generasi bangsa.

Tabooo.id: Life – Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026 kembali menyoroti realitas yang dihadapi banyak guru di daerah. Di tengah keterbatasan kesejahteraan dan berbagai persoalan administratif, sebagian guru tetap memilih bertahan mengajar bahkan setelah bertahun-tahun mengabdi. Kisah mereka memperlihatkan bahwa di balik ruang kelas sederhana, dedikasi panjang para guru sering berjalan berdampingan dengan dilema kesejahteraan.

Pengabdian Panjang yang Belum Sepenuhnya Terjawab

Kenanga (35), guru PPPK paruh waktu di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, merasakan langsung situasi tersebut. Ia mengajar selama 15 tahun sebagai guru honorer sebelum akhirnya menerima surat keputusan pengangkatan sebagai PPPK paruh waktu pada akhir 2025.

Pengangkatan itu sempat membawa harapan baru. Gaji yang sebelumnya sekitar Rp400 ribu per bulan meningkat menjadi sekitar Rp1,1 juta. Di Kabupaten Kediri, pemerintah daerah menetapkan gaji kotor guru PPPK paruh waktu sebesar Rp1.120.000 per bulan dengan gaji bersih sekitar Rp1.026.000.

Namun persoalan baru muncul setelah pengangkatan tersebut. Pihak sekolah sudah memenuhi kebutuhan jam mengajar guru kelas, sehingga Kenanga tidak memperoleh kelas utama.

Kenanga memiliki dua ijazah, yaitu PGSD dan S-1 Bahasa Inggris. Karena tidak mendapat kelas sebagai guru kelas, ia akhirnya menggunakan ijazah Bahasa Inggrisnya.

Ini Belum Selesai

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

Dua Penyandang Disabilitas Masuk Dunia Kerja, Kesempatan Jadi Nyata

“Saya akhirnya menggunakan ijazah Bahasa Inggris saya. Sertifikasi saya nanti juga bahasa Inggris,” kata Kenanga, Sabtu (2/5/2026).

Masalah lain kemudian muncul. Pelajaran bahasa Inggris di kelas 1 dan 2 SD tidak dihitung sebagai jam mengajar formal. Kondisi ini membuat jumlah jam mengajar Kenanga tidak memenuhi syarat pencairan tunjangan sertifikasi guru.

“Duka saya setelah 15 tahun mengajar sebagai guru kelas, saat diangkat jadi PPPK paruh waktu justru tidak mendapatkan kelas. Jam mengajar kurang, akhirnya sertifikasi saya tidak cair,” ujarnya.

Selama sekitar tujuh bulan terakhir, ia masih menunggu kepastian pencairan sertifikasi tersebut. Padahal tugas yang ia jalankan sama dengan guru lain yang mengajar penuh waktu.

Mengajar Siang, Les Hingga Malam

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Kenanga tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh dedikasi. Ia pulang dari sekolah sekitar pukul 15.00 WIB. Setelah itu, ia mengajar les privat dengan mendatangi rumah murid satu per satu hingga sekitar pukul 20.00 WIB.

Malam hari, ia kembali menjalankan peran sebagai ibu dan istri. Ia juga menyiapkan bahan ajar untuk kegiatan belajar keesokan harinya.

“Ya dijalani saja, karena memang saya guru. Guru itu senang kalau anak didiknya berhasil semua. Saya tidak pernah kepikiran bekerja di luar guru,” katanya sambil tersenyum.

Memilih Tetap Mengabdi di Daerah

Kisah pengabdian serupa muncul dari Malang Selatan. Muzeki (35), guru honorer di MTs Assalam, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, mengajar sejak 2013.

Berbeda dengan banyak guru lain yang mencoba mengikuti seleksi PPPK, Muzeki memilih tetap menjadi guru honorer di daerahnya. Ia khawatir jika mengikuti program tersebut dan ditempatkan di luar daerah, murid-murid di Malang Selatan kehilangan pendamping belajar.

“Saya khawatir kalau saya pergi, nanti siapa yang mendampingi mereka belajar. Jangan sampai mereka akhirnya memilih berhenti sekolah,” ujarnya.

Selain mengajar, Muzeki mendirikan komunitas literasi bernama Galeri Kreatif di wilayah Bantur. Komunitas ini menjadi ruang belajar bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat, minat, serta mendapatkan pendampingan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Tahun ini, sebanyak 14 anak dari wilayah Malang Selatan mendaftar kuliah. Sebagian dari mereka bahkan bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga.

Sebelumnya, sebagian besar anak di wilayah itu hanya melanjutkan pendidikan hingga jenjang SD atau SMP.

Harapan bagi Kesejahteraan Guru

Muzeki mengajar di dua sekolah, yaitu MTs Assalam dan SMK Assalam. Dari kedua sekolah tersebut, ia menerima penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan.

Meski jumlah tersebut jauh dari kata cukup, ia tetap bersyukur karena dapat terus mendampingi anak-anak di daerahnya untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi.

Menurutnya, apa pun status guru baik PNS, PPPK, maupun honorer tugasnya tetap sama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Karena itu, ia berharap pemerintah memberi perhatian yang lebih luas terhadap kesejahteraan guru, termasuk guru swasta yang selama ini turut memikul tanggung jawab pendidikan.

“Tugas kami sama, mendidik generasi penerus bangsa. Kalau boleh berharap, kesejahteraan guru swasta juga diperhatikan,” katanya.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan penghasilan, kisah Kenanga dan Muzeki menunjukkan satu hal yang tetap kuat: semangat pengabdian guru di daerah masih menyala. Namun tanpa kebijakan yang lebih berpihak, dedikasi tersebut berisiko terus berjalan berdampingan dengan persoalan kesejahteraan yang tak kunjung selesai. @dimas

Tags: Guru HonorerHardiknasHari Pendidikan NasionalMasa DepanNasib GuruNasionalPendidikanPendidikan Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

by teguh
Agustus 21, 2026

Pagi di SDN 2 Najaten, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, dimulai dengan buku. Selama sekitar 30 menit anak-anak Najaten melawan jarak,...

30 Menit Melawan Jarak: Ketika Akses Buku Belum Merata di Sekolah Pelosok

30 Menit Melawan Jarak: Ketika Akses Buku Belum Merata di Sekolah Pelosok

by teguh
Agustus 21, 2026

Pagi di SDN 2 Najaten, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, dimulai dengan aktivitas sederhana. Dibalik akses buku belum merata Sekitar 30...

Masuk Kampus Ada Jalurnya. Masuk KPK Juga Ternyata Ada Jalurnya

Masuk Kampus Ada Jalurnya. Masuk KPK Juga Ternyata Ada Jalurnya

by teguh
Agustus 21, 2026

Masuk kampus punya jalur. Ada jalur prestasi, jalur tes, sampai jalur mandiri. Namun, Kamis, 20/08/2026, publik melihat jalur lain di...

Next Post
Dokter Internship Tanpa Libur, Apakah Sistem Kesehatan Mengorbankan Dokter Muda?

Dokter Internship Tanpa Libur, Apakah Sistem Kesehatan Mengorbankan Dokter Muda?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id