Rabu, Oktober 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hardiknas 2026: Pendidikan “Untuk Semua” atau Sekadar Slogan yang Tak Nyata?

by dimas
Mei 2, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Setiap 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional kembali hadir sebagai ritual tahunan yang rapi upacara, pidato, dan seruan tentang “pendidikan untuk semua”. Tapi di balik itu, selalu ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar terjawab apakah pendidikan Indonesia benar-benar bergerak maju, atau justru berjalan di tempat dengan ketimpangan yang semakin melebar?

Tabooo.id: Deep – Hardiknas bukan hanya peringatan lahirnya Ki Hadjar Dewantara, tetapi jejak panjang perlawanan terhadap sistem pendidikan yang dulu tertutup dan hanya bisa diakses segelintir orang. Ia lahir dari gagasan bahwa pendidikan harus membebaskan, bukan membatasi. Namun hari ini, realitas menunjukkan hal berbeda. Skor literasi, numerasi, dan kesenjangan fasilitas antarwilayah masih lebar. Pertanyaannya makin tajam: apakah semangat itu masih hidup, atau sudah berubah menjadi seremoni tahunan tanpa perubahan nyata?

Pendidikan bermutu untuk semua kembali digaungkan pada Hardiknas 2026. Namun data justru menunjukkan arah yang berbeda. Hasil belajar siswa Indonesia masih tertinggal dari standar global. Pertanyaan yang tersisa sederhana tapi keras: sampai kapan janji ini bertahan tanpa diwujudkan?

Refleksi Hardiknas: Antara Janji Dan Realitas

Peringatan Hardiknas, Sabtu (2/5/2026), kembali membuka ruang refleksi atas kondisi pendidikan nasional. Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru, Satriwan Salim, menegaskan bahwa pendidikan bermutu tidak boleh berhenti sebagai slogan.

Ia menekankan perlunya perubahan nyata dalam ekosistem pendidikan.

“Ekosistem pendidikan harus dibangun secara serius untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di semua jenjang, termasuk wilayah 3T,” ujarnya.

Ini Belum Selesai

Starbucks Global Pangkas Gerai, Lalu Indonesia?

Membaca Pengamanan Demo Dua Tahun Prabowo–Gibran: Jalan Dijaga, Suara Diawasi?

Ketertinggalan Yang Terukur Jelas

Sejumlah asesmen internasional menempatkan Indonesia masih jauh di belakang. Hasil PISA 2022 mencatat skor matematika 366, literasi 359, dan sains 383.

Semua angka itu masih berada di bawah rata-rata global yang melampaui 470. Kesenjangan ini menunjukkan jarak kompetensi yang belum menyempit.

Situasi ini juga tidak banyak berubah sejak Indonesia mengikuti PISA lebih dari dua dekade lalu. Perbaikan signifikan belum muncul.

Hal serupa terlihat pada TIMSS 2015. Indonesia hanya menempati posisi 44 dari 49 negara.

Data Domestik Yang Belum Bergerak

Di dalam negeri, masalah serupa muncul dalam hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA). Data menunjukkan persoalan mendasar yang belum terselesaikan.

Rata-rata nilai matematika SMA hanya mencapai 36,1. Sementara Bahasa Indonesia berada di angka 55,38.

Angka ini memperlihatkan bahwa literasi dan numerasi masih menjadi pekerjaan besar yang belum terselesaikan.

Satriwan menilai kondisi ini tidak hanya soal angka. Ia melihatnya sebagai persoalan daya saing bangsa.

“Kalau kita tidak membenahi ini, kita akan kesulitan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah,” ujarnya.

Masalah Yang Lebih Dalam Dari Sekadar Nilai

Guru Besar UPI Dasim Budimansyah melihat persoalan yang lebih dalam. Ia menilai sistem pendidikan masih terlalu menekankan transfer pengetahuan.

Ia menyoroti lemahnya pembentukan karakter dalam proses pendidikan.

“Kita mungkin berhasil mencetak siswa yang tahu, tetapi gagal membentuk warga yang bertanggung jawab,” katanya.

Debat Arah Anggaran Pendidikan

Perdebatan juga muncul dari sisi kebijakan anggaran. Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menyoroti arah penggunaan dana pendidikan.

Ia mempertanyakan perluasan definisi anggaran pendidikan yang mulai mencakup program di luar inti pendidikan.

“Apakah semua program yang menyasar siswa bisa langsung dihitung sebagai anggaran pendidikan?” ujarnya dalam sidang di Mahkamah Konstitusi.

Arah Sistem Yang Masih Dipertanyakan

Masalah pendidikan Indonesia tidak berhenti pada angka. Masalah utamanya terletak pada arah sistem.

Apakah sistem pendidikan benar-benar membangun kualitas, atau justru hanya mengejar laporan yang terlihat rapi di atas kertas?

Human Impact

Di balik data dan kebijakan, realitas berjalan berbeda. Jutaan siswa masih belajar dengan fasilitas terbatas.

Guru menjalankan tugas dengan beban kerja tinggi. Banyak sekolah masih kekurangan sarana dasar yang layak.

Mereka bukan sekadar angka. Mereka adalah wajah nyata dari sistem yang sedang diuji.

Penutup

Hardiknas seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia perlu menjadi momen jujur untuk menilai arah pendidikan.

Apakah pendidikan Indonesia benar-benar bergerak maju, atau hanya mengulang narasi yang sama dengan istilah yang lebih rapi?

Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar skor tetapi masa depan satu generasi. @dimas

Tags: Hardiknas 2026Hari Pendidikan NasionalKetimpangan PendidikanLiterasi IndonesiaPendidikan IndonesiaReformasi Pendidikan

Kamu Melewatkan Ini

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

by teguh
Oktober 13, 2026

Wacana tinggal kelas kembali membuka perdebatan tentang mutu pendidikan Indonesia. Sebelum meminta siswa mengulang pelajaran, pemerintah perlu memastikan sekolah mampu...

Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas pada 2027? DPR Minta Kajian

Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas pada 2027? DPR Minta Kajian

by teguh
Oktober 13, 2026

Wacana siswa tidak otomatis naik kelas mulai 2027 kembali memantik perdebatan tentang mutu pendidikan Indonesia. Wakil Ketua Komisi X DPR...

Sekolah Tempat Belajar, Bukan Tempat Anak Pulang Membawa Luka

Sekolah Tempat Belajar, Bukan Tempat Anak Pulang Membawa Luka

by dimas
Oktober 9, 2026

Sekolah seharusnya menjadi tempat belajar yang aman bagi anak. Dugaan perundungan terhadap bocah 7 tahun di Pemalang menjadi alarm bagi...

Next Post
Pendidikan Gratis di Indonesia: Solusi atau Sekadar Slogan Politik?

Pendidikan Gratis di Indonesia: Solusi atau Sekadar Slogan Politik?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id