Sabtu, Mei 2, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Hardiknas 2026: Pendidikan “Untuk Semua” atau Sekadar Slogan yang Tak Nyata?

by dimas
Mei 2, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Setiap 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional kembali hadir sebagai ritual tahunan yang rapi upacara, pidato, dan seruan tentang “pendidikan untuk semua”. Tapi di balik itu, selalu ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar terjawab apakah pendidikan Indonesia benar-benar bergerak maju, atau justru berjalan di tempat dengan ketimpangan yang semakin melebar?

Tabooo.id: Deep – Hardiknas bukan hanya peringatan lahirnya Ki Hadjar Dewantara, tetapi jejak panjang perlawanan terhadap sistem pendidikan yang dulu tertutup dan hanya bisa diakses segelintir orang. Ia lahir dari gagasan bahwa pendidikan harus membebaskan, bukan membatasi. Namun hari ini, realitas menunjukkan hal berbeda. Skor literasi, numerasi, dan kesenjangan fasilitas antarwilayah masih lebar. Pertanyaannya makin tajam: apakah semangat itu masih hidup, atau sudah berubah menjadi seremoni tahunan tanpa perubahan nyata?

Pendidikan bermutu untuk semua kembali digaungkan pada Hardiknas 2026. Namun data justru menunjukkan arah yang berbeda. Hasil belajar siswa Indonesia masih tertinggal dari standar global. Pertanyaan yang tersisa sederhana tapi keras: sampai kapan janji ini bertahan tanpa diwujudkan?

Refleksi Hardiknas: Antara Janji Dan Realitas

Peringatan Hardiknas, Sabtu (2/5/2026), kembali membuka ruang refleksi atas kondisi pendidikan nasional. Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru, Satriwan Salim, menegaskan bahwa pendidikan bermutu tidak boleh berhenti sebagai slogan.

Ia menekankan perlunya perubahan nyata dalam ekosistem pendidikan.

“Ekosistem pendidikan harus dibangun secara serius untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di semua jenjang, termasuk wilayah 3T,” ujarnya.

Ini Belum Selesai

Sertifikasi Guru Naik, Pendidikan Ikut Naik? Ini Program Atau Ini Arah Sistem?

Singkong Keju: Murah di Ladang, Mahal di Etalase, Berbahaya di Dapur

Ketertinggalan Yang Terukur Jelas

Sejumlah asesmen internasional menempatkan Indonesia masih jauh di belakang. Hasil PISA 2022 mencatat skor matematika 366, literasi 359, dan sains 383.

Semua angka itu masih berada di bawah rata-rata global yang melampaui 470. Kesenjangan ini menunjukkan jarak kompetensi yang belum menyempit.

Situasi ini juga tidak banyak berubah sejak Indonesia mengikuti PISA lebih dari dua dekade lalu. Perbaikan signifikan belum muncul.

Hal serupa terlihat pada TIMSS 2015. Indonesia hanya menempati posisi 44 dari 49 negara.

Data Domestik Yang Belum Bergerak

Di dalam negeri, masalah serupa muncul dalam hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA). Data menunjukkan persoalan mendasar yang belum terselesaikan.

Rata-rata nilai matematika SMA hanya mencapai 36,1. Sementara Bahasa Indonesia berada di angka 55,38.

Angka ini memperlihatkan bahwa literasi dan numerasi masih menjadi pekerjaan besar yang belum terselesaikan.

Satriwan menilai kondisi ini tidak hanya soal angka. Ia melihatnya sebagai persoalan daya saing bangsa.

“Kalau kita tidak membenahi ini, kita akan kesulitan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah,” ujarnya.

Masalah Yang Lebih Dalam Dari Sekadar Nilai

Guru Besar UPI Dasim Budimansyah melihat persoalan yang lebih dalam. Ia menilai sistem pendidikan masih terlalu menekankan transfer pengetahuan.

Ia menyoroti lemahnya pembentukan karakter dalam proses pendidikan.

“Kita mungkin berhasil mencetak siswa yang tahu, tetapi gagal membentuk warga yang bertanggung jawab,” katanya.

Debat Arah Anggaran Pendidikan

Perdebatan juga muncul dari sisi kebijakan anggaran. Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menyoroti arah penggunaan dana pendidikan.

Ia mempertanyakan perluasan definisi anggaran pendidikan yang mulai mencakup program di luar inti pendidikan.

“Apakah semua program yang menyasar siswa bisa langsung dihitung sebagai anggaran pendidikan?” ujarnya dalam sidang di Mahkamah Konstitusi.

Arah Sistem Yang Masih Dipertanyakan

Masalah pendidikan Indonesia tidak berhenti pada angka. Masalah utamanya terletak pada arah sistem.

Apakah sistem pendidikan benar-benar membangun kualitas, atau justru hanya mengejar laporan yang terlihat rapi di atas kertas?

Human Impact

Di balik data dan kebijakan, realitas berjalan berbeda. Jutaan siswa masih belajar dengan fasilitas terbatas.

Guru menjalankan tugas dengan beban kerja tinggi. Banyak sekolah masih kekurangan sarana dasar yang layak.

Mereka bukan sekadar angka. Mereka adalah wajah nyata dari sistem yang sedang diuji.

Penutup

Hardiknas seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia perlu menjadi momen jujur untuk menilai arah pendidikan.

Apakah pendidikan Indonesia benar-benar bergerak maju, atau hanya mengulang narasi yang sama dengan istilah yang lebih rapi?

Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar skor tetapi masa depan satu generasi. @dimas

Tags: Hardiknas 2026Hari Pendidikan NasionalKetimpangan PendidikanKualitas PendidikanLiterasi IndonesiaPendidikan BermutuPendidikan IndonesiaReformasi PendidikanTIMSS Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Pendidikan Gratis di Indonesia: Solusi atau Sekadar Slogan Politik?

Pendidikan Gratis di Indonesia: Solusi atau Sekadar Slogan Politik?

by dimas
Mei 2, 2026

Setiap musim politik datang, satu kata selalu diulang seperti mantra gratis. Gratis sekolah, gratis seragam, gratis buku. Tapi di balik...

Hardiknas 2026: Seremoni Selesai, Reformasi Dimulai?

Hardiknas 2026: Seremoni Selesai, Reformasi Dimulai?

by Waras
Mei 2, 2026

Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 bukan lagi soal upacara. Pemerintah menggunakannya sebagai titik balik kebijakan: menggeser pendidikan dari simbol tahunan...

Hari Pendidikan Nasional: Merayakan Kemajuan atau Menutupi Ketimpangan?

Hari Pendidikan Nasional: Merayakan Kemajuan atau Menutupi Ketimpangan?

by dimas
Mei 2, 2026

Papua dan berbagai wilayah terpencil di Indonesia masih menghadapi ketimpangan akses pendidikan yang nyata di tengah gencarnya agenda transformasi pendidikan...

Next Post
Pendidikan Gratis di Indonesia: Solusi atau Sekadar Slogan Politik?

Pendidikan Gratis di Indonesia: Solusi atau Sekadar Slogan Politik?

Pilihan Tabooo

Siti Mawarni: Lagu yang Lembut di Nada, Tapi Tajam Menampar Realita Narkoba

Siti Mawarni: Lagu yang Lembut di Nada, Tapi Tajam Menampar Realita Narkoba

April 27, 2026

Realita Hari Ini

Buruh Kepung Monas, Presiden Turun Kasi 'Kado'?

Buruh Kepung Monas, Presiden Turun Kasi “Kado”?

Mei 1, 2026

May Day Suram di Jabar: 20.536 Buruh Kena PHK, Ada Apa dengan Industri?

Mei 2, 2026

Hari Buruh Internasional: Dulu Dilawan, Sekarang Dilupakan

April 17, 2026

May Day di DPR: Buruh Menagih Hak Bicara dalam UU Ketenagakerjaan

Mei 1, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id