Smart city sekarang terdengar canggih: penuh aplikasi, dashboard digital, dan proyek kota masa depan. Tapi setiap hujan deras datang, banyak kota modern langsung chaos. Ironisnya, ratusan tahun lalu leluhur kita justru sudah memahami cara mengatur air dan membangun kota tanpa harus memusuhi alam.
Tabooo.id: Smart city sekarang keren banget.
Ada CCTV AI.
Ada command center.
Lalu ada dashboard digital.
Bahkan ada aplikasi laporan warga.
Tapi begitu hujan tiga jam, kota langsung berubah jadi waterpark dadakan.
Ironisnya, ratusan tahun lalu Majapahit justru sudah ngerti satu hal yang sering gagal dipahami kota modern:
air itu gak bisa disuruh diam.
Kota Modern Suka Beton, Alam Suka Balas Dendam
Hari ini banyak kota sibuk ngejar istilah:
waterfront city,
superblock,
kawasan premium,
smart living.
Artinya sering sederhana:
semua yang hijauberiubah jadi beton mahal.
Rawa ditimbun.
Sungai dipersempit.
Tanah resapan diaspal.
Lalu pemerintah bikin seminar soal sustainability sambil kota perlahan tenggelam.
Majapahit mungkin bakal bingung lihat ini.
Karena mereka justru membangun kanal, waduk, dan sistem distribusi air yang mengikuti cara alam bekerja.
Bukan melawannya demi brosur investasi.
Smart City Modern Kadang Cuma WiFi + Banjir
Ada obsesi lucu dalam pembangunan modern:
asal digital, berarti maju.
Padahal:
WiFi kencang tidak otomatis bikin drainase pintar.
Aplikasi laporan banjir juga gak banyak membantu kalau airnya memang sudah kehilangan tempat pulang.
Kita sibuk bikin kota “smart”.
Tapi lupa bikin kota tetap bisa bernapas.
Leluhur Tak Punya AI, Tapi Punya Akal Lingkungan
Sriwijaya menyesuaikan tata kota dengan rawa pasang surut. Bali membangun Subak berbasis musyawarah dan distribusi air yang adil.
Sementara sekarang?
Air sering kalah cepat dari proyek properti.
Lucunya, manusia modern suka menyebut leluhur sebagai “kuno”.
Padahal mereka hidup ratusan tahun tanpa krisis ekologis separah hari ini.
Kita Modern, Tapi Sering Kehilangan Logika Dasar
Kota makin tinggi.
Udara makin panas.
Ruang hijau makin hilang.
Manusia makin stres.
Tapi brosur smart city tetap terlihat indah.
Mungkin karena modernitas terlalu sibuk menjual masa depan sampai lupa belajar dari masa lalu.
Dan mungkin, masalah terbesar kota modern bukan kurang teknologi.
Tapi terlalu banyak orang pintar yang lupa cara mendengarkan alam.
Majapahit gak punya aplikasi anti-banjir.
Tapi setidaknya mereka gak membangun kota sambil pura-pura lupa kalau air selalu mencari jalannya sendiri. @waras



